oleh

Mantan Kapolda Jadi Tersangka Makar, Kubu 02 Minta Polisi Turunkan Emosi

-Utama-2.037 views

Jakarta, Radar Pagi – Polda Metro Jaya menetapkan mantan Kapolda Metro Jaya, Komisaris Jenderal (Purn) Polisi M. Sofyan Jacob, sebagai tersangka dugaan makar. Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Mardani Ali Sera, meminta polisi turunkan emosi.

“Dalam keadaan emosional seperti itu hendaklah kita lebih mengedepankan kerukunan. Turunkan emosi dulu, bahasanya ada SP1, SP2 dan SP3, tidak tiba-tiba menggunakan pasal makar,” kata Mardani Ali Sera di gedung DPR, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Dia mengakui Pilpres sebagai hajatan nasional telah membuat adrenalin banyak orang menjadi tinggi. Sehingga ketika adrenalin tinggi keadaan menjadi emosional, padahal emosi itu hanya sebatas di bibir.

“Gua gebuk loh misalnya, padahal marah saja gitu, tapi nggak niat gebuk. Istilahnya seperti itu,” kata Mardani.

Menurutnya, upaya makar tak bisa dilakukan tanpa adanya persiapan, pasukan, dan usaha sistematis.

“Walaupun bisa saja fakta buktinya mengarah ke situ, tapi di situ diperlukan kedewasaan dan kebijaksanaan (untuk memutuskan benar ada makar atau tidak),” kata Mardani.

Dalam kondisi sekarang, kata Mardani, sangat bijak kalau aparat penegak hukum melihat fenomena momen emosional ini. Sebab menurutnya, bukan cuma Jokowi yang dijelek-jelekkan.

“Orang yang menjelek-jelekkan Pak Prabowo habis-habisan juga banyak,” kata Mardani sambil mencontohkan Prabowo juga sempat disebut asu (anjing) oleh salah satu bupati di Jawa Tengah.

Dia juga meminta polisi memperhatikan faktor usia Sofyan Jacob yang tidak lagi muda. “Pak Sofyan Jacob sudah 72 tahun,” kata Mardani.

“Pembangkang” yang Sukses Tangkap Tommy

Sosok Sofyan Jacob sendiri memang terkesan “pembangkang”. Dalam buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang ditulis oleh Heri Wardoyo dkk, tertulis Sofyan Jacob pernah melawan Gus Dur dan Megawati.

Saat menjabat Kapolda Metro, Sofyan Jacob harus menentukan sikap apakah tunduk kepada perintah Kapolri Jenderal Suroyo Bimantoro ataukah kepada Wakapolri Irjen Chaerudin Ismail yang mendadak diangkat Gus Dur sebagai pengganti Bimantoro pada awal Juni 2001.

Sofjan Jacob memilih tunduk kepada Bimantoro, dengan begitu tentunya “membangkang” pada presiden.

Sofjan Jacob  kemudian dilantik sebagai Kapolda Metro Jaya pada 8 Mei 2001, namun berhenti menjabat pada 18 Desember 2001.

Saat Megawati berkuasa, Sofjan dimutasi ke Lembaga Pertahanan Nasional sebelum akhirnya mengeluarkan keputusan pensiun kepada 64 perwira Polri, termasuk Sofjan Jacob. Padahal keputusan itu bertentangan dengan UU No. 2/2002 yang menyebutkan anggota Polri baru pensiun pada umur 58 tahun.

Sofjan menggugat keputusan itu ke PTUN dan menang. Namun akhirnya demi kebaikan semua pihak, dia ikhlas mencabut gugatan itu. Meski ditawari berdinas aktif kembali, tetapi akhirnya dia menolak.

Kontroversi tampaknya memang lekat dengan sosok satu ini. Namanya pernah mencuat karena dilaporkan oleh security Perumahan Taman Resor Mediterania (TRM) yang mengaku diancam dengan senjata tajam dan pistol gara-gara security melarang tamu Sofjan menggunakan fasilitas olahraga di perumahan tersebut.

Sofjan bahkan disebut-sebut menembakkan pistolnya ke udara. Namun dia membantah pengakuan security tersebut, meski tiga selongsong peluru diamankan warga sebagai bukti tindakan aksi koboinya.

Tetapi pria kelahiran Tanjungkarang, 31 Mei 1947 ini juga pernah menorehkan prestasi. Dia sukses menangkap Tommy Soeharto pada akhir November 2001.

Dengan tegas dia memerintahkan jajarannya untuk melakukan tembak di tempat jika Tommy Soeharto sedikit saja melakukan perlawanan. Perintah itu dikeluarkan karena Tommy yang saat itu berstatus buron diduga kuat membawa senjata api. (fitria)

 

 

 

 

 

 

News Feed