oleh

Inas: Waspada Bisnis People Power Kivlan Zen

-Utama-470 views

Jakarta, Radar Pagi – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengingatkan bahaya bisnis pengerahan massa atau people power yang menurut Wasekjen Partai Demokrat (PD) Andi Arief dikelola oleh Kivlan Zen.

“Yang perlu diwaspadai adalah rahasia BPN Prabowo Sandi yang merencanakan people power, di mana dihembuskan oleh Amien Rais, dan menurut Andi Arief, pengerahan massa-nya akan dikerjakan juga oleh Kivlan Zen yang akan dibuat seperti pamswakarsa era Soeharto,” ujar Anggota Tim Penugasan Khusus TKN Jokowi-Ma’ruf, Inas Nasrullah Zubir,  kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/5/2019).

Politisi Hanura itu mengaku terkejut dengan pernyataan Andi Arief yang menyebut Kivlan Zen berbisnis massa demonstrasi. TKN pun menduga pengerahan massa di kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Uno selama ini di bawah komando Kivlan.

“Pernyataan ini semakin meyakinkan kita bahwa pengerahan massa di kampanye-kampanye Prabowo Sandi selama Pilpres ini dikerjakan oleh Kivlan Zen dalam bentuk bisnis,” kata Inas.

Dia pun menilai keluhan cawapres Sandiaga Uno yang mengaku telah mengeluarkan uang hingga Rp 1,4 triliun sebagai hal yang wajar. Dia menduga biaya tersebut untuk membiayai pengerahan massa oleh Kivlan Zen.

“Tidak salah jika Sandiaga Uno pernah mengeluhkan bahwa ia telah mengeluarkan uang sejumlah 1,4 triliun untuk membiaya kampanye Prabowo Sandi. Kita bisa menduga bahwa ratusan miliar uang Sandiaga Uno tersebut dinikmati oleh Kivlan Zen,” kata Inas.

Inas pun kembali mengingatkan bahaya pamswakarsa yang siap mengorbankan rakyat Indonesia demi tercapainya tujuan politik Prabowo-Sandi, yakni mengambil alih kekuasaan secara inkonstitusional.

Menurut Wikipedia, Pam Swakarsa atau Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa adalah sebutan untuk kelompok sipil bersenjata tajam yang dibentuk oleh TNI untuk membendung aksi mahasiswa sekaligus mendukung Sidang Istimewa MPR (SI MPR) tahun 1998, yang berakhir dengan Tragedi Semanggi. Selama SI MPR, Pam Swakarsa berkali-kali terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa yang menentang SI.

Pam Swakarsa tak hanya mengamankan Gedung DPR/MPR Senayan, tetapi juga dikirimkan dengan truk-truk ke lokasi yang potensial menjadi daerah demonstrasi dan orasi mahasiswa, seperti Tugu Proklamasi atau Taman Ismail Marzuki. Mereka juga berunjuk kekuatan dengan berpawai melintasi kampus-kampus yang aktif. Mereka bahkan melakukan patroli malam diiringi dengan sedan polisi. Di lingkungan Senayan mereka beraksi menghalau para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang lewat.

Pengaman swakarsa yang beratribut ikat kepala bertuliskan huruf Arab tersebut bahkan telah dinilai oleh sejumlah kalangan masyarakat justru telah merusak citra Islam karena ternyata kebanyakan dari mereka merupakan preman bayaran, meski ada juga yang berasal dari ormas Islam dan jawara silat.

Para mantan anggota pasukan pam swakarsa juga menjelaskan bahwa mereka diketuai seorang panglima. Panglima itu dibantu sejumlah asisten di antaranya asisten intelijen, asisten operasional, dan asisten personalia dan logistik. Struktur ini mirip dengan struktur kemiliteran. Anggota pam swakarsa di lapangan yang banyaknya sekitar 30 ribu orang dibayar Rp10 ribu per hari per orang. Dalam acara pembubaran pada 21 November 1998 di vila Haji Embay di Ciomas, Banten, Kivlan Zen mengucapkan terima kasih atas nama Panglima ABRI Wiranto dan Presiden Habibie.

Keberadaan Pamswakarsa memang cenderung membenturkan rakyat dengan rakyat. Misalnya pada 13 November 1998, siang hari sebelum terjadinya Tragedi Semanggi, 3 orang anggota pam swakarsa tewas dikeroyok massa.

Peristiwan bermula ketika sekitar 30 orang (rata-rata bertubuh gempal, berwajah keras, dan berikat kepala hijau bertuliskan huruf Arab) menghadang ratusan mahasiswa di Jembatan Cawang, Jakarta Timur. Sekelompok Pam Swakarsa ini, bersiaga berbaris di depan barikade polisi dan tentara, menyerupai tameng. Melihat hal ini, massa setempat yang awalnya hanya menonton mahasiswa berdemonstrasi, serta merta melempari pam swakarsa dengan batu.

Pasukan pam swakarsa sempat membalas dengan lemparan batu pula, seraya mengacung-acungkan badik, sebelum akhirnya lari. Lima dari mereka terjebak di sebuah tanah lapang berawa-rawa tak jauh dari jembatan itu, di tengah kepungan massa yang bersenjatakan kayu, batu, dan besi. Tinju, tendangan, pukulan kayu, dan besi serta hunjaman batu menghajar mereka. Dua orang dilarikan ke rumah sakit setelah babak belur. Tiga lainnya tewas. Sungguh sia-sia nyawa melayang hanya demi Rp10 ribu. (maria)

 

 

 

 

 

News Feed