Awal Tahun Baru Penuh Kemenangan Suka cita tiada tara di dalam hatiku Januari datang tahun berganti Mengerjakan hal-hal baru Membuang apa yang

Bertaruh Kelebat Nenek beritahu cucumu jika rumah digeledah kamar tempat puisi-puisi disimpan dan kangen diletakkan rapi dalam alamat kepergian   kirimi surat

Percakapan di Desa / kemudian, sejenak percakapan surut pion-pion catur tumbang angin kecil dari tenggara merapat ke sisi mataku menerka, bunga-bunga mekar

Terbang Ke Langit Setiap kali burung merpati melingkar di mataku Rasanya aku juga ingin terbang bersamanya   Tapi tidak dengan burung itu,

  Kaum Terbuang Kaum terbuang rela dibikin debu Rumah mereka ditebang Kaos mereka menyangkut dipinggir kali Dan menjadi reruntuhan gedung lama Mereka

  Kapitalis Seperti purnama sudah gerhana tapi ombak tak bertepi, kau kapitalis! Puisi dan Kopi Puisi itu kopi hidangan pada pesta rakyat

  Jam Beker Tua Rumah kuno dari tahun 1950-an Peninggalan kakek-nenek Kakekku pensiunan pegawai pos Nenekku juru rias di keraton   Beker

  Menyulam Doa Apa yang kau ragu dengan takdir-Nya? bahkan embun pun jatuh atas persetujuan Tuhan   Apa yang kau ragu dengan

  Gunung Meletus Sasmita Alam Lahar muntah dari kepundan Membanjiri sungai dan dataran Manusia panik bahaya datang Alam murka tak ada yang

  Tangis Leuser Leuser menangis dalam isak tak terkira Mendesah karena pohon yang tumbang dan ranting dicincang Sungai yang dulu biru, gemercik

  Ketika Lelaki Itu Jatuh ketika lelaki itu jatuh menuju lembah tempat aku bermula menyanyikan kidung kidung kembara tak apa jika kau

  Sajak Bisu Angin menampar malamku meneriaki hujan di jalan bebatuan yang terbentang kering memaraukan suara hati sajakku rebah di pucuk malam.

  Pesan Nenek di Hari Raya Terngiang-ngiang di telinga Pesan nenek saat Hari Raya Agar aku berjuang segigih-gigihnya Menghadapi hidup penuh tantangan

  Gunung Agung Murka Alam penuh misteri Manusia tidak tahu datangnya bencana Seperti Gunung Agung kini meletus Tiba-tiba lahar muntah dari kepundan

  JIHAD SUNYI dawai perang mengguncangkan dukana hasrat petang tergerai jawaban jihad sunyi yang menyulam cahaya kunang-kunang Tapi, belum sempat kuceritakan rasa

  Narwastu aku pernah menjadi warna mengulum putik senyum bunga. menghayal diam dalam bisu menghasu siapa yang merindu? di antara keringat senja

  Menjelang Tahun 2017 Berlalu Masa lalu bisa dilihat kembali Sebagai patokan untuk hari esok Dulu  kubaca sebuah puisi di koran Tentang

Kenangan Lama  Rembulan bersinar kemilau malam itu Aku duduk di sampingmu Segalanya terasa indah Kau bagai bidadari dari sorga Kata-katamu lemah lembut

  Tak Tahu Malu Hujan menampakkan wajahnya. Terlihat sedih melihatku. Sembari air matanya mengalir deras. Hingga tetesannya, menusuk ubun-ubun. Iringan angin sesekali

  Meraba Diri Serimbun asa mengusik rasa apa dan siapa beriring sapa kutengadah langit biru yang luas, kupandangi bintang bintang berkilau, kutembang

  Teruntuk Dinda Salam hangat kuhaturkan buat dinda saat asaku menjerit butuh tupang dada Kumatai ucap katamu dari gerbong hingga bandara. Tak