Cerpen Mahdi Idris: Perihal Sebuah Cerita Tak Sempurna

 

MALAM sudah larut ketika aku mulai menulis sebuah cerita. Aku tak peduli pada sesuatu yang mengusik pikiran. Di luar, suara jangkrik dan cacing tanah berdendang ria. Aku terus menulis, tanpa henti. Telapak tanganku mengeluarkan keringat dingin, memegang ballpoint warna hitam, tintanya mulai merembes di sela-sela jari.

Sedikit saja mataku terpejam, aku berusaha membukanya kembali, sambil meneguk kopi. Kupaksakan mataku tetap terjaga sampai cerita itu selesai kutulis. Bahkan, aku rela mondar-mandir, berjalan di tengah ruangan, agar rasa kantuk lenyap. Memang, betapa sulit yang kurasakan pada malam ini. Hanya untuk sebuah cerita.

Jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Aku belum juga menyelesaikan cerita yang kuangankan menjelang matahari terbenam tadi sore. Langit-langit kamarku bergoyangan diterpa angin dari atap rumahku yang terbuat dari seng bekas, yang kubeli dari seorang teman yang katanya hasil curian di sebuah bangunan bekas gudang milik perusahaan besar di daerah kami. Seng itu sudah berlubang sana-sini, bahkan ia tak kuat lagi menahan paku yang menempel pada kayu perekat atap. Angin sepoi-sepoi saja mampu menyingkapkannya. Aku semakin curiga, kedatangan angin itu pertanda alam akan membuka tabirnya, sebentar lagi akan datang pagi. Aku semakin khawatir cerita ini takkan selesai kutulis menjelang matahari terbit.

Ah, aku tak peduli. Dua jam lagi kugunakan sehemat mungkin. Tubuhku mengucur keraingat dingin. Tangan kananku yang menggenggam ballpoint juga terasa berkeringatan, terasa pegal. Sesekali lenganku bergoyang-goyang, mengusir nyamuk yang berusaha mengisap darah yang penuh semangat menuliskan cerita ini.

Kini sudah kutulis empat halaman kertas A-empat, dua halaman lagi akan selesai cerita ini. Aku akan menyelesaikannya ketika si tokoh pemuda bertemu kembali dengan kekasihnya yang berpisah lima tahun lamanya, karena kekasihnya merantau menjadi pembantu rumahtangga di negeri jiran. Asyik, pikirku, siapapun akan meneteskan airmata keharuan, karena kesetiaan sepasang kekasih itu dalam penantian cinta.

Cerita ini bukanlah kisah nyata. Hasil rekaanku sendiri yang ide dasarnya kusimak dari berita TV dan koran, banyak tenaga kerja wanita Indonesia yang dihukum gantung di negeri orang karena berbagai alasan, terutama pembunuhan terhadap majikan, walaupun bersifat pembelaan. Bahkan ada di antara mereka itu tetanggaku sendiri, yang pada malam kutulis cerita ini sudah tiga hari dimakamkan. Sungguh menyedihkan, pikirku. Kemudian aku balikkan fakta itu menjadi kisah yang mengharu biru, seorang tenaga kerja Indonesia yang sukses gemilang dan mendapatkan perlakuan majikannya dengan baik. Namun di balik itu, ia mengalami dilema yang amat dalam, persoalan cintanya yang ia jalani begitu rumit. Kekasihnya, si pemuda itu, berada di kampung halaman, sudah lima tahun mereka sudah berpisah. Itulah yang kemudian ingin kutulisnya sampai selesai pada malam ini. Sampai mereka bertemu dengan penuh suka cita, dan melanjutkan ke pelaminan.

Kemudian sesuatu yang tak kuinginkan terjadi, setelah menandatangani naskah itu, suatu kebiasaan pada tiap kali aku menyelesaikan tulisan, cangkir kopi di samping lenganku tersikut hingga seluruh isinya tumpah mengenai lembaran naskah ceritaku. Kalau tidak khawatir istri dan kedu anakku terbangun dari tidurnya, akan kubanting gelas itu ke lantai. Lihatlah, lembaran naskah ceritaku yang sudah berlumuran kopi tubruk. Walaupun aku pecandu kopi, kali ini aku benar-benar membencinya. Kalau bukan karena secangkir kopi aku dapat menahan rasa kantuk pada malam-malam lain selama lima tahun terakhir ini, mungkin aku akan  berkata, “Aku berhenti dari pecandu kopi. Akan kutebang semua batang kopi di belakang rumahku. Kuseret semua pemilik kedai kopi di kampungku.” Namun apalah artinya, ini kecelakaan besar yang kualami pada malam ini, sebuah takdir yang tak dapat dielakkan.

Kemudian aku berpikir, kenapa tidak aku belajar komputer, sehingga kecelakaan ini tak separah yang kualami pada malam ini, semua lembaran naskah ceritaku basah, bahkan aku tak bisa membacanya lagi selain dua halaman terakhir. Sungguh menyakitkan. Ternyata di satu sisi, buta  teknologi dapat membuat seseorang bersedih dan terpuruk dalam kemuraman. Aku yakin semua orang dapat membayangkannya.

Sudah lima tahun aku menulis, sejak aku berhenti menjadi guru karena tak pernah mendapatkan tunjangan pemerintah. Aku memilih menjadi petani sawah dan kebun, sesekali kerja bangunan bila di desa kami ada proyek pengerjaan saluran irigasi dan fasilitas umum lainnya. Untuk menambah penghasilan keluarga aku menjadi penulis amatir di koran-koran lokal, yang  sekali pemuatan bayarannya cukup untuk uang dapur. Bila ada kelebihannya aku meminta pada istriku untuk menyimpannya, yang  kadangkala kusimpan sendiri, untuk biaya pengetikan tulisanku di rentak komputer di kota kecamatan kami.

Bila aku punya komputer, aku menerka bukan seperti ini kejadiannya. Ketika lenganku tersikut gelas, kopi yang tersisa setengah gelas itu sudah pasti membasahi keyboard komputer, tulisanku tak ikut kena kopi tubruk yang hitam legam itu. Keyboard itu bisa kujemur keesokan harinya, satu sampai dua jam selanjutnya akan kering dan bisa kupasang dan kugunakan kembali. Ah, kondisi keuanganku membuat semua ini berantakan.

Berkali-kali aku membolak-balikkan lembaran naskah ceritaku. Halaman pertama sampai empat, tampak kabur. Lalu aku bangkit menuju ke dapur, ingin memanasi lembaran itu sampai kering. Kunyalakan kompor minyak tanah, kulayang-layangkan lembaran demi lembaran di atasnya.

Istriku terbangun. Pintu kamar berderit, tiba-tiba dia sudah berada di belakangku.

“Masak apa, Pa?”

Aku bergeming. “Kenapa kertasnya?” tanya lagi.

“Kena kopi,” balasku pelan.

“Digosok saja.”

“Digosok?”

“Ya.”

Aku menatapnya dalam-dalam, seakan pandanganku menembus matanya yang bengkak itu.

“Tidak apa-apa. Begini saja.”

“Nanti terbakar,” katanya.

Kemudian berlalu ke dalam kamar.

Aku masih melanjutkan pekerjaanku, melayang-layangkan lembaran naskah cerita hingga benar-benar kering. Memang benar, sudah kering. Meskipun agak kabur, kucoba untuk menenangkan hatiku yang sejak tadi terasa gelisah, mengingat kegagalan pekerjaanku yang sudah kukerjakan semalaman.

Barangkali itulah yang dapat kulakukan di penghujung malam ini, menjelang pagi yang akan tiba. Semua lembaran naskah itu kukumpulkan kembali, menjadi satu  bundel dan kumasukkan dalam amplop. Sekali lagi, aku berhati-hati menaruhnya di atas meja di dalam kamar tidur anakku.

Kulirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Deru mesin kendaraan yang mulai lalu-lalang menimbulkan kebisingan. Sebentar lagi aku akan berangkat, membawa naskah ceritaku ke rental komputer. Sambil menunggu istriku terbangun, aku memasak air, membuat kopi. Kebencianku padanya sudah sirna.

NASKAH ceritaku sudah selesai diketik. Sangat rapi. Sebelum aku meminta pada gadis pengetik untuk mencetaknya, aku membacanya kembali. Amat sempurna. Akhirnya  senyuman puas tersungging di bibirku. Kemudian aku menyuruh gadis itu untuk memasukkan dalam flash disk dan mencetaknya satu eksamplar. Dia tak bertanya lagi, segera mengerjakan permintaanku, sudah lima tahun aku menjadi langganannya. Begitu pula, fasilitas internet, setelah dia menyambung koneksi, dia hanya menanyakan alamat email media yang ingin kukirimkan. Semuanya lancar. Sim salabim, menurutku, dia kemudian melaporkan bahwa email itu sudah terkirimkan.

Hari berikutnya, sambil menunggu ceritaku dimuat koran A, aku tetap menulis  dalam berbagai tema, tentang mitos permasalahan sosial yang kerap kulihat dan kudengar di sekitarku. Bahkan kadangkala aku mengelilingi kampung agar mendapatkan ide, atau duduk di serambi rumahku memikirkan ide cerita yang bagus untuk kutulis dalam sebuah cerita. Hari-hariku memikirkan cerita, selain menguras tenaga di sawah dan kebun.

 

MINGGU pertama setelah pengiriman naskah sudah terlewati, karyaku belum juga dimuat. Aku mafhum, banyak naskah yang masuk ke email redaktur, mau tak mau harus menunggu antri. Namun, aku harus yakin karyaku dimuat. Bukankah aku sudah punya nama besar sebagai cerpenis? Sekali lagi, aku harus percaya diri dengan  talenta yang kumiliki, aku adalah penulis yang memiliki ide cerita yang cemerlang. Lantas aku harus pula punya mimpi bahwa ceritaku itu akan menjadi pencerahan bagi sekalian pembaca. Kelak akan dijadikan cerpen referensi dalam pembelajaran sastra di sekolah daerahku. Namaku akan terkenal di kalangan pencinta sastra, pikirku. 

Minggu demi minggu, kini tibalah minggu keenam penantianku dimuat karya di koran A. Pagi-pagi sekali, ketika aku sedang mengaduk kopi, ponselku berdering, sebuah pesan singkat masuk dari nomor tanpa nama, “Selamat! Cerpen anda dimuat hari ini di koran A. Saya terharu membacanya.” Bukan kepalang, jantungku berdegup kencang, sebuah senyum tersungging di bibirku. Persis seperti dugaanku sebelumnya, karyaku akan dimuat.

Setelah sarapan, aku menyalakan mesin motor, pergi ke kota kecamatan untuk membeli koran yang memuat karyaku itu. Tiba di sana, aku segera menuju kios loper koran. Mudah sekali mendapatkannya, koran A sudah dipajang. Setelah membayar, lantas aku meninggalkan kios itu dan memasuki sebuah warung kopi yang masih sepi pengunjung. Di meja paling belakang duduk dua orang pemuda yang sedang mengobrol, salah satu pemuda itu memegang koran, sesekali memperdengarkan cekikan yang membosankan telingaku mendengarnya. Kemudian aku memesan secangkir kopi pada pelayan. Tak lama, aku yakin dia sudah cekatan, secangkir kopi itu sudah dibawa ke hadapanku.

Sambil  menikmati secangkir kopi, aku membuka koran, langsung kutuju pada halaman yang memuat karyaku. Baru dua paragraf aku membacanya, kulirik pemuda itu beranjak dari tempat duduknya menuju ke arahku.

“Bagus sekali cerpennya,” ujarnya, sambil meletakkan bokongnya di kursi di hadapanku.

“Terimakasih.”

“Perkenalkan, nama saya Yadi,” ia mengulurkan tangannya padaku.

 “Nizam,” balasku.

“Maaf, Pak Nizam, kalau boleh saya kritik.”

Aku mengangguk, namun jantungku mulai berdebaran. Aku tak tahu, sejenis apa kritikannya.

“Silakan. Tidak apa-apa.”

“Pembukaannya sudah bagus sekali. Tapi ada beberapa unsur yang masih kurang penggarapan, terutama di bagian alur dan endingnya,” paparnya.

“Oh, begitu.”

“Iya, Pak. Seharusnya Anda pelajari dulu bagaimana menulis cerpen yang baik. Dan bahasanya juga harus literer. Biar karya Anda bagus.”

“Saya usahakan ke depannya lebih baik dari cerpen ini,” balasku. Selama ini aku tak pernah mendapatkan komentar setegas ini. Maklum, aku satu-satunya penulis yang tinggal di kampung pedalaman.

“Kalau boleh tahu, bagaimana proses menulis cerpen Anda ini?”

Lalu aku menceritakan proses menulis cerpen itu dengan detail, sampai naskahku dibasahi kopi pada malam itu. Kulihat dia mengangguk-anggukkan kepala, dengan pandangan sedikit sinis.

“Oh, pantas saja cerpen Anda ini kurang sempurna. Rupanya begitukah prosesnya?” ujarnya, lalu ia beranjak ke tempat duduknya semula. Kemudian aku tak tahu lagi apa yang ia bicarakan bersama temannya itu. Karena setelah aku membayar secangkir kopi dan sepotong kue, aku beranjak pulang. Dalam perjalanan, pikiranku mulai terusik, merasa kehilangan percaya diri. Namun aku tetap semangat ingin menulis lebih banyak lagi. Ingin pula membuktikan bahwa aku adalah pengarang yang punya prinsip, yang tak mudah putus asa.

HARI  minggu sudah datang kembali. Seperti biasa, setelah sarapan, aku pergi ke kota untuk membeli koran A. Betapa terkejut aku saat itu, membaca cerpen berjudul “Perihal Sebuah Cerita yang Tak Sempurna”. Kubaca nama penulisnya; Yadi S. Aku yakin, dia pemuda yang mengkritik ceritaku minggu lalu. Aku tak menduga, isi cerita dari awal sampai akhir persis sama pengalamanku dalam menulis cerita itu. Ia menceritakan tentang seorang pengarang yang sudah merasa dirinya hebat, tapi gagal menulis cerita, padahal tema yang diangkatnya memberi pencerahan pada orang lain. Dalam cerita itu, ia sangat menonjolkan pribadi tokoh yang  kemudian menjadi bahan olokan bagi para penulis lokal, hanya namaku yang tidak ia sebut. Ia memberi nama  si tokoh “Sang Pengarang” saja.

Aku mencari-cari pemuda bernama Yadi di seluruh warung kopi, namun tak tampak batang hidungnya. Aku tak marah, tapi ingin mengucapkan selamat atas karyanya yang dimuat hari ini. Perihal Sebuah Cerita yang Tak Sempurna itu memang sangat sempurna bagiku,  ketimbang ceritaku yang dimuat minggu lalu. ***

Mahdi Idris lahir di Desa Keureutoe, Aceh Utara, 03 Mei 1979. Karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan ulasan buku dimuat berbagai media lokal dan nasional. Buku cerpen tunggalnya yang telah terbit Lelaki Bermata Kabut (2011), Sang Pendoa (2013), dan Jawai (2014). Buku cerpennya yang akan segera terbit Kisah di Rumah Terakhir. Saat bermukim di Tanah Luas, Aceh Utara.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below