oleh

Kayla Mueller, Korban Kebuasan Seks al-Baghdadi

Jakarta, Radar Pagi – Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi tewas dalam operasi pasukan khusus Amerika Serikat (AS) di Idlib, Suriah, beberapa waktu lalu. Salah satu pihak yang merasa sangat bersyukur atas tewasnya Wan al-Baghdadi adalah keluarga Kayla Mueller. Siapa sosok perempuan yang namanya dijadikan sandi operasi militer perburuan al-Baghdadi itu?

Kayla Mueller adalah aktivis pekerja sosial asal Arizona, AS, yang diculik ISIS di Suriah pada tahun 2013. Selama jadi sandera, dia dilaporkan diperkosa berulang kali oleh al-Baghdadi sebelum akhirnya tewas.

Kayla awalnya melakukan perjalanan ke perbatasan Turki-Suriah untuk bekerja bersama Dewan Pengungsi Denmark dan organisasi kemanusiaan Support to Life pada 2012 untuk membantu menyelamatkan warga Suriah dan Turki dari kekejaman ISIS.

Dia diculik bersama kekasihnya, pria Arab bernama Omar Alkhani, dan disandera oleh ISIS di Aleppo pada 2013. Ketika diculik, Kayla dan Omar baru saja mengunjungi rumah sakit Spanish Doctors Without Borders (Dokter Tanpa Batas Spanyol).

Berdasarkan informasi intelijen dan kesaksian tawanan lain yang selamat, Kayla diperkosa berulang kali oleh al-Baghdadi sebelum akhirnya diyakini tewas setelah disandera selama 18 bulan. Entah dimana mayatnya dibuang atau dikuburkan. Tubuhnya belum ditemukan hingga kini.

Padahal kala itu, Juli 2014, tentara AS telah mendekati lokasi penyanderaan untuk menyelamatkannya, setelah sebelumnya pasukan AS juga melancarkan serangan besar-besaran di sebuah kilang minyak dekat Raqqa di Suriah dalam upaya menemukan wartawan James Foley — yang akhirnya dieksekusi ISIS pada Agustus 2014 bersama sandera lainnya.

“Pasukan tersebut menemukan bukti sandera Mueller, termasuk tulisan-tulisan di dinding sel dan rambut yang diyakini milik Kayla Mueller,” kata seorang pejabat AS.

Sosok Keibuan

Dilansir dari Express.co.uk, edisi Minggu (25/9/2016) silam, seorang remaja perempuan berusia 15 tahun asal suku Yazidi yang biasa dipanggil Julia bersaksi tentang Kayla.

Julia biasa memanggil Kayla ‘kakak perempuan’. Menurut Julia, Kayla memiliki sifat keibuan. Ia menjaga tahanan perempuan lainnya yang lebih muda. Kayla yang bisa berbahasa Arab, dengan cepat akrab dengan Julia.

“Ia bahkan memberi baju miliknya untuk menutup muka kami dan mengatakan ‘jika ISIS datang, tutup muka kalian seperti pakai burka. Jangan sampai mereka melihat muka kalian’.”

Tentu saja taktik Kayla itu sia-sia. Personil ISIS yang tahu tawanannya adalah wanita membuka burka itu, dan ketika sadar tawanannya bohay punya, langsung dijadikan budak seks.

Setelah sebulan ditangkap, mereka berdua dikirim ke sebuah rumah. Rupanya, milik al-Baghdadi. Di sana mereka dijadikan budak seks lagi oleh orang yang paling dicari di seluruh dunia itu.

Julia mengatakan, Kayla diperkosa tiap malam oleh al-Baghdadi. Tapi Kayla tak pernah menunjukkan raut sedih. Dia selalu berusaha kelihatan tegar. Tapi Julia sering memergokinya menangis sendiri di malam hari.

“Ia mencoba untuk tidak menangis di depan kami, namun ketika sendiri, ia menangis,” lanjut Julia.

“Tiap bersama kami, ia selalu menyemangati kami.”

Julia bahkan berkorban atas kesempatannya untuk kabur demi keselamatan Julia.

“Aku berkata kepada Kayla, ‘kami ingin kabur’ dan aku memintanya untuk pergi bersama kami,” kata Julia.

“Namun ia berkata, ‘tidak, karena aku orang Amerika, kalau aku kabur bersamamu, mereka akan mencari cara untuk mencari kita lagi,’ lebih baik, kamu kabur sendiri. Aku akan tinggal di sini’,” kenang Julia.

Julia yang diculik di desanya di Irak saat berusia 13 tahun akhirnya berhasil kabur pada suatu malam dengan perempuan Yazidi lainnya. Mereka pun berhasil ditemukan oleh keluarga yang membantu kedua remaja itu kabur ke Kurdistan. Prediksi Kayla tepat. Tidak ada satupun petinggi ISIS yang berminat mencari kedua remaja Yazidi itu.

Operation Kayla Mueller

Nama aktivis 26 tahun itu dikenang lewat  “Operation Kayla Mueller”. Selama “Operation Kayla Mueller”, pasukan khusus AS bersama anjing pelacak mengejar pemimpin ISIS yang berusaha melarikan diri melalui terowongan.

Pemimpin kelompok teroris itu terpojok bersama istri-istri dan beberapa anaknya yang masih kecil, lalu meledakkan rompi bom bunuh diri ketika pasukan Amerika dan anjing pelacak mencoba mendekati mereka.

Marsha Mueller, ibu Kayla, mengaku mengetahui tentang kematian bos ISIS dari pengumuman Presiden Donald Trump yang disiarkan televisi.

“Kami sangat tersentuh oleh apa yang dia (Presiden Trump) katakan. Kami bersyukur bahwa mereka tidak main-main dan langsung masuk,” kata Marsha.

Carl Mueller, ayah Kayla, mengatakan kepada KPHO-TV bahwa berita kematian pemimpin ISIS membuatnya kaget.

“Tentu saja itu mengejutkan,” katanya. “Satu menit Anda duduk di sini menonton film, dan menit berikutnya Anda mendapatkan berita bahwa pria yang memerkosa dan mungkin membunuh putri Anda telah terbunuh,” katanya, seperti dikutip dari The Independent, Selasa (29/10/2019).

Marsha Mueller menambahkan kepada CNN bahwa berita kematian al-Baghdadi memberi keluarganya harapan bahwa mereka akhirnya bisa mendapatkan beberapa jawaban tentang kematian putrinya, dan membawa jenazahnya pulang.

“Karena kemungkinan satu persen itu, bagaimana Anda benar-benar menyerah sampai Anda memiliki rumahnya?” tanya Marsha. “Kami ingin Kayla pulang, dan saya tahu itu terdengar seperti tugas yang mustahil, tetapi setelah apa yang kami lalui, hal-hal yang muncul dan terjadi, saya yakin kita mungkin menemukannya.”

Carl Mueller menambahkan; “Kami merasa inilah saatnya. Dia (al-Baghdadi) terbunuh, beberapa letnannya telah ditangkap, dan siapa lagi yang tahu apa yang terjadi pada Kayla selain orang-orang yang dekat dengannya? Seseorang, dan mungkin salah satu dari orang-orang ini yang ditangkap kemarin, tahu apa yang terjadi dan tahu siapa yang membunuhnya.”

Keluarga Kayla mengaku bersedia melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk mendapatkan jawaban-jawab dari pertanyaan tersebut. (dari berbagai sumber)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed