oleh

7 Fakta WO Pandamanda, Penipu Puluhan Pengantin di Depok

Depok, Radar Pagi – Kasus penipuan berkedok penyelenggara jasa pesta pernikahan atau wedding organizer (WO) terjadi di Depok. Hal itu tentunya mengejutkan masyarakat.

Polisi sejauh ini sudah menetapkan seorang tersangka yaitu sang pemilik WO Pandamanda bernama Anwar Said. Polisi menangkap yang bersangkutan di kantornya, di kawasan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat pada Selasa, 4 Februari 2020.

Berikut 7 fakta mengenai WO abal-abal tersebut:

1. Korban Mencapai 50 Pasang Pengantin, Kerugian Rp2,5 miliar

Polisi mencatat bahwa korban akibat penipuan tersebut pada awalnya mencapai sekitar 29 pasang calon pengantin. Lalu total kerugian ditaksir mencapai lebih dari Rp1,5 miliar.

Kasubag Humas Polres Metro Depok, Ajun Komisaris Polisi Firdaus, mengungkapkan kasus ini terungkap ketika salah satu korban melaporkan ulah pelaku pada Minggu, 2 Februari 2020.

“Jadi awalnya kami menerima laporan dari masyarakat yang merasa tertipu oleh salah satu wedding organizer karena ketika acara, makanannya (catering) tidak tersedia,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, korbannya ternyata bukan satu orang. “Selanjutnya kami melakukan pendalaman dan penyelidikan lalu diketahui ada 28 orang yang merasa tertipu,” katanya.

Rata-rata korban lainnya belum sampai pada hari pelaksanaan (pesta pernikahan), tapi telah menyetor sejumlah uang ke pelaku dengan kisaran Rp50 hingga Rp70 juta per event. Mereka melapor lantaran belum ada kejelasan sampai dengan menjelang acara pernikahan.

“Kalau korban pertama acara sudah dimulai tapi makanan enggak ada. Nah puluhan korban lainnya, acara belum mulai, tapi mereka juga sudah setor uang dan tidak ada kejelasan menjelang hari H,” ujarnya.

Kemudian dalam perkembangannya, kepolisian memperbarui, jumlah korban yang melapor sampai dengan Kamis, 6 Februari 2020, sebanyak 50 pasang calon pengantin. Sedangkan total uang para korban yang telah mengalir ke pelaku diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 miliar.

2. Harga yang Ditawarkan Murah

Sejumlah korban yang ditemui di Polres Metro Depok mengaku tertarik dengan WO tersebut lantaran harga yang ditawarkan murah dan dijanjikan mendapat sepasang cincin seberat 10 gram. Pelaku menggaet para korban melalui media sosial Instagram.

Puluhan korban ini tidak hanya warga Depok, namun banyak pula yang berasal dari Jakarta dan luar daerah. Hingga kini kasusnya masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

“Kami duga jumlah korbannya terus bertambah karena sampai sore ini masih banyak yang melapor,” kata Firdaus.

3. Sedih, Tak Ada Hidangan Saat Pernikahan Berlangsung

Isnaini, salah satu korban yang sudah terlanjur kena tipu pelaku mengaku tidak hanya dirugikan secara materi tapi juga dipermalukan oleh perbuatan pelaku. Kala itu, Isnaini melangsungkan pernikahan dengan jumlah undangan mencapai 400-an pada Minggu 2 Februari 2020.

“Tapi kita kan namanya orang hajatan sakral tuh kita maunya itu jangan sampai makanannya itu kurang sampai 1600 pax. Walauapun undangan cuma 400 undangan. Dan ternyata di hari H itu benar-benar zong,” kata Isnaini di Depok.

Wanita 25 tahun ini mengungkapkan, kejanggalan mulai muncul dari menjelang persiapan pesta pernikahan yang berlangsung di salah satu gedung di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

“Dari jam dua siang orang gedung itu udah nanyain. Mana dekornya, catering-nya gimana, sampai jam tiga enggak ada juga sampai jam empat hari H itu enggak ada. Aku dan keluarga benar-benar pusing,” tuturnya.

Beruntung, pesta pernikahan masih bisa berjalan meski pada akhirnya tak sedikitpun makanan maupun minuman yang tersaji.

“Itu untungnya dekornya itu dibantu sama pengelola gedung. Dibantu sama mereka dan janurnya itu bekas orang yang duluan nikah. Terus di janurnya itu enggak ada namanya. Kita enggak ada dekornya. Untungnya juga pas akadnya itu kita dibantu sama pengelola masjid, kita koordinasi dengan pengelola gedung buat handle akad,” lanjut dia.

Isnaini menceritakan proses pesta pernikahan yang dilaluinya sangat menyedihkan. “Dari jam setengah enam sore itu enggak ada yang didekor sama sekali. Meja masih kosong. Catering enggak ada, sampai kita ulur waktu kan setengah delapan malam karena mulainya itu jam tujuh malam,” ujarnya.

“Sudah kita ulur setengah delapan kita masuk itu tamu sudah membeludak. Itu enggak ada juga (hidangan). Kita kira-kira mungkin datang jam delapan, ternyata enggak ada juga, sampai acara bubar jam setengah sepuluh malam, itu enggak ada juga,” tuturnya dengan nada sedih.

Saat itu, Isnaini dan keluarga telah berusaha menghubungi pemilik WO tersebut namun tidak ada jawaban. “Dari sebelum akad, diteleponin si Anwar (pelaku) itu enggak diangkat sama sekali,” kata dia.

4. Pelaku Beli Rumah Mewah

Dalam pemeriksaan, Anwar mengaku sejumlah uang yang telah masuk ke kantungnya sebagian digunakan untuk keperluan pribadi, termasuk menutupi kegiatan pernikahan klien yang sebelumnya beberapa waktu lalu.

“Jadi, harga yang ditawarkan memang sebenarnya tidak cukup. Misalkan dia menawarkan Rp50 juta atau Rp65 juta dan Rp100 juta itu tidak cukup hitungannya. Maka dia menutupi dari pendaftar berikutnya kemudian menutup lagi, menutup lagi,” kata Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah, Rabu 5 Februari 2020.

Sistem yang digunakan pelaku, kata Azis berpotensi menimbulkan banyak korban. “Maka dari itu kita mengambil tindakan tegas melakukan upaya paksa untuk memeriksa yang bersangkutan dan kita tetapkan sebagai tersangka penipuan,” katanya.

Adapun total uang para korban yang telah mengalir ke pelaku diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 miliar.

“Total uang itu kemarin masih hitungan kasar sekitar Rp2,5 miliar, tapi akan kita hitung lagi karena ternyata masih banyak klien yang berdatangan untuk melaporkan,” ujarnya.

Sampai dengan saat ini, lanjut Azis, pelaku tunggal (Anwar). Sebab, dialah yang aktif menawarkan termasuk melalui media sosial.

Usut punya usut, rupanya ia telah menjajakan bisnisnya itu sejak 2013 lalu. Mulai ada masalah pada tahun 2018-2019 dan puncaknya Minggu 2 Februari 2020. Saat itu, ada dua pesta pernikahan yang berantakan.

“Dia mulai keteteran setelah beli rumah seharga Rp1,2 miliar dan sudah dicicil sekitar Rp300 juta. Kemudian nutupin operasional dan beberapa mobil yang digadaikan,” ujarnya.

5. Pelaku ‘Cuma’ Terancam Hukuman 4 Tahun Penjara

Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah mengungkapkan, dari pemeriksaan diketahui, pelaku Anwar (32) selaku owner WO tersebut telah menerima order sampai dengan Januari 2021. Kasus ini terbongkar setelah dua korbannya melapor ke polisi lantaran pesta pernikahan yang digelar pada Minggu 2 Februari 2020 lalu, berantakan.

“Artinya pernikahan itu tetap berlangsung namun perlengkapan untuk pernikahan (pesta) tidak dipersiapkan. Mulai dari katering, dekorasi, foto dan lain sebagainya yang dijanjikan tidak ada saat hari H,” kata Azis pada Rabu 5 Februari 2020.

Pelaku menjerat para korbannya melalui media sosial Instagram dengan iming-iming harga murah. Lalu, ada juga bonus sepasang cincin seberat 10 gram.

“Namun, ketika dihitung (harga) semuanya tak masuk akal. Itulah yang kemudian terjadi peristiwa pada tanggal 2 Februari 2020 yang lalu, yaitu kegiatan pesta pernikahan yang gagal,” ujarnya.

Azis menjelaskan rata-rata para korban telah menyetor uang Rp65 juta hingga Rp100 juta. Dari puluhan korban yang melapor, sebagian besar belum menggelar pernikahan. Namun, telah membayar sejumlah uang kepada pelaku.

“Jika diteruskan maka korban-korban berikutnya yang sudah terlanjur mendaftar atau terlanjur melunasi pembayaran bisa berpotensi menjadi korban walaupun saat ini sebagian besar yang lain yang sudah membayar lunas belum terlaksana pernikahannya, masih bulan-bulan depan,” ujarnya.

Akibat perbuatannya itu, Anwar dijerat pasal 378 tentang penipuan yang ancamannya empat tahun penjara. Kasusnya masih dalam penyelidikan Polres Metro Depok.

6. Menerima Order Sampai Januari 2021

Anwar merintis bisnis WO-nya sejak tahun 2013 dan mempekerjakan sepuluh orang, masing-masing diupah Rp1 juta sampai Rp1,8 juta per bulan. Sebenarnya, kata pemuda berusia 32 tahun itu, semua kegiatan pernikahan yang perusahaannya layani berjalan lancar sejauh ini. Namun, muncul masalah dalam dua tahun terakhir, di antaranya tidak tersedianya katering, dekorasi, dan fasilitas hiburan maupun dokumentasi.

“Keuntungan ada sedikit, sih, yang penting kami eventnya jalan dulu saja. Kurang lebih keuntungan per event (acara) Rp5 juta,” katanya ketika polisi memperlihatkannya kepada pers di kantor Kepolisian Resor Metropolitan Depok, Kamis, 6 Februari 2020.

Dalam sepekan, Anwar mengklaim, Pandamanda rata-rata bisa melangsungkan empat pesta pernikahan sekaligus–dua kegiatan di hari Sabtu dan dua lagi di hari Minggu. Bahkan, sampai sekarang, Pandamanda sudah menerima 50 order pesta pernikahan sampai Januari 2021, meski ada juga bulan-bulan tertentu yang kosong order.

Sebagian besar kliennya telah membayar uang muka, jumlahnya berfvriasi antara Rp10 juta sampai Rp25 juta. Semua uang yang masuk, pesta pernikahannya sudah menjelang atau masih lama, dikumpulkan lalu dikelola untuk biaya operasional.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Depok Kombes Pol Azis Andriansyah, mengatakan Anwar juga membelanjakan sebagian uang pengguna jasanya untuk kepentingan pribadi, misalnya, dia mencicil sebuah rumah seharga Rp1,2 miliar dan angsurannya sudah mencapai Rp300 juta.

Manajemen keuangan yang amburadul itu mulanya tak disadari dampaknya oleh Anwar sampai 2 Februari lalu, saat dua pesta pernikahan kliennya berantakan. Sumber masalahnya manajemen gali lubang untuk tutup lubang lain, ditambah sebagian uang para kliennya ditilap untuk membeli rumah mewah.

“Dia mulai keteteran setelah beli rumah seharga Rp1,2 miliar dan sudah dicicil sekitar Rp300 juta. Kemudian nutupin operasional dan beberapa mobil yang digadaikan,” kata Aziz.

7. Keceplosan Soal Cincin Pernikahan

Korban lain dari WO palsu itu adalah Prasetyo, pemuda 27 tahun. Pada Selasa, 4 Februari 2020, sesaat sebelum tertangkap polisi, Anwar sempat meminta sisa pembayaran kepada Prasetyo namun Prasetyo menolaknya karena belum ada kejelasan.

“Gimana mau saya lunasi, dia saja belum fitting dan belum bikin cincin pernikahan; dia keceplosan cincin pernikahan sudah dibuat. Tapi enggak masuk akal: gimana caranya dia buat cincin kawin, sementara dia saja belum ngukur jari saya dan calon [istri],” ujarnya.

Dari situlah Prasetyo akhirnya menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan manajemen Pandamanda. Kemudian, ia dan keluarga mencoba mencari tahu untuk menguatkan dugaannya bahwa Pandamanda merupakan WO abal-abal.

Dia juga mulai bertambah curiga setelah tak seorang pun dari perusahaan rekanan Pandamana, misal, perusahaan katering, busana, atau yang lainnya, menghubunginya padahal waktu pernikahan sudah menjelang. Justru Prasetyo-lah yang lebih aktif menghubungi Pandamanda untuk memastikan semua sudah terurus.

Akhirnya, setelah mencari tahu melalui Google, ternyata banyak orang yang mengeluhkan pelayanan atau manajemen Pandamanda. “… Pandamanda itu banyak artikel yang kecewa sama dia, dan banyak korbannya,” katanya. (Syahrul Ansyari/Zahrul Darmawan/vivanews)

News Feed