oleh

Ekspor Mutiara Indonesia Kalah Bersaing dengan Hong Kong

Jakarta, Radar Pagi – Nilai ekspor mutiara Indonesia kalah jauh dibandingkan beberapa negara lain. Padahal Indonesia merupakan salah satu produsen mutiara terbesar di dunia.

Hingga 2018, Indonesia menempati urutan kelima negara pengekspor mutiara dengan nilai mencapai US$ 47,27 juta, kalah telak dibandingkan dengan Hong Kong di peringkat pertama yang mencapai US$ 483,29 juta.

Karena itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bertekad mengangkat posisi Indonesia, paling tidak bisa menggeser China di peringkat keempat yang mencatatkan ekspor US$ 56,29 juta.

Salah satu komoditas yang akan didorong oleh Menteri Edhy adalah mutiara jenis South Sea Pearl. Produksi mutiara jenis tersebut di Indonesia menguasai 50 persen dari jumlah produksi jenis yang sama di dunia. Beberapa sentra penghasilnya yaitu di Sumatera Barat, Lampung, Bali, Gorontalo, hingga Papua Barat.

Itu sebabnya, Kementerian dan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) menggelar Indonesia Pearl Festival ke-8. Festival yang fokus mengangkat South Sea Pearl ini diadakan di Atrium Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, dari 21 s/d 24 November 2019.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), Anthony Tanios mengakui nilai ekspor mutiara Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara lain. Meski demikian, kata dia, kualitas dari mutiara yang diekspor Indonesia sebenarnya lebih unggul dari negara lain.

“Secara kuantitas mungkin yang lain unggul, tapi secara kualitas, Indonesia,” kata dia.

Kebanyakan dari ekspor negara lain, kata Anthony, adalah mutiara jenis Freshwater Pearl. Jenis ini berasal dari perairan danau di Cina, khususnya wilayah Zhuji, dan sebagian kecil dari Jepang. Kualitas mutiara ini, kata Anthony, lebih rendah dari South Sea Pearl yang dimiliki Indonesia.

Di sisi lain, isu ekspor mutiara ilegal sebelumnya–sempat berembus beberapa tahun lalu–ditengarai menjadi penyebab ekspor Indonesia kalah dari negara lain. Anthony tidak membantah bahwa praktiknya tersebut masih ada sampai saat ini.

“Kami pernah tahu, ada yang menyelundupkan dengan cara memanipulasi barang yang sebenarnya sangat jelek, tapi kami belum tahu siapa,” ujarnya. (rian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed