Perang di Desa Bubat yang Jadi Awal Perselisihan Jawa-Sunda

 

Jakarta, Radar Pagi – Perang Bubat adalah perang singkat yang terjadi pada tahun 1357 M, yaitu masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda. 

Kerajaan Sunda atau nama lainnya Kerajaan Sunda-Galuh atau Kerajaan Pasundan, berdiri tahun 932 dan runtuh tahun 1579 Masehi. Kerajaan ini merupakan gabungan dari dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda (berpusat di Kota Bogor sekarang) dan Kerajaan Galuh (berpusat di Kabupaten Ciamis sekarang), yang sepakat bersatu untuk membentuk kerajaan baru. Wilayah kekuasaan kerajaan ini bila dilihat dengan peta sekarang meliputi wilayah Jawa Barat, Banten, Jakarta dan sebagian Jawa Tengah. Ibu Kota Kerajaan Sunda berada di Kota Bogor.  

Sementara Kerajaan Majapahit (berdiri 10 November 1293 M, runtuh 1478 M atau 1522 M) didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari, setelah kerajaan itu dihancurkan oleh Jayakatwang dari Kerajaan Kediri.

Perang Bubat bermula dari keinginan Hayam Wuruk untuk mempersunting Dyah Pitaloka Citaresmi yang kecantikannya terdengar hingga Majapahit, terlebih setelah Hayam Wuruk melihat lukisan wajah sang putri yang digambar oleh seniman Majapahit bernama Sungging Prabangkara. Sang raja pun mengirim surat yang diantar oleh seorang mantri bernama Madhu untuk melamar Dyah Pitaloka, yang bila lamaran itu disetujui, maka pernikahan akan digelar di Majapahit.

Pihak Kerajaan Sunda sendiri awalnya merasa keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, karena tidak lazim bila calon pengantin wanita datang menyerahkan diri ke pihak pengantin laki-laki. Selain itu ada kekhawatiran bahwa pernikahan ini merupakan jebakan diplomatik dari Majapahit untuk menguasai tanah Sunda lewat jalur pernikahan. 

Namun Raja Linggabuana akhirnya mengalah, mengingat pernikahan ini sebenarnya juga berdampak positif bagi Kerajaan Sunda apabila bisa bersekutu dengan Majapahit yang kala itu sedang bersinar. Apalagi tersiar kabar bahwa Hayam Wuruk sebenarnya masih memiliki darah Sunda karena ayahnya, Rakeyan Jayadarma, adalah orang Sunda dari Kerajaan Galuh (versi sejarah lainnya menyebut ayah Hayam Wuruk adalah Bhre Tumapel, seorang Jawa).

Ditemani serombongan kecil pengawal yang disebut Pasukan Balamati, sejumlah menteri, dan pelayan wanita, Maharaja Linggabuana beserta permaisuri dan Putri Dyah Pitaloka berangkat menuju Majapahit. Rombongan berangkat melalui jalan darat ke Pelabuhan Cirebon. Dari Cirebon perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kapal laut kerajaan.

Setelah kapal berlabuh, rombongan menuju Desa Bubat, rombongan ini kemudian beristirahat dan membangun kemah. Persoalan kemudian timbul, karena Mahapatih Gajah Mada yang datang menemui rombongan ini meminta Kerajaan Sunda untuk menyatakan takluk kepada Kerajaan Majapahit dan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka nantinya menjadi tanda dari penyerahan kedaulatan tersebut.

Di perkemahan tersebut, Gajah Mada dimaki habis-habisan oleh pihak Kerajaan Sunda yang merasa tertipu. Gajah Mada sendiri sebelumnya sudah meminta izin sampai taraf ‘menekan’ kepada Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk negeri Sunda. Namun Hayam Wuruk yang merasa bimbang belum memberi jawaban. Tanpa sepengetahuan Hayam Wuruk, Gajah Mada membawa pasukan Bhayangkara dalam jumlah besar ke Desa Bubat.

Pasukan Bhayangkara adalah pasukan khusus Majapahit yang hanya diisi oleh prajurit-prajurit pilihan. Dalam kesehariannya, pasukan ini hanya berlatih dan berlatih hingga punya skill militer yang tinggi. Tugas utama mereka mengawal raja dan kerabat istana lainnya, serta dalam kondisi perang dapat dikirim untuk melakukan operasi militer dengan tingkat kesulitan tinggi yang tidak mampu dilakukan oleh pasukan biasa. Anggota Bhayangkara memakai seragam hitam-hitam dan bersenjatakan tombak panjang. Di siang hari, warna seragam hitam membuat pasukan ini terlihat berwibawa dan menyeramkan, sementara di malam hari, warna hitam membantu mereka membaur dengan gelapnya malam sehingga mengaburkan pandangan musuh.

Karena pihak Kerajaan Sunda tetap tidak mau mengakui superioritas Majapahit, Gajah Mada yang sudah habis kesabaran dan melihat kesempatan untuk menghabisi elit politik Kerajaan Sunda, segera memerintahkan Pasukan Bhayangkara untuk melakukan serangan. Perang tidak seimbang tidak berlangsung lama. Pasukan Bhayangkara terbukti jauh lebih kuat, apalagi mereka unggul dalam jumlah. Seluruh laki-laki dalam rombongan Kerajaan Sunda, termasuk Raja Linggabuana berhasil dibunuh.

Putri Dyah Pitaloka sempat meratapi kematian ayahnya, sebelum melakukan bunuh diri yang segera diikuti oleh seluruh perempuan dalam rombongan tersebut. Dalam tradisi Kerajaan Sunda di masa lalu, bunuh diri semacam ini disebut dengan istilah Bela Pati, yaitu bunuh diri untuk membela kehormatan negara sekaligus menghindarkan diri dari kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk yang marah besar setelah mendengar kejadian ini tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak berani menjatuhkan hukuman atas kelancangan yang diperbuat Gajah Mada, apalagi Gajah Mada telah mengabdi pada kerajaan sejak zaman Majapahit masih diperintah oleh kakek Hayam Wuruk, Raden Wijaya. Namun hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada terus merenggang pasca kejadian ini. Pamor Gajah Mada pun menurun karena semua pejabat dan bangsawan Majapahit turut menyalahkannya.

Meski jabatan sebagai Mahapatih terus dipegang sampai akhir hayatnya di tahun 1364 M, namun pamor politik Gajah Mada terus merosot dan seperti terkucilkan di lingkungan istana. Apalagi setelah Hayam Wuruk menganugerahkan untuknya tanah yang sangat luas di Madakaripura (kini Probolinggo). Meski kesannya mendapat hadiah, tapi sebenarnya itu sindiran halus dari Hayam Wuruk agar Gajah Mada segera pergi dari Kerajaan Majapahit. Sebab untuk ukuran zaman itu, jarak antara Probolinggo sangat jauh dari Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto.

Tragedi Perang Bubat akhirnya merusak hubungan antar kedua negara. Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Pitaloka yang ditinggal di Istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena masih terlalu kecil, menjadi satu-satunya keturunan Raja yang hidup dan belakangan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakannya di masa depan antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit.

Di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda kemudian diberlakukan larangan untuk tidak menikahi orang Majapahit. Peraturan ini lantas berkembang lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa. Ironisnya, peraturan ini ternyata terus ditaati oleh masyarakat Sunda meski Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pasundan sendiri telah punah ratusan tahun lamanya. Sampai puluhan tahun silam, sangat sukar menemukan pasangan pengantin dari suku Jawa-Sunda. Dan bila ada perempuan atau lelaki suku Sunda yang menikah dengan orang Jawa, lalu rumah tangganya tidak mengalami kebahagiaan, apalagi sampai berujung perceraian, maka segera saja disangkutpautkan dengan orang Jawa yang disebut memiliki tabiat buruk senang menipu seperti Gajah Mada.

Sejak zaman kemerdekaan pun tidak ada nama Jalan Majapahit, Jalan Hayam Wuruk maupun Jalan Gajah Mada di seantero wilayah Jawa Barat, kecuali Jalan Majapahit Raya di Bogor. Sampai akhirnya Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk diresmikan sebagai nama jalan di Kota Bandung, pada Jumat (11/5/18) kemarin. Peresmian ini merupakan upaya rekonsiliasi budaya yang retak gara-gara tragedi Bubat 661 tahun silam.

Di Mana Letak Desa Bubat?

Dalam catatan resmi Kerajaan Majapahit, Perang Bubat kurang mendapat tempat. Sepertinya Majapahit ingin mengubur kenangan pahit dari kejadian ini. Dalam naskah Negarakretagama karya Mpu Prapanca yang ditulis sekitar tahun 1365 M (satu tahun setelah wafatnya Gajah Mada), tidak ada ditulis mengenai Perang Bubat. Namun Desa Bubat disebut sebagai tempat yang memiliki lapangan sangat luas, dan raja Hayam Wuruk pernah berkunjung ke sana dengan mengendarai kereta yang ditarik enam ekor kuda, untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan. Ini sesuai dengan namanya “bubat” yang bisa jadi berasal dari kata “butbat” yang artinya “jalan yang lega dan lapang”.

Sumber utama Majapahit soal tragedi Sunda hanya dilukiskan dalam bentuk kidung yang dikenal dengan nama Kidung Sunda. Ini sesuai janji Hayam Wuruk kepada pihak Kerajaan Sunda, yang disampaikan melalui pihak netral, yaitu utusan dari Bali yang kebetulan saat Perang Bubat sedang berada di Trowulan sebagai undangan untuk menghadiri pernikahan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk meminta utusan Bali tersebut untuk menemui Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi raja sementara menggantikan Raja Linggabuana. Kepada Hyang Bunisora, utusan Bali menyampaikan permintaan maaf Hayam Wuruk, serta menyampaikan janji bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda agar generasi mendatang dapat mengambil hikmah dari kejadian ini.

Sebaliknya, tragedi Bubat mendapat tempat luas dalam naskah-naskah kuno Sunda. Naskah-naskah itu antara lain Carita Parahyangan dan Wangsakerta. Bahkan kisah itu terdapat pula dalam naskah kuno di Bali (Geguritan Sunda).

Uniknya meski ditulis berulangkali dalam pelajaran sejarah, hingga kini tidak diketahui pasti di mana letak Desa Bubat. Arkeolog Universitas Indonesia (UI), Agus Aris Munandar, mengatakan Desa Bubat itu sekarang berada di Desa Tempuran dekat wilayah Trowulan. Nama Tempuran yang artinya pertempuran diambil dari perang yang pernah terjadi di sana (Perang Bubat).

Lapangan Bubat persisnya diperkirakan terletak di dekat kolam Segaran Majapahit, sekarang sudah menjelma jadi perumahan dan persawahan. Namun berdasarkan hasil foto udara dan ekskavasi situs Trowulan menunjukkan, pada masa lalu Trowulan memiliki banyak parit hingga sukar dibayangkan bila pernah memiliki lapangan sangat luas.

Sementara menurut Cokro Pamungkas, budayawan Trowulan yang meneliti tentang Majapahit, Bubat merupakan kota bandar yang terletak di sisi sungai besar yang letaknya tidak jauh dari Tarik. Tarik ini adalah lokasi dimana dulunya Raden Wijaya mulai membuka hutan untuk mendirikan Kerajaan Majapahit. Letak persisnya di tepi Sungai Brantas yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

“Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas Lapangan Bubat,” ujar Dimas.

Kisah Perang Bubat memang menyisakan misteri. Lokasinya tidak diketahui secara pasti, sehingga tidak ada peninggalan arkeologis yang bisa digali dan dipelajari. Beragam sumber yang dijadikan acuan sejarahwan pun kerap berlainan data. Misalnya, Kidung Sunda yang naskahnya ditemukan oleh ahli Belanda bernama Prof. Dr. CC Berg di awal dekade 1920-an, ternyata memiliki versi pendek yang disebut Kidung Sundayana.

Dalam kedua versi kidung yang tidak diketahui siapa penulisnya itu sama sekali tidak disebutkan secara jelas nama-nama dari raja, ratu, dan putri dari negara Sunda. Kisah kidung ini pun mirip cerita sinetron. Dikisahkan, rombongan Raja Sunda datang dalam jumlah besar dengan menumpang 2.000 kapal berbagai ukuran. Kapal-kapal tersebut dilukiskan mirip kapal tentara Mongolia yang disebut kapal Jung Tatar.

Dalam versi ini disebutkan, Raja Hayam Wuruk bersama kedua pamannya bersiap hendak menjemput rombongan Raja Sunda yang telah tiba di Pelabuhan Desa Bubat, namun dicegah oleh Gajah Mada yang khawatir bila rombongan tersebut adalah rombongan musuh yang menyamar sebagai rombongan dari Sunda. Menuruti saran Gajah Mada, Hayam Wuruk berdiam diri di istana.

Karena tidak ada tanda-tanda penyambutan, Raja Sunda kemudian mengutus Patih Anepaken beserta tiga pejabat dan 300 tentara untuk pergi ke Majapahit. Di sana, Anepaken diterima di rumah Gajah Mada dan terjadi pertengkaran hebat setelah Gajah Mada meminta orang-orang Sunda bersikap sebagai bawahan Majapahit. Hampir terjadi peperangan di rumah Gajah Mada seandainya tidak dipisahkan oleh seorang smaranata, yaitu pendeta Hindu yang bekerja di Kerajaan.

Setelah Patih Anepaken kembali ke rombongan, dia menyampaikan permintaan Gajah Mada agar Raja Sunda menjadi bawahan Majapahit. Mendengar kabar tersebut, Raja Sunda marah dan menyatakan perang kepada Majapahit. Sang Raja merasa lebih baik mati membela kehormatan ketimbang harus hidup terhina sebagai bawahan Majapahit.

Perang pun terjadi. Di pihak Majapahit, pasukan dibagi dalam tiga lapis. Di bagian depan merupakan pasukan biasa, di tengahnya merupakan pejabat-pejabat militer dan Gajah Mada, lalu Hayam Wuruk dan kedua pamannya disertai pengawal di bagian terakhir.

Dalam pertempuran tersebut, Patih Anepaken tewas dibunuh Gajah Mada, Raja Sunda tewas dibunuh oleh kedua paman Hayam Wuruk. Dari pihak Majapahit, banyak tentara tewas, tapi berhasil menang karena unggul dalam jumlah. Dari pihak Sunda ada seorang perwira bernama Pitar yang berhasil lolos karena sebelumnya berpura-pura mati. Dialah yang kemudian menyampaikan kabar Perang Bubat kepada pihak kerajaan di negara Sunda.

Di bagian akhir kidung diceritakan, Hayam Wuruk yang khawatir dengan keselamatan Dyah Pitaloka bergegas mencarinya, tapi sang putri ditemukan telah tewas bunuh diri. Hati Hayam Wuruk pun hancur. Dia menangis meratapi jenazah Dyah Pitaloka dan minta segera dipersatukan dengan pujaan hatinya.

Setelah upacara menyembahyangi arwah yang gugur dalam pertempuran digelar, Hayam Wuruk pun meninggal dengan hati yang merana. Setelah jenazah Hayam Wuruk diperabukan (dibakar), kedua paman Hayam Wuruk menyalahkan Gajah Mada dan berniat membunuhnya. Gajah Mada yang sadar ajalnya sudah dekat, melakukan samadi kemudian mokswa (menghilang secara gaib) menuju alam Niskala (akhirat).

Kisah dalam Kidung Sunda ini memiliki beberapa kelemahan terkait data sejarah, misalnya Hayam Wuruk diceritakan meninggal dalam keadaan patah hati. Kenyataannya Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri, Putri Sori, bahkan punya banyak selir. Hayam Wuruk hidup sampai tahun 1389 dan dimakamkan di Tajung.

Tapi terlepas dari benar tidaknya beragam versi yang mengiringi kemisteriusan letak Desa Bubat, Perang Bubat diyakini benar-benar pernah terjadi dan selama ratusan tahun menjadi ‘duri’ yang ‘memisahkan’ orang-orang Jawa dengan Sunda. Kita bersyukur duri itu kini berhasil dicabut dengan diresmikannya nama Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk di Kota Bandung. (Heri Suherman/dari berbagai sumber)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below