oleh

Ki Kusumo Gandeng Sineas Hong Kong dan China Garap Film Lo Ban Teng

Jakarta, Radar Pagi – Produser, aktor, sekaligus paranormal kondang Ki Kusumo bakal menggarap film kungfu berjudul Lo Ban Teng. Film yang diadaptasi dari kisah nyata pendekar Pulau Jawa yang berasal dari  Tiongkok ini bakal menelan biaya produksi puluhan miliar. Tingginya biaya produksi dikarenakan sebagian adegan diambil langsung di Negeri Tirai Bambu.

“Karena film ini berkisah tentang pemuda dari Tiongkok, saya mengambil sebagian lokasi syutingnya juga di sana. Jadi biaya produksinya lumayan besar, hingga puluhan miliar,” ujar Ki Kusumo ketika dikornfirmasi Radar Pagi melalui selular, Sabtu (18/10/2019).

Tidak tanggung-tanggung, Ki Kusumo yang dikenal juga sebagai praktisi dan guru Kungfu Wing Chun aliran Ip Man ini juga bekerjasana dengan sineas asal Hongkong dan China sebagai sutradara dengan harapan film ini juga bisa diputar di luar negeri.

Meski berdasarkan kisah hidup (biografi), namun Ki Kusumo menegaskan jika film Lo Ban Teng bukan film drama, tetapi bergenre action yang dipenuhi aksi laga. “Benar-benar film action, dari awal sampai akhir berisi adegan perkelahian mendebarkan,” tegasnya.

Untuk urusan pemain, Ki Kusumo menerangkan jika pemerannya perpaduan antara aktor dan aktris Indonesia-China. Dalam waktu dekat pihaknya bakal casting mencari pemain.

“Kami akan segera melakukan casting di beberapa kota,” ujarnya.

Rencananya film Lo Ban Teng akan diproduksi tahun 2019 ini dan bisa tayang tahun depan.

“Targetnya 2020 sudah tayang di bioskop-bioskop, baik di dalam negeri atau di mancanegara,” katanya.

Lo Ban Teng semasa muda

Pendekar Kungfu Legendaris

Lo Ban Teng lahir di Desa Tang-Ua-Bee-Kee, Kota Cio Bee, Provinsi Hokkian, China, pada tahun 1886. Ayahnya, Lo Ka Liong, membuka usaha arak bernama Kim Oen Hap. Keluarga Lo Ban Teng merupakan pendatang di Kota Cio Bee, karena orangtuanya sebenarnya berasal dari Kota Eng Teng.

Sejak umur 14 tahun, Lo Ban Teng sudah belajar kungfu pada seorang guru di desanya. Karena merasa jago kungfu, dia bersikap arogan di depan segerombolan pemuda hingga dikeroyok oleh mereka. Lo Ban Teng pun babak belur. Selepas kejadian tersebut, Ban Teng malah semakin getol belajar kungfu.

Saat usianya 17 tahun, ayahnya yang khawatir dengan ambisi kungfu Lo Ban Teng yang kelewat besar akhirnya mengirim anaknya itu untuk tinggal di rumah saudara misannya (Chin-Thong) di Kampung Selan, Semarang.

Lo Ban Teng ternyata tidak betah. Tujuh bulan merantau ke Semarang, dia nekad kembali ke Tiongkok. Di negeri asal, Ban Teng kembali giat berlatih kungfu. Suatu hari, dia mendengar tentang ilmu gingkang yang dapat membuat pemiliknya melompat hingga ke atas genteng. Dia pun belajar ilmu tersebut pada Yoe Tjoen Gan.

Yoe Tjoen Gan adalah seorang di antara 5 murid terbaik dari ahli silat Tjoa Giok Beng dari Coan-ciu, pemimpin cabang silat Siauw Lim Ho Yang Pay. Yoe Tjoen Gan meninggal ketika Ban Teng berusia 27 tahun, namun sempat mewariskan kepada Ban Teng sejilid buku resep obat dan sejilid buku tentang ilmu silat Ho Yang Pay, serta sebuah ikat pinggang dari kulit yang sampai sekarang masih disimpan anak cucu keturunannya.

Setelah Yoe Tjoen Gan meninggal, Lo Ban Teng tetap belajar kungfu pada guru lain, terutama pada paman-paman gurunya, saudara seperguruan Yoe Tjoen Gan. Ban Teng mulai mendapat kemasyhuran sebagai jago kungfu setelah mengalahkan pendekar bernama Heng Goan Say yang terkenal dengan jurus tendangan geledeknya.

Lo Ban Teng yang dikenal dengan julukan Pek Bin Kim Kong (Malaikat berwajah putih) datang kembali ke Semarang pada tahun 1927 saat  berusia kira-kira 41 tahun.

Namanya dikenal luas di Pulau Jawa setelah di tahun 1931 dia berkeliling ke berbagai daerah dengan rombongan barongsay yang dia bina. Sambil menghibur warga setempat, Ban Teng selalu membagikan pamflet dan memasang papan pengumuman berisi tantangan duel pada guru-guru kungfu setempat. Tapi hingga bertahun-tahun tidak ada yang berani melayani tantangan Ban Teng yang memang terkenal cepat naik darah dan ‘bersumbu pendek’ bila sudah menyangkut soal kungfu.

Pada tahun 1938 dia pindah ke Batavia (Jakarta) dan meninggal pada 27 Juli 1958 dalam usia 72 tahun.

Sesaat sebelum meninggal, bukannya memberikan wasiat berguna, Ban Teng malah sesumbar bahwa saat dirinya mati, dia akan menunjukkan kehebatannya untuk terakhir kali. Mungkin hal itu dia ucapkan untuk menggugah semangat penerusnya agar tekun berlatih kungfu, karena dari sekian banyak anaknya, hanya seorang saja yang bernama Lo Siauw Gok yang saat itu benar-benar rajin berlatih.

Ucapan Ban Teng jadi kenyataan. Jenazahnya tidak bisa habis terbakar meski kayu yang digunakan untuk membakarnya sudah habis dan ditambah berkali-kali. Sepertinya hal itu memperlihatkan kehebatan tenaga dalamnya yang terus ada bahkan sampai pemiliknya mati. Namun setelah Lo Siauw Gok berdoa dan mengakui kehebatan ayahnya di depan jenazah, barulah jenazah Ban Teng bisa terbakar sampai jadi abu. (maryono)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed