oleh

PSI Kesal Lihat Parpol Dulu Sebut Jokowi PKI Kini Ingin Jadi Menteri

-Utama-220 views

Jakarta, Radar Pagi – Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni kesal melihat sikap para politikus yang pada masa kampanye Pilpres sering menjelek-jelekkan Jokowi, tapi sekarang ingin gabung jadi menteri dengan alasan rekonsiliasi.

“Yang mengganggu pikiran saya adalah bagaimana sebuah pertarungan politik kemarin yang sangat hitam, sangat kotor, penuh fitnah, memburuk-burukkan Pak Jokowi sedemikian rupa seperti antek PKI, komunis, antek asing aseng, kriminalisasi ulama, dan disampaikan secara sistematis masif terstruktur,” ujar Toni di Jakarta, baru-baru ini.

Pria kelahiran Pekanbaru 41 tahun silam ini menyatakan, apabila ingin mengkritik kebijakan presiden sebaiknya menggunakan cara terarah dan logis, jangan menggunakan isu yang mengada-ada. Ia menilai periode pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla memang tidak sempurna, untuk itu dibutuhkan kritik yang membangun.

“Memang banyak kekurangan, tetapi jangan dengan isu-isu yang memobilisasi kebencian,” ujarnya.

Ketika seluruh gugatan Perselisihan Hasil Pemilu Umum (PHPU) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dimentahkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), dan pasangan Jokowi-Ma’ruf dinyatakan menang dalam Pilpres 2019, menurut Toni, sejumlah politikus yang tadinya nyinyir terhadap Jokowi kini justru memble.

“Kita masih ingat semua politisi itu mengatakan apa, di mana, kapan. Saya terusik dengan perilaku seperti itu. Ada pragmatisme politik bergerak tidak pakai ideologi. Hari ini menjelek-jelekkan, besok mengajak pacaran,” katanya.

Hal teramat ironis menurut Toni, setelah menghina Jokowi dengan propaganda, politikus-politikus itu belakangan malah menyatakan ingin bergabung dalam kekuasaan.

Intinya, lanjut dia, pembentukan kabinet merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi yang memiliki hak secara penuh dalam menentukan KIK jilid II, mulai dari jatah, orang yang bergabung, dan partai-partai yang akan dimasukkan dalam kabinet.

“Postur kabinet. Siapa yang jadi kabinet? Partai apa? Itu kan tergantung Pak Jokowi. Karena dia yang paling tahu sebagai penerima mandat rakyat. Tetapi sekali lagi, mungkin belajar dari pemilu kemarin, kita mulai berpolitik secara ideologis menegakkan suatu nilai dengan kualitas yang bagus,” tuturnya. (Tagar/Igo)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed