oleh

Sebelum Dihabisi, PNS Kemenag Sempat Hubungan Intim dengan Pelaku

-Hukum-1.254 views

Bandung, Radar Pagi – Komsatun Wachidah (51) PNS Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandung ternyata dibunuh Deni Prianto dengan cara dipukul kepalanya menggunakan palu usai berhubungan intim di kamar kost pelaku.

“Posisinya membelakangi saya, lalu saya pukul kepalanya tiga kali,” ujar Deni, saat rekonstruksi di lokasi pembunuhan di kost pelaku yang terletak di belakang lapangan futsal BSD, Jalan Rancamekar, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Sabtu (13/7/2019).

Kamar kost yang menjadi lokasi TKP pembunuhan terbilang kecil, berukuran 3×3 meter, berbau lembab dan dilengkapi kamar mandi. Sebelumnya kepada polisi, Deni mengaku membunih Komsatun di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Namun belakangan diketahui korban dibunuh di kamar kost ini.

Kepada penyidik, Deni menjelaskan kronologi pembunuhan. Saat itu Minggu (7/7/2019) Deni dan korban bertemu di kontrakan itu. Mereka pun melakukan hubungan suami istri. Setelah puas, Deni mengambil palu dan langsung menghajar kepala belakang korban tiga kali.

Deni lantas menyeret korban ke dalam kamar mandi. Saat di kamar mandi, tiba-tiba korban bergerak-gerak, Deni langsung memukul kepala korban kembali dengan palu.

“Saya pukul karena masih bergerak,” kata Deni yang baru beberapa bulan bebas dari penjara lantaran menculik seorang mahasiswi ini.

Setelah korban benar-benar tak bernyawa, Deni keluar kamar mandi. Dia tampak santai di ruangan sambil merokok. Setelah itu, Deni lantas mengambil uang Rp 300 ribu dari dompet korban. Uang itu lalu dibelanjakan perlengkapan dari mulai golok, kantung plastik dan 3 buah kontainer plastik.

Setelah membeli perlengkapan, pelaku lantas melakukan aksi mutilasinya. Mutilasi dilakukan di dalam kamar mandi di posisi akhir korban.

“Dipotong tiga bagian. Kepala dan tangan, badan lalu pinggul ke bawah,” kata Kanit III Reskrim Polres Banyumas Ipda Rizky Adhiyanzah.

Rizky mengatakan usai memutilasi potongan tubuh korban dibawa ke dalam mobil milik korban. Deni lantas membawa mobil itu ke daerah Banyumas.

Lokasi pertama yang didatangi yakni Jalan Raya Klampok-Sempor. Lokasi ini diduga merupakan lokasi pertama pembuangan potongan tubuh korban.

“Semua potongan tubuh dibakar,” kata Rizky.

Pamit Bilang Mau Servis Mobil

Sebelum tewas dimutilasi, Komsatun Wachidah izin kepada suaminya Soib (51) untuk menservice mobil. “Istri saya meninggalkan rumah Minggu, (7/7) sekitar Pukul 09.00 WIB, dengan alasan mau ke bengkel,” kata Soib, Sabtu (13/7/2019) di kediaman Ketua RW 21 di Kecamatan Cileunyi.

Setelah meminta izin kepada sang suami, Komsatun langsung bergegas pergi. Sementara itu, Soib tidak banyak bertanya setelah istrinya meminta izin akan ke bengkel.

“Saya jawab hati-hati. Saya ada di luar dekat tangga, pakaian apa yang dipakai, tidak memperhatikan, dia hanya bilang mau ke bengkel sebentar,” ungkapnya.

Hingga petang menjelang malam, Komsatun masih belum memberikan kabar kepada anak dan suaminya. Selama hilang kontak suami dan anaknya terus menelepon dan mengirim pesan singkat menggunakan telepon genggam nya.

“Ibu bilang ke bengkel, gak bilang apa-apa lagi. Whatsapp nya terakhir aktif Pukul 13.02 WIB enggak aktif lagi. Saya telepon terus, setelah itu saya cari malamnya di bengkel-bengkel ternyata enggak ada,” katanya.

Hingga dinihari, Komsatun masih belum memberikan kabar kepada pihak keluarga. Takut terjadi apa-apa, Soib langsung mencari istrinya ke tempat kerjanya.

“Terus ke kantor tempat dia kerja Pukul 01.00 WIB dinihari, kantornya digembok saya tidak bisa masuk dan saya kembali ke rumah untuk menenangkan diri,” paparnya.

Soib mencari istrinya ke kantornya, dengan anggapan Komsatun ikut rombongan haji bersama teman kerjanya. Pagi harinya, Soib kembali ke tempat kerja istrinya.

“Saya beranggapan dia ikut rombongan haji, karena dulu dibagian haji, ikut sama temannya. Saya penasaran, setelah subuh saya kembali ke kantor, tapi masih belum dibuka sama satpam. Saya tungguin sampai Pukul 06.00 WIB,” ujarnya.

“Saya tanya ke satpam, ada istri saya gak? Oh Bu Atun (Komsatun) enggak ada, dia enggak ikut kan sudah bukan di bagian haji. Coba dibuka dulu kata saya, mau cek mobilnya, ternyata enggak ada,” tambahnya.

Soib langsung bergegas pulang ke rumahnya, karena Komsatun pergi dengan menggunakan mobil miliknya ia langsung mencari BPKB di lemarinya. “Saya pulang, setelah pulang saya curiga langsung ke lemari lihat BPKB mobil enggak ada. Saya mulai curiga,” imbuhnya.

Soib terus berikhitiar, selain itu ia berkomunikasi dengan pihak Depag Kanwil Kota Bandung dan melaporkan kehilangan istrinya itu kepada Polsek Cileunyi. Senin hingga Rabu ia tak kunjung mendapatkan kabar, lalu pada Kamis, tim penyidik Polres Banyumas mendatangi kediaman Soib untuk memastikan bahwa korban mutilasi itu adalah keluarganya.

Apa Motif Pelaku?

Kepada polisi, Deni mengaku membunuh korban karena bingung saat korban menuntut minta dinikahi, sebab Deni sudah punya anak istri. Namun motif tersebut kemungkinan besar tidak benar, mengingat korban juga masih memiliki suami.

Diduga kuat motif pelaku adalah ingin merampok mobil yang dibawa korban. Usai membunuh korban, Deni membawa mobil itu menuju Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah,

Mobil Toyota Rush berpelat nomor D 1059 VBO warna silver itu, juga sempat dibawa pulang ke rumah ibunya Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Di rumah itu ibunya sekarang tinggal sendiri.

“Selasa pagi saya melihat dia pulang ke rumah ibunya di Desa Gumelem Wetan membawa mobil. Saat itu saya mau pergi ke sawah. Tetapi setelah itu tidak kelihatan lagi,” kata Sutarno salah seorang warga Desa Gumelem Wetan yang rumahnya berdampingan dengan rumah orangtua Deni, Jumat (12/7/2019) kemarin.

Mobil kemudian dijual ke showroom di Purwokerto, Jawa Tengah, dengan cara tukar tambah.

Deni sendiri berkenalan dengan Komsatun melalui media sosial Facebook menggunakan foto editan. Pelaku juga mengaku bekerja di pelayaran dan berkantor di Jakarta. Dalam profil Facebooknya tersebut, pelaku memasang foto aslinya. Namun mengganti tubuhnya yang menggunakan pakaian taruna pelayaran.

“Dia kenalan lewat Facebook yang memang fotonya bukan foto dia. Itu foto editan yang dia mengaku bekerja di pelayaran di Jakarta. Karena wajahnya memang putih, ganteng,” kata Rizqi.

Dia mengatakan saat korbannya sudah mulai tertarik dengan pelaku. Kemudian pelaku mulai melancarkan aksinya dengan alasan meminjam uang sebanyak empat kali dengan total ilia Rp20 juta kepada korban dengan janji akan dikembalikan pada saat gajian.

“Jadi sudah saling percaya karena sudah ketemu 4 kali, pertama kali sebelum lebaran di sebuah tol di Jawa Barat dijemput oleh korban,” jelasnya.

Mungkin karena mulai curiga, korban sempat mempertanyakan janji pengembalian uang tersebut kepada Deni. Karena korban terus menanyakan soal uang itu, akhirnya Deni berjanji akan mengambil uang ke Jakarta pada Senin (8/7/2019). Namun pada hari Minggunya pelaku sempat mengajak korban bertemu di Bandung. Pada hari itulah pembunuhan terjadi. (heri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed