oleh

Tiga Kelompok Kaidah Jurnalistik

Penulis: Yunanto

Saya terus mencermati publikasi jurnalis di berbagai media siber (media online). Nyaris setiap hari. Tentu, terbatas pada publikasi yang bisa saya akses. Lewat grup WA maupun  jaringan pribadi (japri).

Hasil dari pencermatan tersebut adalah catatan. Tepatnya, serangkaian catatan. Lantas saya mencoba menyimpulkan. Siapa tahu bermanfaat. Paling tidak, untuk diri saya sendiri.

Bertolak dari serangkaian catatan tersebut, saya menyimpulkan. Intinya, ada tiga kelompok kaidah jurnalistik yang sangat perlu perhatian dari rekan-rekan jurnalis media online. Maknanya, perlu ditingkatkan kualitasnya.

Tiga kelompok kaidah jurnalistik dimaksud meliputi:

( I ) Kelompok kaidah Bahasa Indonesia Jurnalistik;

( II ) Kelompok kaidah “melek” hukum;

( III ) Kelompok kaidah kelayakan publikasi.

Kelemahan yang perlu  diperbaiki di kelompok kaidah Bahasa Indonesia Jurnalistik meliputi:

(1) Kaidah singkat, lugas, logis, taat kata baku, mudah dicerna, dan enak dibaca;

(2) Kaidah wajib berhemat kata;

(3) Kaidah wajib memiliki kekayaan perbendaharaan kata;

(4) Kaidah paragraphing  atau pembuatan alinea.

Kaidah wajib “melek” hukum masih nampak kelemahan mencolok pada pemahaman terhadap Hukum Acara Pidana dan hak kontrol jurnalis. Selain itu juga pemahaman terhadap KUHP, UU Pers, UU ITE, Kode Etik Jurnalistik dan tafsirnya.

Kaidah kelayakan publikasi pun kelemahannya lumayan mencolok.

Saya catat:

(1) Kurang cermat dalam kajian kelayakan publikasi dari aspek peristiwa, narasumber dan nilai berita;

(2) Tidak menerapkan strategi mencari bahan berita;

(3) Kurang memahami teknik mengolah bahan berita;

(4) Tidak/belum memahami teknik meningkatkan nilai berita lewat elemen why dan how;

(5) Kurang memahami teknik mengolah bahan berita kasus agar aman dari jerat delik pers.

Tiga kelompok kaidah jurnalistik tersebut sangat mendasar bagi jurnalis.

Sesungguhnya, tiga kelompok kaidah tersebut sudah saya sampaikan (ajarkan) kepada peserta Diklat Jurnalistik LASMI Angkatan IV/2018.

Lebih khusus lagi, tiga kelompok kaidah berjurnalistik itu pun sudah dibukukan oleh alumni sendiri.

Entahlah. Mengapa implementasi tiga kelompok kaidah jurnalistik tersebut masih belum baik.

Saya menduga, semangat belajar yang kurang.

Idealnya, ditingkatkan.

Kuncinya pada niat.

Semoga. ***

*) Penulis mantan jurnalis, kini aktif sebagai editor buku dan instruktur diklat jurnalistik di Lembaga Supremasi Media Indonesia (LASMI) Kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed