oleh

Sempat Kelihatan Mesra dengan Jokowi, AHY Tidak Jadi Menteri

Jakarta, Radar Pagi – Komposisi koalisi Kabinet Kerja Jilid II sudah diumumkan. Ternyata tidak ada satupun kader Pardai Demokrat di dalamnya. Padahal, Partai Gerindra yang seolah merupakan ‘musuh bebuyutan’ saja diajak bergabung ke dalam koalisi.

Ketua Umum Kelompok Relawan Jokowi Mania, Imannuel Ebenezer, mengklaim Jokowi ingin ada keseimbangan dalam pemerintahannya, sehingga Demokrat diminta untuk tetap menyandang status sebagai oposisi.

Namun pengamat politik dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Indonesia (PK{EI). Barata, menilai tertutupnya pintu kabinet Jokowi-KH Ma’ruf Amin untuk Partai Demokrat gara-gara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diyakini terlalu ngotot untuk mempertahankan anak sulungnya tersebut masuk dalam kabinet.

“SBY terlalu ngotot mengkarbit AHY untuk buru-buru tampil di pentas politik nasional, orang jadi banyak yang menganggap remeh kemampuannya, mengingat dia masih sangat muda. Padahal, kemampuan sebenarnya tidak tergantung usia, dan soal pengalaman nanti bisa ditutupi oleh orang-orang di sekelilingnya, tapi image sebagai anak bau kencur itu loh nggak bisa diterima orang kebanyakan,” kata Barata saat dihubungi melalui selular, Rabu (23/10/2019).

Sudah begitu, kata Barata, AHY berpotensi menjadi calon rival terkuat dalam Pemilu 2024 mendatang. Itu bisa jadi ancaman serius bagi PDIP yang jelas juga akan maju lagi dalam pemilu berikutnya.

“Kita tidak tahulah siapa tokoh yang bakal jadi calon kuat untuk menduduki tahta RI di 2024 nanti. Yang jelas, dilihat dari segi umur, sepertinya peluang Prabowo sudah habis. Dari deretan tokoh saat ini, baru kelihatan dua orang menurut saya, AHY dan Anies Baswedan,” katanya.

AHY, kata Barata, 5 tahun lagi sudah matang dalam berpolitik dan itu bisa merubah pandangan orang dari antipati menjadi simpati. Sementara Anies yang terkenal jago memainkan isu SARA bisa memanfaatkan unsur sentimen agama dan etnis lagi seperti terlihat dalam Pilgub DKI kemarin.

“Masyarakat kita kan gampang dibodohi dengan isu SARA, nah di situlah peluang Anies,” kata Barata.

Dia menyebut tidak terpilihnya AHY dalam kabinet sekarang memang menjadi anti klimaks dari kemesraan yang sempat dipertontonkan. Sebagaimana diketahui, SBY baru-baru ini sempat menemui Jokowi, lalu sebelumnya AHY juga melakukan hal yang sama.

Jauh sebelum itu, kedua putra SBY didampingi istri masing-masing juga bersilaturahmi ke kediaman Megawati saat idul fitri kemarin. Foto selfi mereka yang dipenuhi tawa bahkan tersebar ke mana-mana. Lalu Megawati pun datang melayat saat Ani Yudhoyono meninggal dan bersalaman dengan SBY untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Apakah semua itu sandiwara belaka?

“Kalau dibilang sandiwara ya memang sandiwara, sebab di politik tidak pernah ada yang namanya sahabat sejati. Semua serba kepura-puraan. Itu sebabnya kan pernah ada yang bilang kalau ulama sebaiknya tidak berpolitik, sebab nanti bisa terjerumus sikap berpura-pura. Saya nggak nyindir siapa-siapa loh,” kata Barata tertawa. (arman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed