oleh

Tujuh Putra/Putri Terbaik Papua Dilantik sebagai Siswa Baru SMA Taruna Nusantara Angkatan 29

 

Magelang, Radar Pagi – Sebanyak 361 siswa baru SMA Taruna Nusantara, bersama orangtua mereka, menghadiri upacara pembukaan pendidikan dan pelantikan siswa Angkatan 29 Tahun 2018/2019, Sabtu (14/7/18).

Ke-361 siswa Angkatan 29 yang dilantik di Balairung Pancasila SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah tersebut adalah siswa-siswa pilihan hasil seleksi dari sekitar 4.000 pendaftar dari seluruh Indonesia.

Penilaian untuk menentukan calon siswa yang akan diterima atau tidak, didasarkan pada proses seleksi yang berbasis keteladanan sebagai pelajar yang berprestasi, berdisiplin dan bermoral serta memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Bisa dikatakan para siswa yang bersekolah di SMA Taruna Nusantara adalah insan-insan muda terbaik dari seluruh Indonesia, termasuk Papua.

Ada 7 putra/putri Papua yang berhasil lolos diterima sebagai siswa baru SMA Nusantara Angkatan ke-29 Tahun 2018/2019, salah satunya adalah putra ke-2 Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni SS, M.Si yang bernama Charles Benendikto Tabuni. Meski putra seorang Bupati, Charles berhasil lolos bukan karena “jabatan” orangtua, melainkan karena kemampuannya sendiri. Bersama 6 putra-putri terbaik Papua lainnya, Charles diterima setelah berhasil menyisihkan lebih dari 4.000 calon siswa lainnya dalam proses seleksi penerimaan yang sangat ketat.

Putra ke-2 Bupati Intan Jaya, Charles Benendikto Tabuni, menjadi salah satu siswa baru asal Papua yang berhasil diterima di SMA Taruna Nusantara. Charles berhasil menyisihkan lebih dari 4.000 calon siswa lainnya dari seluruh Indonesia. Tampak dalam gambar, Charles Benendikto Tabuni diapit kedua orangnya, Bupati Natalis Tabuni dan Ny. Herawati Tabuni.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu hadir dalam upacara pembukaan pendidikan dan pelantikan siswa Angkatan 29 Tahun 2018/2019 ini. Dalam sambutannya, Menhan mengatakan untuk menciptakan pemimpin yang berkualitas, diperlukan pola pembinaan yang mengedepankan penggemblengan fisik, intelektual dan mental, sehingga para siswa baru akan mengalami suatu perubahan kebiasaan dari yang mungkin biasa hidup dalam kenyamanan mendadak menjadi terasa kurang menyenangkan.

“Tapi di sinilah proses transformasi mental itu dijalankan. Kalian akan dibentuk menjadi generasi muda Indonesia yang dipersiapkan secara integral komprehensif, sehingga kalian akan menjadi pemimpin yang siap dan mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan yang semakin kompleks,” ujar Menhan.

Oleh karena itu, lanjut Menhan, proses seleksi dan pemilihan calon siswa SMA Taruna Nusantara memerlukan kualifikasi dan standard yang sangat tinggi dari aspek fisik, intelektual, psikologi, kesehatan jiwa dan mental ideologi.

“Sangat tepat apabila aspek pembentukan karakter dalam proses pendidikan di SMA Taruna Nusantara harus terus menjadi prioritas, sehingga ke depan bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang besar jiwa dan karakternya bukan hanya dinilai dari jumlah penduduknya yang besar,” katanya.

Menhan juga mengatakan, para siswa SMA Taruna Nusantara dipersiapkan untuk mengisi proses pembangunan di Indonesia, karena itu harus memiliki jati diri yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

“Kita harus mengemban amanah untuk menjaga keutuhan NKRI sebagai harga mati, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi,” tegas Menhan.

Beberapa siswa baru SMA Taruna Nusantara berfoto bersama orangtua mereka

Sekilas SMA Taruna Nusantara

SMA Taruna Nusantara (biasa juga disebut Tarnus atau TN) dikenal dengan penekanan pada nilai-nilai kejuangan, kebangsaan dan kebudayaan yang dipadukan dengan aspek prestasi akademik, kesamaptaan jasmani, dan kemandirian.

SMA Taruna Nusantara dapat diartikan sebagai “pemuda dari seluruh pelosok pulau” (taruna = pemuda, nusa = pulau). SMA Taruna Nusantara Magelang menjaring siswa berprestasi lulusan SMP atau sederajat dari berbagai golongan strata ekonomi dan sosial.

Ide pembuatan sekolah menengah atas berbasis semi-militer ini dicetuskan oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan saat itu, Jenderal LB Moerdani pada 20 Mei 1985 di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta. Ia memiliki visi luhur, yakni untuk membangun sekolah yang mendidik manusia-manusia terbaik dari seluruh Indonesia dan menghasilkan lulusan yang dapat melanjutkan cita-cita para Proklamator.

Ide ini diteruskan dengan menandatangani nota kesepakatan antara TNI dan Taman Siswa, yang merupakan organisasi kependidikan pertama di Indonesia, untuk membuat suatu lembaga bernama Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN). Lembaga ini merupakan kristalisasi dari visi Jenderal Moerdani yang selanjutnya mengawasi proses pelaksanaan sekolah ini.

SMA Taruna Nusantara diresmikan oleh Pangab (Panglima Angkatan Bersenjata) saat itu, Jenderal Try Sutrisno pada tahun 1990. Kampus yang menempati lahan seluas 18.5 hektar dan terdiri dari komplek akademis, asrama siswa, dan komplek perumahan pamong (guru), di atas tanah milik Akademi Militer.

Selama 6 tahun pertama, Taruna Nusantara hanya menerima laki-laki sebagai siswanya dengan jumlah sekitar 245 orang. Namun mulai tahun 1996, LPTTN membuat kebijaksanaan baru dengan menerima angkatan putri pertama sebanyak 70 orang. Untuk mengakomodasi perubahan ini, area sekolah ini pun diperluas menjadi 23 hektar.

Untuk menarik pemuda-pemudi terbaik dari seluruh strata sosial, LPTTN menawarkan beasiswa penuh kepada pelajar yang diterima dengan dukungan dana dari TNI yang mempunyai latar belakang politik dan keuangan yang kuat. Para tenaga pengajar (pamong) juga mendapat gaji yang di atas rata-rata, serta fasillitas lainnya.

Namun, setelah krisis ekonomi dan perubahan politik pada tahun 1997, LPTTN mengalami kesulitan keuangan sehingga pada tahun 2001 menghentikan kebijakan beasiswa penuh ini. Tetapi pelajar terpilih yang mempunyai kesulitan keuangan tetap mendapatkan beasiswa yang diberikan baik oleh individual, perusahaan, maupun pemerintah daerah.

Pada Tahun Pembelajaran 2017/2018 kemarin, SMA Taruna Nusantara berhasil mempertahankan tradisi kelulusan ujian nasional 100%, dan mereka sebagian besar telah diterima di Berbagai Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi Kedinasan Beasiswa, Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Favorit, dan Perguruan Tinggi di Luar Negeri. Sedangkan lulusan yang melanjutkan ke Akademi TNI/Polri masih menjalani proses seleksi. Salah satu alumni SMA TN yang terkenal adalah  Agus Harimurti Yudhoyono (1997).

SMA Taruna Nusantara juga memperoleh Penghargaan Tertinggi di Tingkat Nasional sebagai sekolah “Pendidikan Karakter Bangsa” dan “Sekolah Rujukan Nasional”, serta diperolehnya Sertifikat ISO 9001-2015 yang menunjukkan bahwa SMA TN sudah terstandarisasi secara internasional.

Tetapi di balik keberhasilan itu semua, Menhan mengingatkan tugas dan tantangan berat yang harus diharapi oleh para siswa. Para siswa harus mampu mempertahankan tradisi berprestasi tinggi di SMA Taruna Nusantara ini, yang telah diukir oleh senior-senior, karena tantangan yang akan dihadapi ke depan akan lebih berat dari yang sebelumnya.

“Tugas kalian adalah belajar, belajar dan belajar serta berjuang keras untuk menimba ilmu, pengalaman, dan keterampilan, hilangkan rasa malas, asal-asalan, egois dan jangan cengeng,” tegas Menhan. (Om Yan)

 

 

 

News Feed