oleh

Barista Single Origin Goedden Bendosari, di Sini Kita Bisa Minum Kopi Bayar Seikhlasnya

Kab. Malang, Radar Pagi – Wangi kopi jenis Arabika Gayo ala Bendosari menguar di depan rumah salah satu penggerak komunitas DC2 (Difabel Creative Community) di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Terlihat di depan rumah itu, sebuah stand bertuliskan “Barista”. Seduhan kopi tanpa gula yang berasa asam dan menyegarkan disajikan di sana. Seorang pria muda bernama Gatot Suprianto menyeduh kopi tersebut dengan telaten dan cekatan.

Dia menuang air panas dari teko ke alat seduh kopi manual brewing, V60. Bubuk kopi itu hasil penggilingan mesin grinder yang dimasukkan ke alat seduh berlapiskan penyaring dari kertas.

Satu per satu pengunjung kemudian dipersilahkan untuk belajar menyeduh sambil menyesap kopi.

“Kopi tubruk racikan kami juga disukai,” kata Bemmo, sapaan akrab Gatot Suprianto, Jumat (25/10/2019).

Bemmo merupakan Ketua DC2, yaitu pusat peduli penyandang disabilitas di Kecamatan Pujon. Bersama rekannya, Agus Widodo, mereka aktif menjalankan program Barista Inklusi Program Peduli DC2.

Keduanya sering mengadakan even-even peduli difabel, salah satunya membuka stand kopi Barista.

Kegiatan Kopi Peduli Difabel ini dilakukan setiap hari dan rencananya akan diadakan even lain lagi untuk membantu kaum difabel.

Karena itu, di sini kopi disajikan dengan harga seikhlasnya. Penikmat kopi boleh membayar berapa saja. Uang hasil penjualan kopi kemudian dikumpulkan dan disumbangkan kepada penyandang difabel.

“Intinya bukan nominal atau berapa yang disumbangkan, tetapi nilai kepedulian kita untuk mereka yang membutuhkan,” ujar Agus Widodo.

“Kegiatan seperti ini sebenarnya sudah ingin kita lakukan dari dulu, kita lihat di Malang kota mereka semua pada melakukan kegiatan peduli sesama, dan sekarang kami bisa melaksanakan kegiatan ini,” sambungnya.

Bemmo dan Widodo berharap masyarakat, pengusaha, dan pemerintah desa hingga daerah, bisa bergerak bersama untuk meringankan beban penyandang disabilitas.

DC2 bukan hanya beranggotakan penyandang disabilitas, namun mereka yang bertubuh kecil, pembelajar yang lambat, orang dengan disabilitas psiko sosial yang salah satunya adalah bipolar, juga bisa bergabung dengan komunitas ini.  (Med)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed