Egha Latoya dan Karya yang Tak Pernah Luput dari Rasa

 

“Musik, menulis dan melukis adalah tiga hal yang selalu saya jadikan tempat untuk melarikan diri dari hal-hal yang saya rasakan. Saya olah itu semua menjadi bentuk karya yang selalu saya libatkan hati di dalamnya.” (Egha Latoya)

Yogyakarta, Radar Pagi – Hati adalah tempat di mana semua kejujuran yang dimiliki seseorang bisa tersimpan dengan sangat rapih, sekaligus menjadi ruang yang paling aman untuk menyimpan semua rasa yang tak bisa terungkap baik dalam kata maupun lainnya. Akan tetapi, jika segala hal sudah melibatkan hati di dalamnya, akan banyak hati yang tersentuh untuk sama-sama menikmati segala hal yang terasa.

Apalagi untuk proses penciptaan sebuah karya seni, hati adalah ornamen penting yang tak dapat dipisahkan di dalamnya. Banyak gagasan tak berhasil disampaikan oleh seorang pelaku seni saat hatinya tidak dilibatkan. Maka dari itu, banyak dari mereka yang telah berhasil pada bidang tersebut kerap mengatakan bahwa jangan sampai hati tidak diikut sertakan ketika semua proses berkarya dilakukan.

Dan itulah menjadi suatu hal mendasar yang selalu dipegang Egha Latoya, seorang penulis, musisi dan seorang pelukis saat berproses menciptakan sebuah karya. Apa yang ada dalam hatinya tak pernah luput ia dilibatkan di dalamnya. Maka tak heran jika wanita yang lahir pada 2 Februari 1993 silam ini selalu berhasil menguras hati para pengagumnya ketika ikut serta menikmati karya yang ia buat.

Egha mengatakan, pada dasarnya semua perasaan yang tak pernah absen terlibat dalam setiap karyanya pasti pernah atau sedang dirasakan oleh seseorang. Dari pengalaman hidup yang ia luapkan dalam karya-karyanya tersebut bisa dibilang menjadi suatu yang diharapkan olehnya bisa mewakilkan rasa-rasa yang tak dapat diungkapkan seseorang.

“Karya-karya yang sudah saya buat bisa dibilang adalah catatan harian yang mewakili apa yang saya rasakan, juga hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar saya. Saya percaya semua hal yang bermula dari hati akan mudah diterima oleh banyak hati untuk sama-sama merasakan apa yang sedang dirasakan,” ungkap wanita yang akrab disapa El tersebut.

novel egha latoya copy

Lanjutnya, dari banyaknya bidang seni yang ada, musik, menulis dan lukis ada tiga ruang yang bisa mengakomodir semua hal yang El rasakan. Mulai dari musik yang mampu membuat hatinya selalu terasa hidup, dunia menulis yang selalu ia percaya sebagai tempat yang paling aman untuk mengungkapkan rasa tanpa perlu ia berbicara, dan lukisan yang mampu menggambarkan perasaan melalui simbol-simbol yang ia ciptakan.

“Sejauh ini, musik, menulis dan melukis adalah tiga bidang yang selalu berhasil mengembangkan perasaan saya, yang kemudian bisa saya bagikan kepada mereka yang sama-sama merasakan hal yang sama. Walau bisa terbilang berbeda, karya musik, tulisan dan karya lukis yang saya hasilkan selalu memiliki benang merah. Contohnya adalah seperti yang tertuang dalam buku terbaru saya berjudul Aku yang Tak Bernama di Hatimu dengan salah satu lagu yang akan ada dalam mini album saya nanti. Dan hal itu pun terjadi pada karya-karya saya yang lain,” jelas wanita yang juga pernah menulis buku berjudul Surat Terakhir Ellena yang dirilis pada tahun 2017 lalu itu.

Tambahnya, selain mengungkapkan rasa melalui karya yang ia ciptakan selama ini, berkesenian di tiga bidang yang secara konsisten ia lakukan sampai hari ini adalah sebuah bentuk rasa syukurnya terhadap segala hal yang diberikan Tuhan kepadanya. Dan hal itulah yang membuat El terus bertahan untuk tetap berkreasi menghasilkan karya-karya terbaiknya.

“Saya sudah sejak tahun 2015 menyukai karya-karya yang dihasilkan oleh Kael (Egha Latoya). Saya berharap Kael tetap menjadi dirinya yang sendu, yang selalu membuat El Family (penikmat karya Egha Latoya) selalu rindu. Saya dan teman-teman El Family yang lain selalu menantikan setiap karya yang akan dikeluarkan oleh Kael,” tambah Melani Rahayu, salah satu penikmat karya dari Egha Latoya. (Amigo)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below