oleh

Jadi Tersangka Hoaks dan Rasisme, Polisi Belum Tahan Mantan Caleg Gerindra

Surabaya, Radar Pagi – Mantan caleg Partai Gerindra, Tri Susanti (52), yang dijadikan  tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, dan rasisme di asrama mahasiswa Papua hingga kini belum ditahan.

Polisi baru melakukan pencekalan kepada tersangka yang merupakan warga Bhaskara Utara Mulyorejo, Surabaya itu.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti seperti 11 lembar screen shoot percakapan, 4 handphone, kemeja lengan panjang warna biru, topi, syal dan beberapa akun tersangka di media sosial.

“Ada dua kasus yang ditangani dua tim. Pertama kasus penghinaan bendera merah putih yang ditangani Polrestabes Surabaya. Kedua terkait kasus penyebaran hoaks dan provokasi yang ditangani Polda Jatim,” kata Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan, beberapa saat lalu.

Sejauh ini, kata Luki, penyidik sudah memeriksa 29 saksi, meliputi 7 ahli dan 22 saksi dari masyarakat sekitar.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Tri Susanti dijadikan tersangka hoaks, ujaran kebencian dan rasisme setelah penyidik menggelar perkara terhadap Koordinator aksi pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10 Surabaya, pada 16 Agustus 2019 silam.

Mantan Caleg Gerindra

Dikutip dari Okezone, Tri Susanti merupakan mantan caleg Gerindra untuk DPRD Kota Surabaya. Dia berangkat dari dapil 3 meliputi Kecamatan Bulak, Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut, Tenggilis Mejoyo, Wonocolo, dan Gunung Anyar.

Tri Susanti mendapat nomor urut 8 pada Pileg 2019. Namun, dia gagal duduk di kursi DPRD Kota Surabaya periode 2019-2024 lantaran kurangnya suara yang diraih dalam Pileg 2019.

Tri Susanti juga pernah menjadi saksi untuk pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dalam sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). Tri Susanti menjadi salah satu saksi yang diajukan tim kuasa hukum Prabowo-Sandi.

Dalam kesaksiannya, Susi mengungkap dugaan lima daftar pemilih tetap (DPT) fiktif di sekitar tempat tinggalnya. Namun, ketika hakim menanyakan apakah kelima DPT yang diduga fiktif itu menggunakan hak pilihnya, Susi tidak dapat memastikan.

Tri Susanti menjadi korlap aksi pengepungan Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jatim. Aksi tersebut dilakukan untuk mengusut perusakan bendera merah putih yang ada di depan AMP. Susi merupakan anggota Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) Surabaya. Namun, belakangan Susi dipecat sebagai anggota FKPPI Surabaya setelah kasus dugaan rasisme mencuat.

Gara-gara kasus ini, Papua sekarang sedang begejolak. Aksi demo terjadi dalam skala besar di sana sampai-sampai pemerintah memutus jaringan internet di Papua untuk batas waktu yang belum ditentukan  guna mencegah tersebarnya provokasi. Demo terjadi karena warga Papua tersinggung dengan ucapan rasis yang terdengar saat rombongan Tri menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Surabaya, dimana saat itu teriakan ‘monyet’ berulangkali terdengar. (gunawan)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed