oleh

Teater Koma Bakal Pentaskan Lagi Lakon J.J Sampah-Sampah

Jakarta, Radar Pagi – Teater Koma akan tampil kembali lewat lakon berjudul J.J Sampah-Sampah Kota di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8-17 November 2019. Acara yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation merupakan produksi ke-159.

Lakon tersebut ditulis oleh Nano Riantiarno dan telah dipentaskan oleh Teater Koma pada 1979. Setelah 43 tahun berlalu, lakon tersebut dipentaskan kembali dengan arahan Rangga Riantiarno, putra Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno, sebagai sutradara.

“Saya memilih untuk mementaskan kembali lakon ini karena kisah para pemegang kekuasaan mempermainkan orang-orang kecil nyatanya, dan ironisnya tidak lekang oleh waktu. Selalu terjadi, terulang kembali, tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia,” kata Rangga dalam jumpa pers yang diadakan di Sanggar Teater Koma, Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (29/10/2019).

Rangga menambahkan bahwa dalam rentang waktu yang cukup lama untuk kembali mementaskan lakon tersebut, dia melakukan sejumlah tambahan dan perubahan.

“Para pemainnya tentu berbeda. Ada tokoh-tokoh yang dulu diperankan pria, kini dimainkan wanita. Multimedia juga jadi elemen baru dalam pementasan kali ini, karena ada satu tokoh yang hanya dimunculkan via multimedia. Menariknya, tokoh ini akan berinteraksi dengan tokoh lain, bahkan bernyanyi,” papar Rangga Riantiarno.

Lakon J.J Sampah-Sampah Kota berasal dari dua karakter Jian dan Juhro, dua orang gila yang ditemui Nano di Cirebon, Jawa Barat. Lakon tersebut ditulis saat Nano diundang ke Amerika Serikat pada 1978.

“Di sana (Amerika) saya hanya mengikuti satu kali seminar dan memang tujuannya menulis selama enam bulan. Saya menulis lakon ini di sana,” ungkap Nano Riantiarno dalam konferensi pers yang sama.

Lakon ini berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Ia digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan. Meski begitu dia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat dan gembira. Bersama Juhro, yang tengah hamil tua, dia hidup bahagia.

Semua ini tak lepas dari pengawasan Mandor Kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa dipertahankan. Suatu hari, Para Pemutus menjatuhkan tas berisi uang yang amat banyak di sekitar tempat Jian bekerja. Jian panik. Apa yang sebaiknya dia lakukan?

“Bicara soal sampah dan penguasa korup memang seolah tak ada habisnya di setiap era. Namun bagaimana dengan kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran pada era di mana ketidakadilan dan ketidakjujuran bisa dengan mudahnya ditemui di sudut kota mana pun?” demikian keterangan dalam siaran pers terkait kisah J.J Sampah-sampah Kota.

“Jawabannya, tentu tidak sesederhana itu. Sama halnya dengan, betapa tidak sederhananya mementaskan kembali lakon yang sudah dipentaskan puluhan tahun lalu di era sekarang.” (eka)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed