oleh

5 Pemuda Kotawaringin Perkosa Gadis, Direkam dan Diviralkan

-Anehsiana-6.155 views

Jakarta, Radar Pagi – Entah bodoh, bejad atau gila. Lima pemuda Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, memperkosa gadis 13 tahun. Tapi anehnya mereka merekam momen perkosaan tersebut dan memviralkannya di dunia maya. Kasus ini pun terbongkar, bukan karena aduan sang bocah ke polisi, tetapi karena video tindakan asusila itu beredar di masyarakat.

Kelima pemuda bejad yang sepertinya kebanyakan makan micin tersebut tidak diungkapkan identitasnya. Hanya saja polisi menyebut empat di antaranya berusia di bawah 18 tahun, dan seorang lagi berinisial JL sudah berumur 18 tahun.

Kasus bermula pada 21 April 2019 silam ketika korban yang juga tidak diungkap nama maupun inisialnya menemani seorang temannya pulang ke rumah dengan melewati pondok dimana kelima pelaku sedang nongkrong. Kepada korban, mereka berpesan untuk mampir ke pondok bila sudah mengantar temannya tersebut.

Korban yang masih lugu menuruti kemauan mereka. Dia mampir seorang diri dan dibawa masuk ke dalam pondok. Ibarat anak kelinci masuk ke sarang macan, dalam waktu singkat korban langsung diterkam.

Ironisnya, seorang pelaku merekam proses perkosaan tersebut dengan kamera ponsel dan mengunggahnya ke grup whatsapp hingga menyebar ke mana-mana.

Sementara korban yang langsung pulang usai diperkosa merasa ketakutan dan tidak berani menceritakan kejadian pahit yang menimpanya.

“Saat itu ayah korban tidak tahu karena anaknya tidak berani melapor,” kata Kapolres AKBP Mohammad Rommel didampingi Wakapolres Kompol Endro Ariwibowo di Sampit, sebagaimana dilansir Antara, Selasa (18/6/2019)

Kejahatan ini baru terbongkar ketika video pemerkosaan itu menyebar dan warga mengenali para pelaku maupun korban, sehingga polisi pun bergerak menyelidikinya pada Sabtu (15/6/2019) lalu.

Dari lima pelaku, empat orang bisa diamankan, sedangkan satu orang lainnya masih dalam pengejaran. Pengakuan salah satu tersangka, sebelum kejadian itu, mereka meminum minuman keras tradisional yang disebut ‘baram’.

“Para tersangka dikenakan pasal-pasal dalam UU Perlindungan Anak, UU tentang Pornografi karena pembuatan konten dan juga sedang kami selidiki kaitannya dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik kaitannya bagi yang menyebarkan video,” tegas Rommel.

Kasus ini ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak karena korban dan sejumlah pelaku masih di bawah umur. Pendampingan juga akan dilakukan, khususnya untuk membantu korban agar tidak terpuruk akibat trauma kejadian itu. (asp/rvk/dtc/igo)

 

 

 

News Feed