oleh

Stunting, Pendapatan Rendah dan Kemiskinan Jadi Warisan Masalah di Kepulauan Nias

-Kolom-22 views

(Suatu renungan menyambut ulang tahun ke – 11 Daerah otonom Baru)

Penulis: Baziduhu Zebua

 

Menyambut  HUT ke-11 Daerah otonom Baru (DOB) di Kepulauan Nias, sudah selayaknya bila diwarnai oleh berbagai kegiatan yang serba gemerlap, seperti di kota Gunungsitoli dengan gebyar 11 tahun kota Gunungsitoli yang dipusatkan di Taman Ya’ahowu.

Pada hakekatnya, kegiatan  tersebut dapat diartikan sebagai upaya memberi ruang kepada warga untuk berpatisipasi merayakan HUT sesuai dengan nikmat yang diraih selama 11 tahun berselang.

Tentu saja akan lebih agung bila disertai dengan ucapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa dan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah berpatisipasi untuk memperjuangkan lahirnya Daerah Otonom Baru di kepulauan Nias.

Pada saat-saat seperti ini juga dapat dimanfaatkan oleh semua pihak  untuk memalingkan pandangannya ke belakang, sekaligus melayangkan tatapan jauh ke depan untuk mendalami apa yang sudah terjadi dan apa yang ingin diraih dengan berbagai ekspektasi dan tantangan yang akan dihadapi.

Pada tahun yang lalu, penulis sempat mengungkap data tentang potret kesejahteraan masyarakat selama satu dasawarsa Daerah Otonomi Baru di Kepulauan Nias (2008-2018). Pada tulisan tersebut, terungkap bahwa dengan strategi pembangunan selama satu dasawarsa belum dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Peringkat IPM Daerah Otonomi Baru di Kepulauan Nias berada di urutan terbawah di antara 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara, kecuali kota Gunungsitoli pada peringkat 24.

Pada tahun ini, penulis ingin menyampaikan data tentang stunting, pendapatan masyarakat dan kemiskinan yang sudah menjadi warisan masalah yang berkelanjutan di Kepulauan Nias.

Stunting

Salah satu yang menarik perhatian saat rapat kerja komisi XI DPR-RI dengan Bappenas tanggal 6 November 2019 yang diberitakan oleh media masa ialah pendapat yang disampaikan oleh Bapak sihar P. Sitorus, anggota DPR-RI,  bahwa di Kepulauan Nias, terdapat 41,6 % balita yang menderita stunting. Beliau mengusulkan adanya desk khusus untuk pembangunan di kepulauan Nias.

Stunting adalah kondisi ketika anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Namun tidak semua anak yang bertubuh pendek menderita stunting. Penderita stunting, kerdil dan kurus. Ada juga yang mengatakan bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan yang terjadi akibat masalah gizi kronis, penyakit infeksi berulang dan kesalahan pola asuh sehingga tinggi badan anak berada dibawah batas rata-rata.

Stunting disebabkan kurangnya asupan gizi pada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan yaitu semenjak anak masih dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Selain itu, dapat disebabkan  juga oleh masalah pada saat kehamilan, melahirkan, menyusui atau setelahnya, kondisi lingkungan yang buruk, pola asuh yang kurang baik, kondisi ibu yang masih terlalu muda atau jarak antara kehamilan yang terlalu dekat.

Dari data Dinas Kesehatan Sumatera Utara , terdapat balita yang menderita stunting di Kepulauan Nias yaitu :

  1. Kabupaten Nias 41,6 %
  2. Kabupaten Nias selatan 38,9 %
  3. Kabupaten Nias utara 41,6%
  4. Kabupaten Nias Barat 45,7 %
  5. Kota Gunungsitoli 30,8%.

Stunting dapat menimbulkan dampak jangka pendek atau jangka panjang. Dampak jangka pendek jelas terlihat, anaknya kerdil dan kurus. Sedangkan dampak jangka panjang adalah :

  1. Sejak kecil cenderung mengalami gangguan kesehatan.
  2. Postur tubuh yang pendek saat dewasa.
  3. Massa otot yang lebih kecil.
  4. Kemampuan intelektual dibawah rata-rata.
  5. Mengalami masalah perkembangan otak.
  6. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah.
  7. Rentan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi dan obesitas.
  8. Prestasi disekolah buruk.
  9. Sulit mendapat pekerjaan.

Ada juga yang menyimpulkan 4 dampak, yaitu:

  1. Kognitif lemah dan psikomotorik terhambat.
  2. Kesulitan menguasai sains dan sulit berprestasi dalam olahraga.
  3. Lebih mudah terkena penyakit degeneratif.
  4. Sumber daya manusia berkualitas rendah.

Pendapatan yang rendah

Pendapatan per kapita masyarakat di kepulauan Nias masih jauh di bawah rata-rata pendapatan Sumatera Utara. Pendapatan per kapita dapat terlihat dari data PDRB per kapita atas dasar harga berlaku.  ( tahun 2017) seperti dibawah  ini.

  1. Kabupaten Nias Rp 23.503.139,30 / tahun
  2. Kabupaten Nias selatan Rp 18.080.302,04 / tahun
  3. Kabupaten Nias utara Rp 22. 103.089.73 / tahun
  4. Kabupaten Nias barat 18.050.353,03 / tahun
  5. Kota gunungsitoli Rp 32.337.866,95 / tahun.
  6. Rata-rata sumatera utara Rp 47.963.990,87/ tahun.

Pendapatan yang masih rendah tentu menjadi hambatan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang mengakibatkan kualitas SDM juga masih rendah, sementara  SDM adalah modal utama pembangunan berkelanjutan.

Kemiskinan

Kepulauan Nias masih tercatat sebagai daerah termiskin di Sumatera Utara. Seperti terlihat dibawah ini :

  1. Kabupaten Nias Barat 26,72 % (peringkat 1)
  2. Kabupaten Nias Utara 26,56 %( peringkat 2)
  3. Kota gunungsitoli 18,44 % ( peringkat 3)
  4. Kabupaten Nias Selatan 16,65 % ( peringkat 4)
  5. Kabupaten Nias 16,37% ( peringkat 5 )

Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (baik makanan dan non makanan). Ada pendapat yang mengatakan 6 jenis kemiskinan yaitu :

  1. Kemiskinan subjektif yaitu kemiskinan yang terjadi karena seseorang memiliki dasar pemikiran sendiri, dengan beranggapan bahwa segala kebutuhannya belum terpenuhi secara cukup, walaupun orang tersebut tidak terlalu miskin.
  2. Kemiskinan absolut yaitu seseorang / keluarga yang memiliki penghasilan dibawah standar, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan, sandang , papan, pendidikan dan kesehatan.
  3. Kemiskinan relatif yaitu kemiskinan yang terjadi karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menyentuh semua lapisan masyarakat sehingga menimbulkan ketimpangan penghasilan dan standar kesejahteraan
  4. Kemiskinan alamiah yaitu kemiskinan yang terjadi karena sumber daya alam yang terbatas dan langka sehingga produktifitas rendah.
  5. Kemiskinan kultural yaitu kemiskinan yang terjadi karena kebiasaan atau sikap masyarakat dengan budaya santai dan tidak mau memperbaiki taraf hidupnya.
  6. Kemiskinan struktural yaitu kemiskinan yang terjadi karena struktur sosial tidak mampu menghubungkan masyarakat dengan sumber daya yang tersedia.

Dari 6 jenis kemiskinan di atas, dapat dikatakan bahwa kemiskinan di kepulauan Nias tidak mungkin disebabkan oleh kemiskinan alamiah karena sumber daya alam masih tersedia.  Namun apapun yang menyebabkan kemiskinan di kepulauan Nias, hendaknya semua pihak dapat memahami dampak kemiskinan itu adalah :

  1. Kriminalitas meningkat
  2. Angka kematian tinggi
  3. Akses pendidikan tertutup
  4. Pengangguran semakin banyak.
  5. Konflik ditengah masyarakat seperti tindakan anarkis dan SARA.

Penutup

Dari uraian singkat di atas, dapat dikatakan bahwa stunting, pendapatan per kapita yang rendah dan kemiskinan masih mewarnai HUT ke-11 Daerah Otonom Baru di Kepulauan Nias. Bila tidak teratasi, maka akan menjadi warisan masalah berkelanjutan yang dampaknya dirasakan oleh generasi muda pada era bonus demografi dan Indonesia emas, tahun 2045 yang akan datang.

Walaupun demikian, permasalahan tersebut tidak akan menjadi lingkaran setan bila ditangani secara serius, seperti di kota Gunungsitoli a.l melalui dinas kesehatan telah memperoleh data detail penderita stunting dan secara berkala dikawal untuk melakukan rehabilitasi serta upaya pencegahan secara terus menerus sejak bayi masih dalam kandungan.

Diharapkan agar HUT ke- 11 DOB di kepulauan Nias dapat dijadikan sebagai pengungkit semangat baru dalam memikirkan strategi pembangunan yang tepat untuk menangani dan mencegah stunting, meningkatkan pendapatan masyarakat secara merata, dan menanggulangi kemiskinan demi menciptakan generasi yang lebih berkualitas dan berdaya saing.

Dirgahayu kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias barat dan kota Gunungsitoli. YA’AHOWU!

Gunungsitoli, 26 November 2019

*) Penulis pensiunan PNS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed