oleh

Saurip Kadi: NKRI Bersyariah? No Way!

-Utama-142 views

Brebes, Radar Pagi – Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi menanggapi pertanyaan wartawan mengenai wacana  NKRI Bersyariah. Mantan Aster Kasad itu menilai banyak perubahan besar terjadi di dunia. termasuk di Indonesia. Karena itu dia meminta masyarakat tidak terkejut kalau mendengar ada gagasan baru seperti NKRI Bersyariah.

“Bicara Syariah, mau bicara Judul apa Isi? Kalau bicara judul, rakyat kita 95% lebih muslim, maka dengan menyebut rakyat saja artinya mengkait kepentingan 95% muslim. Namun kita harus tahu, bahwa bicara soal syariah dalam bernegara, para pendiri bangsa dulu sudah final untuk menghapus  istilah tersebut, demi lahirnya NKRI tanpa diskriminasi terhadap pengikut agama lainnya,´ ujar Saurip di sela-sela Haul ibundanya di Brebes, beberapa waktu lalu.

“Jadi yang sudah final jangan diungkit-ungkit lagi. Ini kan ‘akad nikah’ kita ber-NKRI. Waktu tenaga dan juga biaya jangan dikeluarkan untuk hal-hal yang bakal melahirkan perselisihan,” sambungnya.

Menurut Saurip, syariah adalah kewajiban semua ummat Islam untuk menjalankannya. Persoalan yang kita hadapi adalah syariah yang mana yang harus kita pedomani? Karena Allah SWT sendiri tidak mengatur tata nilai yang setiap saat bisa berubah sesuai perkembangan zaman.  Untuk nilai-nilai keillahian semua juga tahu itu akan kekal. Begitu juga nilai-nilai instrinsik yang diajarkan oleh Kanjeng Rosul, juga akan langgeng. Tapi begitu mengkait nilai operasional dan apalagi nilai terapan lainnya, tak terkecuali tata cara ritual kan adanya di Fiqih. Jangankan tentang bernegara, syariat sholat dalam arti tata cara ritual sembahyang yang meliputi gerakan, bacaan, jumlah rakaat dan juga waktu saja adanya kan di Fiqih,” ujar Saurip Kadi.

Dia berpendapat mustahil Allah SWT dan Kanjeng Rosul mematok aturan kehidupan manusia  dalam bernegara. Karena tidak mungkin Tuhan melalui Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW membakukan isi UUD dan perundang-undangan dalam  bernegara. “Kalau semua semua diposisikan sebagai sunnah Rosul,  yaa sudah kalau kita pergi kemanapun baiknya naik onta saja,” ujarnya.

Dan ketika kita bicara Fiqih, tambah Saurip, maka akan timbul perdebatan panjang, jangankan antar ummat beragama, sesama muslim saja dijamin akan ribut. Karena, mustahil kita bisa menyatukan FIQIH untuk semua madzab yang ada. Dan kalau itu diterus-teruskan akhirnya agama akan berubah menjadi sumber malapetaka kemanusiaan.

“Lagi pula berkat kemajuan IT, soal pengaturan negara dengan nilai-nilai Islam disadari atau tidak, realitanya sudah tergelar kok. Lihat itu GOJEK dan UBER ini kan nilai-nilai ekonomi Syariah (Islam). Sebentar lagi juga ada Mata Uang Crypto yang tidak lagi menginduk pada salah satu mata uang, dengan demikian untuk transparansi dan keadilan lintas bangsa secara otomatis juga akan terwujud. Daripada meributkan istilah, maka kita beri judul saja dengan istilah ekonomi kerakyatan atau gotong royong atau koperasi, kan maknanya sama saja,” tegas Saurip Kadi.

Intinya, kata dia, untuk nilai-nilai yang akan berubah sesuai  kemajuan peradaban,  termasuk yang dulu tergelar saat Kanjeng Rosul masih sugeng, jangan diposisikan sebagai konsep baku dari Tuhan. Sudah pasti, kalau kaitannya nilai luhur atau nilai instrinsik dan apalagi nilai keillahian, yaa wajib hukumnya untuk kita junjung tinggi.

“Tegasnya, kalau pakai embel-embel NKRI Bersyariah segala, No Way-lah. Karena itu hanya akan meretakkan kebhinekaan kita. Dan jangan gunakan alasan karena mayoritas muslim segala lah. NKRI kan tidak mengenal mayoritas – minoritas. Kita gak usah mengembangkan alasan karena Islam melindungi semua agama segala. Sesama muslim, faktanya banyak kok yang saling menindas, bahkan sampai peradaannya kini hancur lembur. Negaralah yang wajib melindungi semua agama, suku dan kebhinekaan lainnya,” pungkasnya. (Igo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed