oleh

Akses Jalan Dibuka, Warga Taniwel Kini Bisa Angkut Hasil Panen dengan Mobil

Maluku, Radar Pagi – Masyarakat Desa Buria sampai Ririn Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) terbebas dari keterisolasian pasca dibukanya akses jalan di tujuh Desa, yakni Desa Uweth, Laturake, Buria, Lohiasapalewa, Ririn,  Rumahsoal dan Desa Niniari. Dampak positif bagi perekonomian masyarakat pun terasa di tujuh desa itu.

Sebelum adanya pembukaan jalan, masyarakat sangat terisolir dari segi transportasi. Warga di seputaran Taniwel apabila ingin menjual hasil komoditi pertanian harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 5 sampai 10 Km untuk bisa sampai ke pasar.

Hal ini disampaikan salah satu tokoh adat Desa Ririn Edward Lumaesa kepada Radar Pagi di sela-sela acara kunjungan Kapolres Seram Bagian Barat (SBB) dalam rangka meninjau lokasi pembangunan Pospol dan Polsek Persiapan Taniwel Selatan di Desa Buria, baru-baru ini.

Menurut Edward, dengan adanya pembukaan akses jalan itu, masyarakat tidak lagi berjalan kaki dikarenakan sudah ada kendaraan yang mengangkut hasil pertanian ke pasar tradisional di Lohiasapalewa.

“Kami masyararakat tujuh desa di Pegunungan Taniwel, teristimewa masyarakat Desa Ririn, merasa sangat bersyukur dan merdeka dengan adanya penggusuran jalan oleh Pemerintah Kabupaten SBB. Sebab dengan adanya pembukaan akses jalan ini, masyarakat tidak lagi berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk menjual hasil pertanian mereka ke Pasar Lohiasapalewa, karena semua hasil kami diangkut dengan menggunakan oto (mobil) atau motor,” ungkap Edward.

Lebih lanjut Edward mengatakan, dengan adanya pembukaan akses jalan, maka otomatis berdampak pula terhadap pendapatan masyarakat. “Kalau sbelum ada jalan, hasil yang kami jual tidak seberapa karena kemampuan kami untuk memikul beban tidaklah seberapa, tetapi sekarang hasil yang kami jual bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan kilogram, karena diangkut dengan mobil,” kata Edward.

Delfia Lumaesa, salah satu warga Ririn, juga mengatakan hal yang sama. Dia mengaku dengan adanya jalan ini, dirinya tidak lagi membantu suami memikul hasil pertanian seperti damar, coklat, kopra dan lainnya untuk dijual di pasar.

“Sebelum ada jalan, beta biasa bantu suami memikul hasil kebun untuk dijual ke pasar dengan berjalan kaki, tapi setelah jalan ini digusur saya merasa sangat senang karena saya dan suami tidak lagi berjalan kaki untuk menjual hasil kebun ke pasar tapi sebab sudah ada mobil yang mengangkut langsung ke pasar,” kata Delfia.

Sesuai pantauan Radar Pagi di dua desa, yakni Desa Buria dan Ririn, diketahui masyarakat di sana masih membutuhkan banyak perhatian dari pemerintah baik daerah maupun pemerintah pusat, seperti sarana air bersih, puskesmas, sarana telekomunikasi, sarana pendidikan yang memadai, renaga medis dan tenaga guru. (jabar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed