oleh

Mengenang Ustad Arifin Ilham

Jakarta, Radar Pagi – Ustad Arifin Ilham meninggal dunia di Penang, Malaysia dalam usia 49 tahun, Rabu (23/5/2019). Sebelum meninggal, ustaz Arifin Ilham sudah berpesan soal makamnya.

Dalam wasiat kematian yang dia posting di media sosial pada 29 April 2019,  pemimpin Majelis Taklim Az Zikra ini sudah mewasiatkan dirinya ingin disalatkan dua kali dan dia pun sudah mempersiapkan makam beserta kain kafannya, serta dimakamkan di Gunung Sindur.

“Jazaakumullah semua doa dan kasih sayang duhai ikhwahku Fillah dan keluarga Az Zikra tercinta tillah InsyaAllah kalau lebih dahulu MENGHADAP Allah, pertama sholat di mesjid Az Zikra Sentul dan kemudian sholat kedua di mesjid Gunung Sindur. Kuburan disamping mesjid Gunung Sindur yg telah arifin siapkan dg kain kapannya,” pesan ustad Arifin Ilham.

Ustaz Arifin Ilham pernah menuliskan sesuatu dalam postingan Instagram miliknya. Kala itu, sang ustaz menuliskan soal bagaimana jika dirinya lebih dulu dipanggil Tuhan.

Selama setahun terakhir Arifin Ilham diketahui memang sempat berjuang melawan beberapa kondisi penyakit, seperti kanker kelenjar getah bening dan infeksi paru. Selain kanker kelenjar getah bening Arifin Ilham juga diketahui berjuang melawan kanker nasofaring. Dikutip dari Mayo Clinic, kanker nasofaring atau yang disebut nasopharyngeal carcinoma (NPC) merupakan bentuk kanker yang langka dari kanker leher dan kepala.

Karena itu berkali-kali juga muncul kabar hoaks menyebut Arifin Ilham meninggal dunia yang ditepis keluarga.

Pada akhir Desember 2018 Arifin Ilham bercerita kalau dirinya sudah sembuh usai menjalani kemoterapi yang membuat kulit wajahnya menghitam. Saat itu, katanya, dokter pun bingung karena kankernya bisa bersih secepat itu.

“Terima kasih doa kalian semua, Arifin sudah tidak dikemo lagi. Sudah selesai, sekarang ini sedang recovery dari pengobatan. Sudah dinyatakan free cancer,” buka sang ustad di salah satu tayangan infotainment.

Namun kebahagiaan sang ustad tidak berlangsung lama. Pada awal Januari 2019, Arifin Ilham kembali masuk ke rumah sakit karena kembali terserang kanker hingga akhirnya diterbangkan ke Malaysia.

Biografi Ustad Arifin Ilham

Ustad Arifin Ilham kini telah tenang di sisi-Nya. Banyak orang merasa kehilangan sosok almarhum. Bahkan ada yang mengatakan sosok almarhum sebagai ‘tak tergantikan’.

Seperti apa sosok Ustad Arifin Ilham sebenarnya? Berikut biografi almarhum, dikutip dari biografiku.com:

Nama : K.H. Muhammad Arifin Ilham
Lahir : Banjarmasin, 8 Juni 1969.
Orang tua : Nurhayati (ibu), Ismail Marzuki (ayah)
Saudara kandung : Mursidah, Fitriani, Qomariah, Siti Hajar
Istri : Rania Bawazier, Wahyuniati Al-Waly, Umi Akhtar
Anak: Amtaza Syahla Arifin, Alaa Hifzhiyah Arifin, Muhammad Alvin Faiz, Muhammad Amer Azzikra, Muhammad Azka Najhan

Dikenal dengan nama lengkap KH Muhammad Arifin Ilham. Ia merupakan salah satu pendakwah terkenal di Indonesia yang mempunyai banyak jamaah. Ia juga merupakan pendiri dari Majelis taklim ‘Adz-Dzikra’ atau lidah masyarakat kebanyakan menyebutnya Az-Zikra.

KH Muhammad Arifin Ilham lahir di Banjarmasin, 8 Juni 1969. Ia  adalah anak kedua dari lima bersaudara, dan dia satu-satunya anak lelaki.

Ayah Arifin Ilham masih keturunan ketujuh Syeh Al-Banjar, ulama besar di Kalimantan, sementara ibunya, Hj. Nurhayati, kelahiran Haruyan, Barabay, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Setahun setelah menikah, pasangan ini melahirkan putri pertama mereka tahun 1967. Karena anak pertama mereka perempuan, betapa bahagianya mereka ketika anak keduanya adalah laki-laki.

Ibunya yang bernama Nurhayati mengatakan bahwa saat hamil anak keduanya itu, ia merasa biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda khusus. Hanya, berbeda dengan keempat putrinya, saat dalam kandungan, bayi yang satu ini sangat aktif.

Tendangan kakinya pun sangat kuat, sehingga sang ibu acapkali meringis menahan rasa sakit. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1969 itu kemudian diberi nama Muhammad Arifin Ilham.

Masa Kecil

Berbeda dengan keempat saudaranya yang lain, yang saat lahir berat mereka rata-rata 3 kilogram lebih, bayi yang satu ini beratnya 4,3 kilogram dengan panjang 50 sentimeter. “Anehnya, bayi itu sejak lahir sudah bergigi, yaitu di rahang bagian atasnya,” kenang Nurhayati.

Bayi itu selanjutnya tumbuh sehat. Usia setahun sudah bisa berjalan dan tak lama setelah itu ia mulai bisa berbicara. Setelah Siti Hajar, satu demi satu adik Arifin Ilham pun lahir. Yaitu, Qomariah yang lahir tanggal 17 Mei 1972 dan si bungsu Fitriani yang lahir tanggal 24 Oktober 1973.

Saat berusia lima tahun, Arifin Ilham dimasukkan oleh ibunya ke TK Aisyiah dan setelah itu langsung ke SD Muhammadiyah tidak jauh dari rumahnya di Banjarmasin.

Arifin Ilham mengaku, saat masih di SD itu ia tergolong pemalas dan bodoh. “Kata orang Banjarmasin, Arifin Ilham itu babal. Arifin Ilham baru bisa baca-tulis huruf Latin setelah kelas 3,” kenang Arifin Ilham yang setiap kali berbicara tentang dirinya selalu menyebut namanya sendiri.

Sering Berkelahi

Di SD Muhammadiyah, Arifin Ilham hanya sampai kelas 3, karena berkelahi melawan teman sekelasnya. Masalahnya, dia tidak rela ada salah seorang temannya yang berbadan kecil diganggu oleh teman sekelasnya yang berbadan cukup besar.

Arifin Ilham kalah berkelahi karena lawannya jagoan karate. Wajahnya babak belur dan bibirnya sobek. Agar tidak berkelahi lagi, oleh ayahnya Arifin Ilham kemudian dipindahkan ke SD Rajawali.

Rumah tempat tinggal orang tua Arifin Ilham terletak di Simpang Kertak Baru RT 7/RW 9, kota Banjarmasin, tepat di sebelah rumah neneknya, ibu dari ibunda Arifin Ilham. Sebagai pegawai Bank BNI 46, ayahnya sering kali bertugas ke luar kota Banjarmasin, kadang-kadang sampai dua-tiga bulan.

Ayah Arifin Ilham mengakui bahwa ia tidak banyak berperan mendidik kelima anaknya, sehingga akhirnya yang banyak berperan mendidik Arifin Ilham adalah istri dan ibu mertuanya.

Arifin Ilham mengungkapkan bahwa cara mendidik kedua orang tua itu keras sekali. “Baik mama maupun nenek kalau menghukum sukanya mencubit atau memukul. Dua-duanya turunan, kalau nyubit maupun memukul keras dan sakit sekali,” canda Ustad Arifin.

Titik Balik Kehidupan Ustadz Arifin Ilham

Ustad Arifin Ilham termasuk seorang penyayang binatang. Di rumah ibu angkatnya di Jakarta, ia banyak memelihara binatang, antara lain burung hantu, kera, dan ayam kate. Awal April 1997, ia diberi seekor ular hasil tangkapan warga kampung yang ditemukan di semak belukar.

Karena kurang hati-hati Arifin Ilham digigit binatang melata ini. Namun ia tidak menyadari kalau dirinya keracunan. Sewaktu dalam perjalanan dengan mengendari mobil, ia pun merasakan sesuatu yang tidak biasa, tubuhnya terasa panas, meradang, dan membiru.

Melihat keadaan Arifin Ilham yang demikian, ibu angkatnya Ny Cut mengambil alih kemudi, menuju rumah sakit terdekat. Namun, beberapa rumah sakit menolak dengan alasan peralatan medis yang tidak memadai.

Bahkan sejumlah dokter di beberapa rumah sakit tersebut memvonis, umur Arifin Ilham tinggal satu persen. Karena sulitnya mendapatkan pertolongan selama 11 jam, keadaan Arifin Ilham makin gawat. Detak jantungnya melemah.

Melihat kondisi anak angkatnya yang makin parah, Ny Cut mencoba mendatangi RS Saint Carolus (Jakarta Pusat). Alhamdulillah pihak rumah sakit menerimanya. Arifin Ilham langsung ditempatkan di ruang ICU.

Infus pun dipasang di tubuhnya. Untuk membantu tugas paru-paru, jantung, dan hatinya yang telah sangat lemah, dokter memasukkan beberapa batang selang ke mulutnya.

Dengan pertolongan Allah, setelah satu bulan lima hari pihak rumah sakit menyatakan ia telah melewati masa kritis dan memasuki masa penyembuhan. Walaupun kondisinya telah jauh lebih baik, Arifin Ilham mengalami perubahan pada suaranya.

Menurut analisa dokter, hal ini disebabkan oleh pemasangan beberapa selang sekaligus dalam mulutnya untuk waktu yang cukup lama. Tapi tidak ada yang mengetahui rencana Allah, justru dengan suaranya itu, Arifin Ilham menjadi lebih mudah dikenal para jamaah hanya dengan mendengar suaranya.

Pengalaman Spiritual

Seperti diceritakan Arifin Ilham, selama masa kritis, ia mendapatkan pengalaman spiritual yang sangat luar biasa. Di alam bawah sadarnya ia merasa berada di sebuah kampung yang sangat sunyi dan sepi. Setelah berjalan-jalan sekeliling kampung, ditemuinya sebuah masjid, yang kemudian dimasukinya.

Di dalam masjid ternyata sudah menunggu tiga shaf jamaah dengan mengenakan pakaian putih. Salah satu jamaah kemudian memintanya memimpin mereka berzikir, mengingat Allah SWT.

Keesokan harinya ia kembali bermimpi. Hanya saja sedikit berbeda. Kali ini ia merasa berada di tengah kampung yang penduduknya berlarian ketakutan karena kedatangan beberapa orang yang dianggap sebagai jelmaan setan.

Melihat kehadirannya, para penduduk pun berteriak dan meminta dirinya menjadi penolong mereka mengusir setan-setan tersebut. Hari berikutnya ia kembali bermimpi.

Kali ini ia diminta oleh seorang bapak untuk mengobati istrinya yang sedang kesurupan. Mendengar permintaan bapak tersebut, Arifin Ilham bergegas, tapi Allah berkehendak lain. Istrinya ternyata telah meninggal sebelum sempat ditolong Arifin Ilham.

Berbekal pengalaman-pengalaman ‘gaib’ yang ia alami, Arifin Ilham pun memantapkan hatinya untuk menjadi pengingat manusia agar tidak lupa berzikir.

Menjadi Penceramah

Banyak kegiatan yang dilakukannya. Salah satu yang paling berkesan adalah memimpin zikir untuk para narapidana di Cipinang. Ustad Arifin juga pernah memimpin zikir di LP Nusakambangan, yang antara lain juga diikuti oleh Tommy Suharto.

Menurut sang ustad, kegiatan ini memberikan dampak yang sangat dalam sehingga banyak di antara narapidana tidak sanggup membendung air mata lantaran menyesali dosa-dosanya.

Setiap acara zikir yang dipimpinnya selalu dipadati jamaah dari berbagai kalangan dan status. Minimal, pemandangan ini tampak ketika ia memimpin zikir di Masjid Al-Amr Bittaqwa di Perumahan Mampang Indah II, Depok, Jawa Barat.

Tahun 1998, Arifin Ilham mengisi ceramah di sebuah rumah di kawasan Condet, Jakarta Timur. Di sinilah ia bertemu dengan Wahyuniati Al-Waly, seorang muslimah yang taat, yang kemudian menjadi pendampingnya.

Tidak berapa lama setelah pertemuan itu, ia bermimpi di depan Ka’bah dengan Yuni berdiri disampingnya dengan menggunakan baju putih bersih.

Dengan penasaran, pagi harinya ia menelpon Abah (panggilan Arifin Ilham untuk ayahnya), menanyakan perihal mimpinya. Abahnya mengartikan bahwa Yuni adalah jodoh yang diberikan Allah kepadanya. Maka keduanya pun naik ke pelaminan pada 28 April 1998.

Yuni yang merupakan adik kelasnya di Fisip Universitas Nasional (Unas) menilai sosok suaminya sebagai seorang yang baik, romantis, penyayang, pintar, dan kuat landasan agamanya.

Kemudian pada tahun 2010, Ustad Arifin menikah lagi dengan wanita bernama Rania Bawazier pada tahun 2010. Di tahun 2017, Ustad Arifin Ilham menikah untuk ketiga kalinya. Istri ketiganya bernama Umi Akhtar yang diketahui merupakan seorang janda beranak dua.

Salah satu kebiasaan Ustad Arifin Ilham adalah bangun shalat tahajud tiap pukul tiga pagi hingga subuh. Sekalipun ia tidur hanya sekitar tiga jam, tapi saat berada di kendaraan menuju tempat acara zikir ia menyempatkan diri untuk tidur di mobil.

Pada bulan Mei 2019, Ustad Arifin Ilham tengah dalam kondisi kritis berjuang melawan penyakit. Ustad Arifin Ilham beberapa kali dikabarkan meninggal dunia namun isu tersebut ternyata ‘hoax’. Sampai akhirnya dia benar-benar mengembuskan napas terakhirnya. (dbs)

 

 

 

 

News Feed