oleh

Ketua PA 212 Jadi Tersangka, Rabu Besok Diperiksa di Polda Jateng

-Hukum-196 views

Jakarta, Radar Pagi – Polres Surakarta menetapkan Ketua Umum PA Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif sebagai tersangka dugaan pelanggaran pemilu terkait tablig akbar PA 212 pada 13 Januari 2019 di Solo. Slamet diduga melanggar Pasal 492 dan 521 Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 saat dia menjadi pembicara dalam tablig akbar tersebut.  

Dalam surat panggilan yang beredar di media sosia, Slamet Ma’arif akan dipanggil ke Polres Surakarta pada Rabu (13/2/2019) besok. Di surat itu, Slamet juga sudah menyandang status tersangka.

Lokasi pemeriksaan dipilih di Polda Jateng berdasarkan pertimbangan keamanan. “Kita pertimbangkan alasan keamanan,” kata Wakapolresta Surakarta AKBP Andy Rifai kepada wartawan di Mapolresta Surakarta, Senin (11/2/2019).

Dia mengatakan meski diperiksa di Polda Jateng, pemeriksaan akan tetap dilakukan oleh penyidik Polresta Surakarta. 

Andi meminta agar kasus ini diselesaikan melalui proses hukum. Pihak Slamet Ma’arif diminta memberikan pembuktiannya saat persidangan. “Silakan dibuktikan saja di persidangan nanti,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) Yusuf Martak mengaku heran atas penetapan tersangka Ketum PA 212 Slamet Maarif dalam kasus dugaan pelanggaran pemilu. Yusuf menyebut Slamet seolah-olah menjadi target dari pihak-pihak yang tak sejalan.

“Jadi ini kan sebenarnya Ustaz Slamet itu kan diundang sebagai pribadi. Dan di situ ada tablig akbar, jadi tidak ada unsur-unsur black campaign. Diambillah alasan-alasan dengan ujaran-ujaran yang berkaitan dengan kampanye, padahal tidak ada,” kata Yusuf kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Yusuf menyebut kasus yang menjerat Slamet sebagai bentuk kriminalisasi. Kasus ini juga, sambung Yusuf, memperlihatkan kepanikan dari kelompok tertentu.

“Ya, kalau sudah bentuknya semacam target, berarti tidak beda kriminalisasi namanya kan. Jadi kenapa harus ada arti kata seluruhnya prosesnya dipercepat, semuanya dipercepat, targetnya dipercepat, dari saksi tersangka dipercepat. Nah, ini ada apa? Terlihat sekali kepanikan itu,” katanya.

Slamet Maarif sendiri selaku tersangka mengatakan hukum di Indonesia saat ini memilukan.

“Memilukan dan memalukan hukum di Indonesia, ketidakadilan hukum terpampang jelas dan gamblang di negeri ini,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Slamet mengaku khawatir rakyat akan kehilangan kepercayaan kepada penyelenggara pemilu dan penegak hukum.  

“Saya khawatir kepercayaan rakyat kepada penegak hukum dan penyelenggara pemilu akan hilang. Langkah berikut saya akan komunikasi dengan pengacara,” tutur Slamet.

Sebelumnya, Slamet pernah meminta kepolisian adil dalam menangani kasusnya. Dia mengaku mengingatkan penyidik bahwa pelanggaran juga terjadi pada kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Tadi saya ingatkan di akhir (pemeriksaan) kepada penyidik bahwa kasus pelanggaran kampanye karena masalah belum adanya jadwal kampanye, itu kan pernah terjadi di kampanye Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin,” katanya usai diperiksa di Mapolresta Surakarta, Kamis (7/2/2019) silam.

Slamet mengungkit kasus Jokowi yang dihentikan dengan alasan belum adanya jadwal resmi dari KPU. Dia juga menyebut bahwa kasus PSI pun diberhentikan karena alasan serupa. Namun dia tak memaparkan kasus mana yang dimaksudnya. (jar)

 

News Feed