oleh

Ribuan Pengungsi Terima Bantuan dari Pemkab Intan Jaya dan Gereja Katholik

Intan Jaya, Radar Pagi – Penanganan pengungsi yang terdampak konflik bersenjata antara TNI dan OPM terus dilakukan. Baru-baru ini, ribuan pengungsi menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dan Pastoran Gereja Katolik Santo Misael, Bilogai.

Bantuan berupa sembilan bahan pokok diberikan melalui Tim Gabungan yang terdiri dari TNI/Polri, DPRD Intan Jaya, dan elemen masyarakat setempat. Turut hadir dalam acara ini anggota DPRD Provinsi, Thomas Sondegau.

Sejauh ini terdapat 1.237 yang terdata sebagai pengungsi, termasuk di dalamnya 331 orang perempuan dan anak-anak. Mereka melarikan diri ke Nabire karena takut jadi korban salah sasaran dari baku tembak TNI/Polri dengan OPM.

Rapat yang dihadiri seluruh kepala kampung dan tokoh adat/tokoh masyarakat terkait masalah penyaluran bantuan kepada pengungsi

Ribuan pengungsi dari 16 kampung dari Distrik Sugapa, Distrik Ugimba dan Distrik Hitadipa itu sempat mengalami kelaparan karena tidak berani datang ke kebun. Karena itu, Pemkab Intan Jaya bekerjasama dengan Gereja Katholik bergerak cepat memberikan bantuan bahan makanan.

“Kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat bagi warga yang membutuhkan. Tapi kami tidak paksa masyarakat terima bantuan ini. Kalau diterima kami bersyukur,” ujar Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni, SS, M.Si saat memberikan bantuan kepada perwakilan pengungsi, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan tim penanganan pengungsi yang sudah dibentuk dan terdiri dari unsur ASN, DPRD, TNI/Polri, gereja, masyarakat dll juga sudah bergerak memberikan bantuan ke sejumlah titik.

“Kami akan terus memberikan bantuan dan memperhatikan pengungsi sampai suasana benar-benar kondusif sampai masyarakat benar-benar merasa aman pergi ke kebun, ke pasar dan lain-lain,” katanya.

Turut hadir anggota DPRD Provinsi Thomas Sondegau

Bupati menjelaskan, pihaknya memahami bahwa penindakan yang dilakukan TNI/Polri kepada OPM adalah demi menegakkan hukum dan kedaulatan NKRI, namun ternyata akibatnya rakyat Intan Jaya menjadi ketakutan. Karenanya dia berharap kedua belah pihak (TNI/Polri dan OPM) dapat menghentikan pertikaian bersenjata, sehingga rakyat tidak terkena dampaknya.

“Kami Forkopimda sudah melakukan pertemuan. Salah satu hasilnya kami mohon supaya Pos TNI atau Pos Penugasan yang ada di Titigi supaya dipindahkan ke ibukota Kabupaten biar ibukota kabupaten jadi aman dan OPM keluar dari Intan Jaya dan akhirnya TNI Penugasan pun keluar dari Intan Jaya,” ujarnya.

Sebelunnya Bupati juga sudah bertemu dalam pertemuan informal dengan Dandim 1705 Paniai Letkol Inf Benny Wahyudi membahas permasalahan pasca penegakan hukum TNI/Polri terhadap TPM/OPM di wilayah Intan Jaya.

Dia menegaskan pihaknya tidak menolak kehadiran TNI/Polri di Kabupaten Intan Jaya, hanya saja supaya warga setempat tidak terkena dampaknya, dirinya bersama Forkopimda berharap masalah baku tembak ini bisa segera dihentikan.

Permintaan ini, kata Bupati akan diteruskan oleh Pemkab Intan Jaya ke Gubernur, dan pihak Kodim akan meneruskannya ke Panglima, serta Polsek dan Polres akan meneruskannya ke Kapolda Papua.

“Semoga permintaan ini bisa ditindaklanjuti dengan baik,” kata Bupati. (Om Yan)

 

News Feed