oleh

Beragam Keistimewaan Taman Nasional Lorentz

Intan Jaya, Radar Pagi – Papua selalu mengejutkan masyarakat dengan kekayaan alam yang tersembunyi di hutannya. Taman Nasional Lorentz merupakan keterwakilan gradasi ekosistem dengan puncak tertinggi Cartenz dan salju abadinya.

Taman Nasional Lorentz dilindungi yang diresmikan sebagai taman nasional oleh pemerintah pada 1997 itu terletak di tengah-selatan Papua.

Taman nasional seluas 24.864 kilometer persegi itu dinobatkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1999. Keistimewaannya terletak pada ekosistem di dalamnya yang beragam. Membentang dari puncak gunung salju hingga membujur ke pesisir pantai, Anda bisa menemukan rawa, hutan, hingga padang rumput.

Terdapat beberapa jenis hewan langka mendiami taman nasional ini, termasuk burung beo Pesquet. Burung langka itu memiliki kepala yang berwarna hitam polos sampai dada, dengan perut dan sayap yang berwarna merah untuk jantan dan pada betina tidak terdapat bintik merah di belakang matanya.

TN Lorentz juga merupakan habitat Daerah Burung Endemik (DBE) yang merupakan rumah bagi kurang lebih 45 spesies burung dengan sebaran terbatas. Sembilan di antaranya merupakan spesies endemik. Beberapa di antaranya adalah burung beo pesquets, burung nambur archbold, dan cendrawasih elok.

Lalu ada juga Danau Habema yang terletak di Distrik Palebaga. Danau ini terletak di ketinggian 3.000 mdpl dan jadi salah satu spot alam menarik di sana.

Nama Lorentz diambil dari pengelana Belanda bernama Hendrikrus Albertus Lorentz yang berkunjung ke wilayah tersebut pada 1909. Selama di Papua, ia tiga kali menggelar ekspedisi, yaitu pada 1903, 1907, 1909-1910.

Selain taman nasional, nama Lorentz juga disematkan kepada nama sungai atau yang juga dikenal dengan julukan Sungai Undir.

Sejak 30 Ribu Tahun Lalu

Diperkirakan kebudayaan yang ada di kawasan ini sudah berumur sekitar 30.000 tahun. Kawasan ini merupakan rumah bagi Suku Nduga, Suku Dani, Suku Amungme, Suku Sempan, dan Suku Asmat.

Kebudayaan yang dimiliki suku-suku di sini sangat beragam dan menarik. Misalnya, Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Suku tersebut juga identik dengan hutan dan pohon.

Bagi mereka, pohon melambangkan tubuh manusia, dengan dahan sebagai lengan, batang sebagai tubuh, dan buah sebagai kepala.

Benteng Terakhir
Dikutip dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin (6/1/2020) pada sisi utara Taman Nasional Lorentz ini terbentang jajaran pegunungan tinggi di Pulau Papua yang menjadi kawasan unik dan langka di dunia.

Letak dan keunikan bentangan alam inilah yang menjadikan Taman Nasional Lorentz sebagai kawasan konservasi dengan ekosistem terlengkap di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Selain itu, taman ini dikenal pula sebagai benteng terakhir yang memiliki hutan belantara.

Menurut Soedarmo, Pejabat Gubernur Papua, dilansir dari laman Pemerintahan Papua (papua.go.id), di wilayah Taman Nasional Lorentz ini terdapat persediaan mineral dan operasi pertambangan berskala besar.

Hal ini merupakan sebuah properti atau aset yang harus dijaga, dilindungi, serta diatur pola pemanfaatannya secara arif dan bijaksana.

Rute ke Sana

Untuk bisa mencapai TN Lorentz ini memang masih agak sulit. Salah satu jalur yang bisa ditempuh adalah melalui Timika. Dari sana, kamu bisa menggunakan pesawat perints untuk menuju Kabupaten Panilia yang berada di bagian utara TN Lorentz.

Setelahnya, kamu harus menempuh perjalanan melalui jalur laut menuju pelabuhan Sawa Erma dan kemudian berjalan kaki ke beberapa lokasi. Sementara dari Kota Wamena, kamu bisa mencapai bagian selatan taman nasional menggunakan mobil ke Danau Habema kemudian berjalan kaki ke Puncak Trikora.

Pastikan keadaan fisik cukup kuat. Pasalnya medan TN Lorentz masih terbilang murni dan tidak terprediksi keadaannya. Selain itu terdapat juga pegunungan dengan medan yang cukup berat. Sehingga dibutuhkan fisik yang kuat untuk bisa menempuh medan di kawasan tersebut. (Yandrilla)

 

News Feed