Harry Moekti Sering Sumbangkan Seluruh Honor Dakwahnya untuk Pembangunan Masjid

 

Bogor, Radar Pagi – Harry Moekti, rocker yang telah hijrah menjadi da’i meninggal dunia karena serangan jantung pada hari Minggu (24/6/2018) di Cimahi, Jawa Barat.

Sebelum dipastikan meninggal karena serangan jantung, sempat beredar kabar kalau Harry meninggal karena stroke. Adik Harry Moekti, Moekti Chandra menceritakan kronologi meninggalnya sang kakak.

“Jadi diklarifikasi bahwa kabar yang beredar itu kan Kang Harry Moekti terkena serangan stroke, itu bukan. Saya dapat dari dokter yang menangani, pas kejadian jatuh, di situ serangan jantung menyerang beliau,” kata Chandradi kediaman keluarga almarhum di Bogor, Senin (26/6/2018).

Menurut Moekti, saat kejadian, almarhum sedang menonton televisi di sofa hotel, tiba-tiba terjatuh hingga remote TV di tangannya terlempar.

Kerasnya suara Harry terjatuh bahkan terdengar oleh istrinya, Umi Aulia, yang sedang berada di kamar mandi.

Umi yang terkejut mendengar suara seperti orang jatuh langsung bergegas keluar dan mendapati suaminya sudah terduduk di lantai dan bersandar pada bawah sofa sambil memegangi dadanya.

Saat didekati, tiba-tiba Harry bersikap seperti sedang tidur, bahkan terdengar suara ngorok. Umi Aulia pun segera meminta bantuan pihak hotel untuk membawa suaminya ke rumah sakit. Namun Harry meninggal di perjalanan. Dokter rumah sakit Dustira  memperkirakan, Harry meninggal sekitar 20 menit setelah dibawa dari hotel.

Keberadaan Harry di kampung halamannya, Cimahi, rencananya untuk mengisi Kajian Khusus Hijrah Story di Masjid ABRI, Jalan Gatot Subroto, Baros, Jawa Barat, Senin (25/6/2018) besok harinya. Tiga jam sebelum meninggal, Harry masih sempat membalas pertanyaan jamaah di media sosialnya, terkait rencana tausiah di Masjid ABRI tersebut.

Jenazah Harry kemudian dimakamkan di Kampung Pasir Kuda, Desa Cikereteg, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kepada awak media, Umi sempat menceritakan firasat sebelum Harry meninggal dunia.

Diceritakan, Harry yang tidak pernah memakai pakaian berwarna putih, kecuali kadang-kadang untuk sholat di masjid dekat rumah, tiba-tiba selalu memakai pakaian putih, beberapa hari sebelum berpulang.

“Biasanya selalu pakai baju hitam, apalagi kalau tausiah ke luar kota pasti pakai baju hitam. Tapi ini pakai baju putih terus,” katanya.

Umi juga melihat bahwa nafsu makan Harry mendadak bertambah, terutama saat lebaran dan sesudahnya. Makanan apapun yang disantan terasa enak di lidahnya.

Karir Bermula di Semarang

Harry Moekti atau kadang ditulis Harry Mukti lahir di Cimahi, 25 Maret 1957 memiliki nama asli Hariadi Wibowo. Belakangan dia lebih dikenal dengan nama Hari Moekti ketika banyak orang bertanya, “Harry yang mana?” dan yang dijawab “Harry yang kakaknya Moekti”, jadilah dia oleh lingkungannya dipanggil Harry Moekti.

Sejak kecil hingga menamatkan studinya di SMA, kehidupan Hari Moekti dihabiskan di Cimahi dan Bandung. Kemudian sebagai anak tentara, Harry mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke Semarang.

Di kota Semarang Harry pernah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang selama satu tahun. Dari kota Semarang pula karier Hari Moekti dalam bidang musik dimulai. Harry dan beberapa kawannya membentuk grup band Darodox (dari bahasa jawa yang berarti nderedeg atau gemetar).

Tahun 1980 sesudah ayahnya meninggal, Harry kembali ke Bandung. Di Bandung, Harry bergabung dengan Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, kemudian New Bloodly Band.

Perjalanan musik Harry kemudian dilanjutkan di kota Jakarta dengan bergabung bersama Makara dari tahun 1982 sampai tahun 1985. Namun ketika Harry melakukan rekaman solo grup ini bubar. Suatu hal yang dianggap mengangkat kariernya adalah ketika bergabung dengan band Krakatau pada tahun 1985.

Beberapa rekaman Harry Moekti yang meledak di pasaran antara lain adalah Lintas Melawai pada tahun 1987, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka dan Satu Kata bersama grup band Adegan.

Selama kariernya Harry telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terakhir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harry mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga Hari tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Harry yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR (search and Rescue), aktif dalam olahraga arung jeram, kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.

Sebagai da’i, Harry dikenal tidak pernah menentukan tarif setiap mengisi acara keagamaan.

Adik sekaligus asisten almarhum Harry Moekti, Pupung Apun, mengatakan selama hidupnya, Harry Moekti tidak pernah meminta bayaran.

“Selama saya enam tahun jadi asistennya, beliau tak pernah nerima bayaran. Kalau ditanya (mau terima) bayaran berapa, beliau nggak pernah jawab,” ujar Pupung ditemui Kampung. Pasir Kuda, Cikretek, Bogor, Senin (25/6/2018).

Menurut Pupung, almarhum biasanya hanya menerima fasilitas berupa tempat menginap dan transport, jika ada panggilan dakwah di luar kota.

“Kecuali kalau ke luar kota kan ada transport dan hotel untuk menginap. Itupun tidak lebih. Kalau ada infak kan itu urusan mereka, tapi kita tidak pernah berpikir soal itu,” kata Pupung.

Almarhum juga kerap memberi sumbangan ke masjid-masjid yang sedang dalam pembangunan. Sumbangan itu merupakan ‘transport’ atas kerja dakwahnya, tapi diberikan semua ke masjid.

“Dia suka nyumbang pembangunan masjid yang belum selesai. Di mana-mana beliau selalu begitu kalau ada ceramah yang ada hubungannya dengan pembangunan-pembangunan. Amplopnya dia sumbangin semua buat pembangunan. Dan dia bukan ustad yang dibayar,” tegas Pupung. (Heri)

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below