oleh

Lengsernya Soeharto 21 Mei 1998 dan Bom Siap Ledak di Sekitar Istana

-Historia-1.707 views

 

“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, kamis 21 Mei 1998.”

Penggalan kalimat dalam pidato pengunduran diri Presiden RI kedua, Soeharto, tersebut disambut gemuruh suka cita ribuan mahasiswa di Gedung MPR/DPR, belum lagi sorakan para mahasiswa yang menyaksikan siaran langsung pidato tersebut di rumah masing-masing.

Banyak orang memang bersorak saat televisi mengumumkan langsung orang nomor satu di Indonesia saat itu menyatakan mundur dari kursi kekuasaannya. Para mahasiswa berteriak seolah memenangkan pertempuran besar. Namun sebagian ada juga yang meneteskan air mata saat melihat pria renta itu membacakan surat yang menandai dimulainya Orde Reformasi. Bagaimanapun juga bagi sebagian masyarakat, Soeharto telah banyak berjasa membangun negeri ini.

Kondisi saat itu memang tidak menguntungkan Soeharto. Tuntutan reformasi masyarakat yang diwakili melalui aksi mahasiswa, mencapai puncaknya saat mahasiswa menguasai gedung DPR/MPR pada 18 Mei 1998.

Setelah mahasiswa menguasai DPR/MPR, pimpinan DPR/MPR yang diketuai Harmoko di hari yang sama pada pukul 15.30 WIB, langsung meminta Soeharto untuk mundur. Beberapa anggota DPR lainnya diketahui berada di belakang Harmoko, antara lain Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad

Ini tentu sebuah ironi, karena Harmoko yang merupakan Ketua Umum Golkar adalah orang yang bertanggungjawab mendorong pencalonan kembali Soeharto dalam Pemilu 1997, dimana menjelang pemilu tersebut dikabarkan Soeharto sebenarnya sudah berniat tidak lagi mencalonkan diri.

Apalagi, Harmoko menyampaikan pernyataan tersebut tidak melalui mekanisme rapat anggota parlemen. Pernyataan Harmoko ini pada malam harinya, sekitar pukul 23.00 WIB, ‘ditolak’ oleh Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto yang menyebut bahwa pernyataan Harmoko itu merupakan sikap dan pendapat individual, karena tidak dilakukan melalui mekanisme rapat DPR.

Tapi jelas bukan pernyataan Harmoko yang membuat Soeharto lengser. Sejak Gedung Parlemen DPR/MPR, Senayan, dikuasai ribuan mahasiswa, dukungan masyarakat terus mengalir untuk mereka. Posisi Soeharto di ujung tanduk. Dia tidak mungkin membubarkan paksa aksi mahasiswa ini karena ribuan orang terlibat di dalamnya, namun bila dibiarkan, tentu akan semakin mempermalukan dirinya.

Pada 19 Mei 1998, Soeharto berusaha meredam keadaan dengan berinisiatif membentuk Komite Roformasi. Dia berencana menjadikan Nurcholis Madjid (Cak Nur) sebagai ketuanya. Cak Nur pun diundang ke kediamannya di Jalan Cendana, bersama 8 tokoh lainnya pada pukul 09.00 WIB, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Emha Ainun Nadjib, Ali Yafie, Cholil Baidowi, Malik Fadjar, Achmad Bagdja, Sumarsono, dan Ma’aruf Amin. Hadir pula Yusril Ihza Mahendra, yang meski tidak diundang Soeharto, namun diajak oleh Cak Nur.

Namun Cak Nur dan 8 tokoh lainnya menolak ide pembentukan Komite Roformasi. Hal tersebut sangat mengecewakan Soeharto. “Jika orang yang moderat seperti Cak Nur tak lagi mempercayai saya, maka sudah saatnya bagi saya untuk mundur,” kata Soeharto kala itu.

32 tahun memerintah dengan kokoh, siapa sangka Soeharto bisa goyah dan pasrah secepat itu. Dihantam aksi demo ribuan mahasiswa barangkali tidak akan bisa begitu saja melengserkan mantan Pangkostrad tersebut, namun hantaman dari dalamlah yang membuatnya kecewa dan merasa lelah.

Setelah ‘disuruh’ mundur oleh Harmoko, salah satu orang kepercayaannya sendiri, dan ditolak oleh 9 tokoh moderat yang diharap bisa jadi kartu truf pembalik keadaan, Soeharto kembali dibuat tak berdaya dengan hantaman yang dilancarkan orang-orang terdekatnya.

Di Gedung Bappenas, pada 20 Mei 1998, 14 menteri bidang ekonomi dan industri menggelar pertemuan dan sama-sama bersepakat untuk tidak bersedia duduk dalam Komite Reformasi atau Kabinet Reformasi bentukan Soeharto. Mereka bahkan berkirim surat kepada Soeharto dan dalam alinea pertama surat itu sudah tersirat bahwa Soeharto harus mundur.

Ke-14 menteri tersebut adalah Akbar Tandjung, AM Hendropriyono, Ginandjar Kartasasmita, Gri Suseno Hadihardjono, Haryanto Dhanutirto, Justika S Baharsjah, Kuntoro Mangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, Rahardi Ramelan, Subiakto Tjakrawerdaya, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo L Sambuaga, dan Tanri Abeng.

Setelah membaca surat tersebut pada pukul 20.00 WIB, Soeharto benar-benar merasa terpukul. Dia tidak punya pilihan selain mundur. Soeharto kemudian memanggil Wapres BJ Habibie, untuk menginformasikan kemungkinan tersebut. Habibie diminta siap jika kekuasaan kepresidenan diserahkan Soeharto kepadanya.

“Pak Harto gugup dan bimbang, apakah Habibie siap dan bisa menerima penyerahan itu. Suasana bimbang ini baru sirna setelah Habibie menyatakan diri siap menerima jabatan Presiden,” ujar Probosutedjo, adik Soeharto, yang berada di kediaman Jalan Cendana, malam itu.

Namun ada cerita lain di balik ‘penyerahan kekuasaan’ dari Soeharto ke Habibie. Soeharto sebenarnya ragu bila Habibie bisa menggantikan posisi dirinya. Di mata Soeharto, Habibie saat itu belum terlalu ‘kuat’ untuk memimpin Indonesia.

Penilaian Soeharto tersebut ternyata disampaikan oleh Tanri Abeng kepada Habibie yang membuatnya sangat tersinggung. Habibie langsung bergegas menemui Soeharto. Kepada gurunya tersebut, dia menyatakan protesnya karena dianggap tidak mampu memimpin negara. Bahkan sempat terlontar kalimat, :”Bapak kurang ajar,” dari mulut Habibie.

Dalam buku “Kekacauan Negara di Tengah Presiden Ketiga dan Keempat” yang ditulis mantan Menteri Pariwisata era Habibie, Marzuki Darusman, disebutkan Soeharto hanya terdiam dihardik ‘kurang ajar’ oleh Habibie.

Pada Rabu malam, 20 Mei 1998, Habibie membawa surat pengunduran diri para anggota Kabinet Pembangunan VII. Hal ini bisa diartikan bahwa Habibie seperti halnya para menteri dalam kabinet tersebut, ‘meminta’ pengunduran diri Soeharto. Hubungan keduanya dikabarkan retak sejak saat itu.

Menjelang tengah malam di hari Rabu itu, giliran Panglima ABRI Wiranto yang mengunjungi Soeharto dan menyarankannya mengundurkan diri karena melihat Soeharto tidak punya pilihan lain.

Selanjutnya, pada pukul 23.00 WIB, Soeharto pun memanggil ahli hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadilah Mursjid, serta Panglima ABRI Wiranto. Soeharto berbulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Habibie.

Puncaknya pada 21 Mei pukul 09.00 WIB, di Ruang Credential Istana Merdeka, Soeharto menyatakan berhenti atau mundur dari jabatan Presiden Indonesia.

Cerita Bom di Sekitar Istana

Kisah lengsernya Soeharto sebenarnya jauh lebih mencekam ketimbang kronologi umum di atas yang tercatat dalam sejarah.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah bercerita bahwa dia mendengar kabar jika militer telah menyebar 16 bom di jalan-jalan sekeliling istana dan pom bensin. Bom akan diledakkan, saat Soeharto benar-benar dijatuhkan, bukan berhenti atas keinginan pribadi. Bom diletakkan di tol dan jalan menuju istana, untuk menutup akses bagi siapapun, dan akhirnya militer ambil kekuasaan.

“Jika itu terjadi (dijatuhkan), maka semua akses menuju istana diledakkan, dan militer langsung ambil alih,” kata Cak Nun.

Saat itu, situasi di Jakarta benar-benar genting dan mencekam, kerusuhan bisa meledak dan tak terkendali. “Militer saat itu menunggu aba-aba dari pertemuan di Cendana, karena pihak militer tidak tahu diskusi apa yang terjadi di sana,” katanya.

Wiranto yang saat itu sebagai Panglima ABRI tengah siap dengan aba-aba Soeharto. Muncul ketakutan jika komunikasi dari hasil diskusi Komite Reformasi tak sampai seperti sebenarnya, dan bahkan bisa saja terdistorsi, maka militer akan mengambil kendali. Soalnya, hingga hari pengunduran diri Soeharto, pihak militer tidak tahu jika Soeharto telah rela mundur dari kekuasaan, dan bukan dijatuhkan.

Menurut kabar yang didengar Cak Nun, Soeharto sebenarnya sudah memberikan mandat penuh kepada Wiranto untuk melakukan apa saja demi memulihkan keamanan, namun Wiranto tidak melaksanakannya.

“Pak Harto, saat itu sudah buat surat mandat penuh dan kewenangan penuh untuk melakukan apa saja kepada militer. Wiranto tidak melaksanakan itu. Tim-tim militer dibentuk untuk menculik ini, menculik itu,” papar Cak Nun.

Namun, kata Cak Nun, beruntung hal itu tidak terjadi, bahkan para petinggi militer mengaku heran dengan atmosfer pertemuan di Cendana yang begitu cair. “Jika saat itu Soeharto pingsan misalnya, bom bisa meledak.”

Cak Nun memaparkan bom tersebut berdaya ledak cukup tinggi dengan detonator dipegang oleh salah satu disertir TNI yang bergerak dalam sebuah tank. Komando peledakan, menurut Cak Nun, ada di bawah wewenang seorang jenderal bintang dua dari kelompok TNI tertentu.

Cak Nun menambahkan bahwa pemegang detonator itu adalah salah satu perakit bom terbaik dan masih hidup sampai saat ini, namun ia enggan menyebutkan siapa tokoh tersebut.

Dalam kondisi yang terus genting, kata Cak Nun, Soeharto sebenarnya sudah tidak lagi peduli dengan jabatannya, dan dia benar-benar legowa untuk melengserkan diri. Itu sebabnya, Soeharto sangat marah mendengar tuduhan Amien Rais yang menyebut pertemuan Soeharto dengan 9 tokoh nasional untuk membentuk Komite Reformasi hanyalah upaya Soeharto untuk melanggengkan kekuasaan.

“Pak Harto marah betul saat ada pernyataan seperti itu dari Amien, sangat disayangkan (tuduhan Amien itu). Dari situ ia tak lagi peduli,” katanya.

Lebih detail Cak Nun mengatakan, Soeharto sebenarnya tidak pernah takut dengan demonstrasi mahasiswa yang menduduki Gedung DPR/MPR. Menurut Soeharto, para mahasiswa itu tidak tahu apa-apa, dan cuma digerakkan oleh orang-orang tertentu.

Cak Nun menuturkan, Soeharto hanya bergetar kala tahu rakyatnya mulai bertindak anarkis dan menjarah, bahkan membunuh. Saat itu, Soeharto mengakui dia merasa gagal sebagai pemimpin.

“Bukan mahasiswa yang membuat saya bergetar, tapi rakyat saya yang mulai menjarah, karena rakyat itu murni. Itu membuat saya benar-benar takut dan menggigil, saya gagal jadi pemimpin,” kata Soeharto seperti dikutip kembali oleh Cak Nun.

Bila ingatan Cak Nun benar adanya, maka bukan aksi mahasiswa dan tekanan dari para orang terdekat yang membuat Soeharto lengser, namun perasaan gagal sebagai pemimpinlah yang menyebabkan Soeharto rela turun dari kekuasannya. (joko/dari berbagai sumber)

News Feed