oleh

Baiq Nuril Tagih Janji Jokowi Berikan Grasi atau Amnesti

-Utama-59 views

Jakarta, Radar Pagi – Baiq Nuril Maknun (37) menagih janji Jokowi soal grasi dan amnesti. Janji tersebut dia tagih setelah Mahkamah Agung (MA) menolak Peninjauan Kembali (PK) yang diajukannya. Dalam putusan MA, Baiq Nuril tetap dihukum 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

“Bapak Presiden, PK saya ditolak, saya memohon dan menagih janji bapak untuk memberikan amnesti karena hanya jalan ini satu-satunya harapan terakhir saya,” kata Baiq Nuril dikutip dari tulisan tangan dalam lembaran kertas, Sabtu (6/7/2019).

Sebelumnya, Jokowi pernah ‘berjanji’ seperti ini: “Seandainya nanti PK-nya masih belum mendapatkan keadilan, bisa mengajukan grasi ke presiden. Memang tahapannya seperti itu. Kalau sudah mengajukan grasi ke presiden, nah nanti itu bagian saya,” ujar Jokowi di Pasar Induk Sidoharjo, Lamongan, Jawa Timur, Senin (19/11/2018) silam.

Tapi setelah tahu PK Baiq ditolak MA, Jokowi terkesan tidak mau gegabah memberikan grasi, karena lebih dulu ingin berdiskusi dengan menteri terkait.

“Saya akan bicarakan dulu dengan Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung, Menko Polhukam, untuk menentukan apakah amnesti, apakah yang lainnya,” kata Jokowi, Jumat (5/7/2019) kemarin.

Tim pengacara Jokowi sendiri akan mengirim surat permohonan amnesti untuk Baiq Nuril. Surat permohonan akan berisi paparan alasan Baiq Nuril layak mendapatkan amnesti.

“Kalau permohonan harus ada dasar-dasar, gambaran besar, seperti mengapa kasus ini layak mendapat amnesti. Kasus ini bisa menjadi preseden karena korban dikriminalisasi, korban takut melapor,” kata pengacara Baiq Nuril, Joko Jumadi.

Baiq adalah mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia menjadi terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Kasusnya bermula ketika dia merekam percakapan telepon dengan kepala sekolah yang jadi atasannya saat dia menjadi guru. Rekaman itu untuk membuktikan bahwa bosnya melecehkannya secara seksual. Namun Baiq justru dilaporkan ke polisi pada 2015 atas tuduhan pelanggaran UU ITE.

Sebabnya, rekaman telepon itu kemudian menyebar di antara staf di sekolah dan akhirnya diserahkan kepada kepala dinas pendidikan setempat. Rekaman juga viral di media sosial. (igo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed