oleh

Sakit Kanker Getah Bening, Pelukis Jeihan Meninggal Dunia

Bandung, Radar Pagi – Kabar duka datang dari dunia lukis Indonesia, maestro lukis Jeihan Sukmantoro wafat dalam usia 81 tahun di studio pribadinya di Jalan Padasuka 147, Kota Bandung, Jumat (29/11/2019) sekitar pukul 18.15 WIB.

“Bapak Jeihan telah meninggalkan kita dengan tenang jam 18.15 di studio Jeihan, Padasuka. Mohon bapak dimaafkan,” ujar anak sulung almarhum, Atasi Amin saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (29/11/2019).
Sebelumnya, kondisi Jeihan sempat dikabarkan memburuk akibat sakit kanker getah bening yang dideritanya.
Setelah dirawat dua pekan di Rumah Sakit Borromeus, Kota Bandung, dia pun kembali ke kediamannya.

Namun dibawa pulang bukan berarti kondisinya membaik, karena putra pertama Jeihan, Atasi Amin mengungkapkan jika ayahnya dalam kondisi yang kurang baik, namun Jeihan dan keluarga sudah pasrah dengan kondisi tersebut.

Menurut Amin, ayahnya sempat menjalani operasi beberapa bulan lalu, tapi kanker kemudian menyebar ke paru-paru, ditambah kondisi ginjal memburuk dan pendarahan di pencernaan.

“Keadaan bengkak-bengkak,” katanya.

Jeihan Sukmantoro lahir pada tanggal 26 September 1938 di Surakarta, Jawa Tengah. Pelukis bergaya ekspresionisme ini mulai melukis sejak masih kecil. Dia belajar seni lukis di Himpunan Budaya Surakarta.

Untuk memperluas wawasan, Jeihan pergi ke Bandung, Jawa Barat pada tahun 1960. Dia mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, dia tidak pernah menyelesaikan pendidikannya di ITB karena sikapnya yang cenderung memberontak. Karena itu dia tidak mendapatkan pendidikan formal sampai menginjak usia 15 tahun.

Sikapnya ini karena dia pernah mengalami pengalaman hampir mati. Dia pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya dan menyebabkan dia cedera otak. Ketika itu, Jeihan diyakini sudah tidak bernyawa, tapi ia bangun sebelum dimakamkan. Peristiwa ini yang kemudian memengaruhi cara berpikirnya dan karya-karyanya.

Jeihan banyak mendapatkan penghargaan dari nasional maupun internasional. Pada 2006, mendapat penghargaan Perintis Seni Rupa Jawa Barat dan 2009 penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung. (heri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed