Cerpen Tika Lestari: Bumerang Sebotol Minuman

 

Masih di bawah terik sinar matahari yang menggosongkan kulitku. Cuaca panas dan asap kendaraan yang mengepul menambah sesak nafasku. Bunyi klakson dari masing-masing kendaraan yang bersahutan. Seakan enggan mengalah ketika ada yang menyalibnya. Belum lagi cacian para pengguna jalan ketika ada orang yang berhenti mendadak. Aku sedari tadi turun di jalan sembari mengasong menawarkan jualanku. Mondar-mandir dari kendaraan yang satu ke kendaraan lainnya.

Kakiku melangkah ke arah pohon mahoni di seberang jalan. Sejenak istirahat setelah berpanas-panasan di jalan raya itu. Keranjang berisi minuman penyegar segera aku taruh di bawah pohon itu. Sambil mengipas tubuhku dengan topi lusuh yang kukenakan. Bersandar di bawah pohon yang sedikit mengurangi hawa gerah

Ketika angin berembus, saat itu juga daun menguning jatuh menimpaku. Bahkan debu di sekitar mengganggu pandanganku. Kuusap peluh yang menghiasi kening dan leherku dengan handuk yang memang sengaja kubawa dari rumah. Kulirik dagangan di keranjang itu terlihat  masih banyak. Hari ini begitu sepi pembeli, padahal sudah  siang.

Sekilas wajah ibu melintas  di benakku. Seorang ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Setiap aku pergi berjualan ibu melihatku dengan tatapan tak kuasa. Bagaimanapun juga  aku masih sekolah, dan berjualan ketika selesai sekolah. Di rumah ibu bekerja sebagai  buruh cuci para  tetangga. Hanya dengan pekerjaan kecil tersebut ibu menyekolahkan aku dan kedua adikku. Aku pernah bicara dengan ibu kalau tak ingin sekolah. Aku berencana kerja untuk bisa meringankan beban ibuku. Namun  selalu saja ibu yang  menginginkan anaknya supaya bisa sekolah.

Ayahku  sudah pergi sejak aku berusia  8 tahun. Saat itu masih tergambar jelas dalam ingatanku  bagaimana maut menjemput ayahku. Ayah meninggal akibat alkohol yang dikonsumsinya. Adikku yang berusia 4 tahun hanya bisa menangis meski tak mengerti kejadian itu. Ibu yang saat itu tengah mengandung 2 bulan harus menyandang satus janda. Begitulah keluarga kecilku.

“Hey Boy melamun saja!” ucap Riska.

Aku tersentak dari lamunan dan segera membetulkan posisi bersandarku.

“Nanti kesambet penghuni pohon baru tau rasa kamu,” ucapnya lagi dengan wajah sumringah dan duduk di sampingku.

“Eh kamu Ris, bisa saja,” kataku.

“Bagaimana jualan hari ini Boy?” tanya Riska sambil melirik keranjang di sampingku.

“Ya seperti yang kamu lihat, sedikit sepi jualan hari ini,” jawabku.

Riska hanya mengangguk sambil menjatuhkan pandangannya ke arah jalan raya. Wajahnya yang manis sangat menyejukkan hati siapapun yang memandangnya. Meskipun memakai baju yang santai namun penampilannya tak pernah senonoh. Gaya rambut yang diikal menambah kesederhanaannya. Lesung pipi yang menambah ayu parasnya, begitulah aku menilainya.

Riska merupakan temanku sedari kecil. Latar belakang keluarganya sangat berbeda denganku. Riska tergolong dari keluarga cukup berada. Namun hal itu tak membuat dia dan keluarganya merasa sombong. Terbukti saat tidak ada kesibukan, Riska biasanya membantuku berjualan dari satu kendaraan umum ke kendaraan umum yang lain.

Saat aku turun di jalan raya, dia tak pernah malu untuk membantuku. Senyumnya yang begitu ceria terkadang membuatku lebih semangat untuk bekerja. Riska tak pernah membiarkanku untuk mengeluh. Semangatnya selalu datang ketika aku sedang membutuhkannya.

Terlihat Robi sedang menyebrang menuju ke arahku. Seperti biasa dia pasti mau meminta uang dari hasil jualan ini. Aku bersikap biasa saat kulihat dia semakin mendekat ke arahku. Seorang preman yang sangat ditakuti pedagang asongan sepertiku. Dan juga para pengemis di  jalanan menjadi palak incarannya.

“Boy, mana setoran kamu hari ini?” ucapnya keras.

“Hari ini sepi Rob, lihat itu daganganku belum banyak yang terjual,” jawabku.

“Ah, kamu ini selalu saja begitu,” ucap Robi sambil mengambil air mineral di keranjangku dan duduk di sebelahku.

“Ya, maaf Rob, lagi pula kau tak kasihan dengan orang-orang yang kamu minta uangnya?” tanyaku.

“Hari ini aku ingin pesta dengan kawanku, jadi butuh uang banyak untuk membeli alkohol, kamu ikut?” tanya Robi.

“Tidak, hidupku saja sudah susah, kenapa mesti aku buat bertambah susah, kalau ada uang banyak lebih baik buat kebutuhan yang lain, dari pada dihambur-hamburkan,” jawabku.

“Kamu ini banyak alasan, bilang saja kalau kamu tidak mau memberiku uang,” ucapnya dengan suara keras sambil memukul kepalaku.

Aku melihat ke arah Riska, pandangannya begitu takut melihat Robi.

“Aku belum dapat uang hari ini,” ucapku dengan menahan sakit di kepalaku.

“Kali ini kamu aku maafkan, besok kamu harus setor dua kali lipat kepadaku!” kata Robi lalu pergi begitu saja.

“Kamu tidak apa-apa Boy?” tanya Riska.

“Enggak kok Ris,” jawabku.

“Seharusnya kamu lebih tegas terhadap orang semacam itu Boy,” ucapnya dengan suara bergetar.

Aku hanya terdiam mendengarkan Riska bertutur. Kulihat raut wajahnya melukiskan perasaan kasihan kepadaku. Bahkan kulihat disudut kedua bola matanya seakan muncul butiran bening.

“Aku tidak kenapa-kenapa Ris, kau jangan bersedih seperti itu,” ucapku parau.

Riska tak bersuara dan kali ini kepalanya menunduk tak melihatku. Aku tahu dia kasihan melihatku diperlakukan seperti itu oleh Robi. Kurasa hari ini tak perlu pulang terlalu sore. Aku segera beranjak sambil mengangkat keranjangku. Riska mengikuti di belakangku menyebrang jalan. Naik salah satu angkutan umum yang searah dengan rumah kami. Suasana di dalam angkot begitu sesak karena penumpang sudah penuh. Dan hal itu membuat aku dan Riska berdiri karena tak kebagian tempat duduk.

Terlihat kemacetan semakin padat tidak seperti tadi. Bahkan laju kendaraan yang kutumpangi seakan sulit untuk berjalan.

“Eh Boy, lihatlah siapa yang ada dalam kerumunan itu!” kata Riska menunjuk di depan sebuah toko yang sudah tak ditempati.

“Astaghfirullah hal adzim, itu Robi dan teman-temannya,” kataku kaget.

Di tengah gerombolan orang-orang itu terlihat Robi tergeletak bersama teman-temannya. Bahkan mulut mereka berbusa dan tubuhnya kejang. Banyak botol minuman keras yang berada di sekelilingnya. Aku melihat Robi seakan merasakan sakit yang tiada tara. Ataukah semua ini merupakan hukuman akibat perbuatan jahatnya selama ini. Banyak dosa yang dipikulnya dan perbuatan yang merugikan selalu dia lakukan.

Ada hikmah di balik tidak lakunya jualanku hari ini. Karena uang yang dipakai Robi membeli minuman merupakan senjata yang membunuh dirinya sendiri. Aku tak kuasa melihatnya dia kesakitan seperti itu. Semoga aku bisa mengambil hikmah disetiap kejadian yang kuketahui. Ucapku dalam hati. ***

 

Tika Lestari

Tika Lestari lahir di Kota Delta Sidoarjo pada 21 Agustus 1996. Alumni UIN SUNAN AMPEL Surabaya ini selama berstatus mahasiswa, banyak mengikuti kelas liiterasi, di antaranya Program Mahasiswa Mandiri Jawa Pos, STIE Perbanas Surabaya.

Karyanya dimuat di berbagai media massa. Aktif menulis di akun wattpad. Dia bisa dihubungi melalui WA 081515293868, FB Tika Lestari, Instargam dan Wattpad (@tikaaevol).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below