oleh

Habis Puluhan Milar, Jalur Sepeda di DKI Malah Jadi Lahan Parkir Liar

Jakarta, Radar Pagi – Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuat jalur sepeda di sejumlah ruas jalan Ibu Kota dinilai tidak efektif. Selain jarang peminat karena membahayakan, banyak jalur sepeda yang dijadikan tempat parkir. Pengawasan juga lemah sehingga proyek yang menghabiskan anggaran Rp62 miliar itu sangat mubazir.

Dilansir sindonews, jalur sepeda di depan RS Tarakan, Jakarta Pusat misalnya beralih fungsi menjadi pangkalan bajaj. Antrean bajaj tampak mengular di sisi jalan sambil menunggu penumpang. Jalur sepeda dijadikan lahan parkir juga terlihat di kawasan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Terlebih pada malam hari, jalur sepeda sepanjang satu kilometer itu nyaris dikuasai kendaraan roda empat.

Keberadaan jalur sepeda di Jalan Puri Kembangan, Kembangan, Jakarta Barat malah membahayakan. KORANSINDO menjajal jalur sepeda di kawasan itu saat sore hari dari kantor Wali Kota Jakarta Barat hingga Puri Kembangan dan memutar kembali. Kondisi sepanjang jalan itu tak nyaman, bahkan membahayakan.

Sepeda motor dan mobil nyaris menguasai jalur tersebut sehingga sangat tidak nyaman. Jalur tersebut juga sepi peminatnya. Hampir satu jam menunggu tak ada satu pun pesepeda yang melintas. “Sangat disayangkan, jalur sepeda yang menghabiskan dana puluhan miliar tak bermanfaat alias mubazir,” ujar Rahmat (45), warga Kembangan, Jakarta Barat.

Satu di antara jalur sepeda yang terlihat terbengkalai juga ada di Jalan Raya RS Fatmawati yang terlihat sepi peminat. Walaupun ada cone pembatas, namun tidak ada sepeda yang melintas. “Setiap hari memang dikasih pembatas, tapi tidak ada yang lewat,” kata Abdi, penjaga warung yang berada di sekitar lokasi.

Anggota DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike menilai, jalur sepeda tidak efektif dan sangat membahayakan karena bercampur dengan kendaraan lain sehingga tidak memberi jaminan keselamatan. Politikus PDI Perjuangan itu menjelaskan, jalur sepeda itu efektif apabila angkutan umumnya sudah saling terintegrasi sehingga sepeda hanya menjadi instrumen transportasi yang melengkapi moda angkutan umum baik awal ataupun akhir perjalanan.

Saat ini, kata dia, jalur sepeda yang ada tidak dibarengi dengan peningkatan layanan angkutan umum yang saling terintegrasi. Akibatnya, masyarakat enggan menggunakan sepeda. “Banyak masyarakat yang meminta agar jalur sepeda bisa digunakan kendaraan bermotor lantaran tidak ada pesepeda,” kata Yuke.

Menurut dia, faktor keamanan dan keselamatan pesepeda belum terjamin di jalur sepeda yang menyatu dengan jalan raya saat ini. Hanya menggunakan pembatas crown pengguna kendaraan berpeluang menyenggol pesepeda. “Jalur Transjakarta saja yang dibatasi barikade beton itu sering ditabrak. Apalagi hanya pakai cone,” jelas dia.

Terjadi Peningkatan

Fakta sebaliknya disampaikan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo. Dia mengklaim terjadi peningkatan pengendara sepeda. Tak tanggung-tanggung, peningkatan terjadi hingga 500% pasca ada jalur sepeda yang disediakan sepanjang 63 kilo meter. “Hal itu berdasarkan hasil survei yang di lakukan Dinas Perhubungan bersama Institut Transportasi Development Program (ITDP), peningkatan di jalur sepeda terjadi hingga 500,” ujar Syafrin.

Dia mencontohkan, di jalur sepeda di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur yang dari tadinya empat sepeda perjam yang melintas naik menjadi lima kali lipat. Begitu juga di jalur sepeda Sudirman-Thamrin yang kini hampir dipenuhi setiap pagi oleh pesepeda. “Hasil evaluasi kita dari jalur sepeda yang disiapkan sepanjang 63 kilo meter, masyarakat mulai terbiasa menggunakan sepeda dalam bermobilitas,” kata dia.

Peningkatan pengguna jalur sepeda juga dilakukan para komunitas pesepeda di Jakarta. Khususnya komunikasi masyarakat pekerja pengguna sepeda atau bike to work. “Kebiasaan warga Jakarta yang dahulu kemana-mana bawa sepeda kini muncul setelah adanya jalur sepeda,” pungkas dia.

Menurut Syafrin, ke depan pihaknya akan menambah panjang jalur sepeda dari 63 kilo meter menjadi 137 kilometer tahun ini. Fokus pembangunannya dari perumahan menuju moda transportasi massal lain nya. “Dengan adanya jalur sepeda yang terintegrasi tersebut, kami harapkan masyarakat bisa menjadikan sepeda sebagai moda transportasi pengumpan dan pengganti moda transportasi yang biasa digunakan,” tandas dia.

Syafrin menjelaskan, jalur sepeda itu akan tetap berada di bahu jalan, namun akan dibuat khusus agar tidak ada pengguna kendaraan lain menerobos jalur sepeda. Satu di antaranya menggunakan pembatas crime ataupun sebagainya. “Dalam Undang-Undang 22 Tahun 2009 tentang Angkutan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diatur bahwa pengguna kendaraan wajib menghormati pengguna sepeda dan pejalan kaki. Kita akan ubah kebiasaan itu,” tambah dia. (ysw/red)

News Feed