oleh

Nurbaiti Sari Bertukar Ide Kreasi dengan WBP

-Sosok-37 views

Karang Intan, Radar Pagi – Mendengar kata ‘penjara’ bagi sebagian orang terkesan menakutkan. Meski kata tersebut telah diperhalus menjadi ‘lembaga pemasyarakatan’, namun penggambaran sebuah tempat yang keras, suram dan dingin tetap terpatri dalam benak kebanyakan orang.

Begitulah juga yang awalnya dibayangkan oleh Nurbaiti Nasir ketika lulus CPNS Kemenkumham pada tahun 2017. Namun lambat laun pandangan itu berubah.

“Ternyata penjara tidak sekeras yang dibayangkan banyak orang,” kata Titi, panggilan akrab single kelahiran Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 11 Mei 1995 ini.

Di dalam penjara, kata Titi, justru ramai dengan beragam kegiatan yang bisa menjadi modal ketrampilan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) selepas masa hukuman berakhir.

Titi mencontohkan jenis ketrampilan yang diberikan kepada WBP di Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan, Kalimantan Selatan, tempatnya mengabdi. Dari pembuatan miniatur rumah Banjar, aneka olahan dari Kain Sasirangan hingga seni musik diajarkan di sana.

Meski tidak terlibat langsung dalam pemberian materi kepada WBP, karena Titi bertugas di bagian Geledah Badan Pengunjung Wanita dan Anak, serta diperbantukan di Staf Tata Usaha UMUM, namun sehari-harinya dia tetap melihat kesibukan WBP dalam mempelajari ketrampilan.

“Terkadang aku sampai merasa sedang berada di sebuah miniatur kampung budaya,” ujarnya.

Apalagi Titi tetap bisa berinteraksi dan saling bertukar pengalaman serta kreativitas dengan WBP dalam kegiatan pembinaan kemandirian. Latar belakang Titi yang Sarjana Pendidikan Seni memang mendukung terjadinya pertukaran ide semacam itu.

Menurut pemilik akun Instagram Bubu.titi ini, beberapa produk kerajinan WBP seperti miniatur rumah Banjar telah dipasarkan di CBS Martapura. Hal itu menambah semangat para WBP untuk terus berkarya. “Terkadang saya juga turut memberi semangat kepada mereka,” katanya.

 

Suka Seni Tradisional

Bermodalkan motto “Ketika tidak menemukan sebuah jawaban, menikmati segala proses, kelak elemen waktu yang akan menjawab dengan sebuah kebahagiaan, Titi tidak putus asa ketika pada tahun 2013 tidak lulus tes CPNS Kemenkumham saat mendaftar sebagai sipir. Kesabarannya berbuah ketika dia kembali mendaftar pada tahun 2017 dan diterima.

“Mungkin rezekinya memang di tahun 2017. Saat itu segala sesuatu terasa ringan, cepat dan transparan, mulai tahapan seleksi hingga pengumumannya. Ini rencana Tuhan yang sangat indah. Pada 1 Februari 2019, saya resmi diambil sumpah/janji PNS di lingkungan Kemenkumham,” tuturnya.

Tidak neko-neko dalam menjalani kehidupan menjadikan Titi enjoy menjalani hari-harinya. Dia terbiasa membagi waktu antara pekerjaan dan hobi.

Di luar jam kerja, dia hanya bersantai di rumah atau berlibur menikmati wisata lokal bersama sahabat maupun keluarga. Sesekali dia juga menghadiri pertunjukan seni, terutama seni tari dan teater tradisional maupun modern.

Penyuka film komedi dan musik indie ini merasa dengan menari dan menekuni teater, khususnya teater tradisional, dirinya bisa mengenal lebih dalam budaya daerah. Itu sebabnya, ketika ada pagelaran kesenian, dia selalu meluangkan waktu untuk mengapresiasi pementasan tersebut.

“Akhir-akhir ini aku juga sedang mengerjakan Tugas Akhir Skripsi di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin,” ujarnya. (Tabloid KUMHAM)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed