oleh

MUI Blitar Haramkan Penukaran Uang Receh Jelang Lebaran

Blitar, Radar Pagi – MUI Kota Blitar, Jawa Timur, mengharamkan penukaran uang receh yang marak terjadi jelang lebaran. Selisih antara uang yang ditukarkan, menurut MUI Blitar, itu masuk kategori riba.

MUI Blitar mengimbau warga melakukan penukaran uang langsung ke bank.

Dikutip dari detikcom, jasa penukaran uang baru sudah mulai ramai di Kota Blitar. Lokasinya tersebar hampir di semua titik keramaian dalam kota. Seperti di sepanjang Jalan A Yani hingga Jalan Merdeka Kota Blitar saja. Tak kurang 15 orang membuka lapak penukaran uang.

Dengan sebuah meja dan baner seukuran 1 x 2 meter dipajang. Atau hanya menggantungkan sejumlah uang baru di dalam plastik. Jasa penukaran uang itu, biasanya mematok selisih Rp 10 ribu tiap warga menukarkan ke mereka. Misalnya, dengan uang Rp 100 ribu jika ditukar dengan lembaran Rp 10 ribu akan mendapat Rp 90 ribu saja.

“Iya itu uang jasanya. Daripada susah-susah ke bank. Belum lagi kalau antre. Kan mending ditukarkan di sini. Istilahnya itu uang jasa lelah kami,” ujar Alam yang membuka jasa penukaran yang di Jalan Kenanga, Senin (20/5/2019).

Menanggapi kegiatan tukar menukar itu, MUI Kota Blitar mengeluarkan fatwa haram. Karena dalam hukum menukar, maka jumlah barang yang ditukar harus sama.

“Namanya menukar itu ya jumlahnya, beratnya harus sama. Tidak boleh ada selisih. Karena itu sudah masuk kategori riba. Dan riba diharamkan dalam Islam,” kata Ketua MUI Kota Blitar, Subakir saat dikonfirmasi di kantornya.

Bagaimana caranya agar transaksi penukaran uang itu bisa halal, menurut Bakir, ada perbedaan sendiri antara uang yang ditukar dengan uang jasa mereka.

“Ijabnya harus jelas. Ada uang yang dibedakan. Misal uang jasa, itu harus berdasarkan keikhlasan yang menukar. Jadi tidak ada patokannya harus nominal berapa,” pungkasnya. (fat/igo)

News Feed