by

Al Mampre, Petugas Medis Terakhir Perang Dunia ke-2 Meninggal Dunia

-Historia-91 views

Jakarta, Radar Pagi – Al Mampre, petugas medis terakhir di era Perang Dunia ke-2 meninggal dunia karena sebab alami dalam usia 97 tahun di Evanston Hospital, Amerika Serikat, pada 31 Mei 2019 silam, namun kematiannya baru diumumkan ke publik pada Rabu (13/6/2019). Dengan kematian Mampre, tidak ada lagi petugas medis selama Perang Dunia ke-2 yang masih hidup.

Mampre yang pangkat terakhirnya adalah Staff Sergeant, sebenarnya dijadwalkan untuk hadir dalam Peringatan ke-75 Invasi Normandia (D-Day) di Perancis. “Namun dia keburu masuk rumah sakit dan meninggal tepat sebelum keberangkatannya,” ujar Virginia, salah seorang putri Al Mampre.

Selama Perang Dunia ke-2, Mampre bertugas bersama Kompi E Batalyon ke-2, Resimen Parasut Infantri ke-506, Divisi Lintas Udara ke-101 atau Easy Company,  2nd Battalion, 506th Parachute Infantry Regiment, 101st Airborne Division

Kompi ini disebut-sebut sebagai kompi senapan terbaik yang pernah ada di dunia, tetapi keberadaan kompi ini baru dikenal luas masyarakat puluhan tahun setelah Perang Dunia ke-2 usai, tepatnya setelah kisah perjuangan mereka dibukukan dalam “Band of Brohers” yang ditulis sejarahwan Stephen Ambrose dan diterbitkan pada tahun 1991.

Ketenaran Easy Company semakin mencuat ketika buku tersebut dijadikan serial “Band of Brothers” yang diproduseri Steven Spielberg bersama Tom Hanks dan ditayangkan di HBO pada tahun 2001.

Cerita serial tersebut sama dengan isi bukunya, mengisahkan pengalaman Easy Company, dari saat berlatih di bawah kepemimpinan Kapten Sobel yang arogan dan otoriter, pendaratan D-Day di garis belakang musuh di Normandia, Operasi Market Garden, Pertempuran Bulge di Bastogne, sampai menduduki markas Hitler “Eagle Nest” di Bavaria, Autria.

Serial ini mendapat 19 nominasi Emmy Award, dan memenangkan enam, termasuk untuk “Outstanding miniseries”, “Outstanding Casting for a miniseries, Movie, or a Special”, dan “Outstanding Directing for a miniseries, Movie, or a Dramatic Special”.

Selain itu juga memenangkan Golden Globe untuk “Best miniseries, or Motion Picture Made for Television”, American Film Institute, Peabody Award. Episode 6 (Bastogne) juga memenangkan 2003 Writers Guild Award (Television, Adapted Long Form).

Belasan tahun sejak serial tersebut pertamakali ditayangkan, ketenarannya tidak berkurang, bahkan bertambah setelah generasi muda sekarang banyak melihatnya di internet.

Kembali ke Al Mampre, pria kelahiran 25 Mei 1922 ini mendaftar sebagai tentara di Dallas pada tahun 1942 dan dikirim untuk berlatih menjadi pasukan penerjun payung ke Kamp Toccoa, Georgia. Di hari pertamanya berlatih, dia berteman dengan Ed Pepping, yang belakangan juga ditugaskan di bagian medis Easy Company.

Al Mampre yang bernama lengkap Albert Leon Mampre tidak terlibat dalam Operasi Overlord (D-Day) di Normandia pada 6 Juni 1944. Saat itu dia sedang sakit sehingga tidak turut diterjunkan. Tiga bulan kemudian, barulah Mampre merasakan ganasnya Perang Dunia ke-2 ketika diterjunkan bersama 35 ribu penerjun lainnya dalam Operasi Market Garden pada 17 September 1944.

Setidaknya ada tiga pengalaman berkesan yang masih diingatnya selama bertugas bersama Easy Company. Pertama, ketika dia terjun di Operasi Market Garden. Tidak seperti sekarang dimana penerjun dapat mendarat dengan pelan, pada masa itu teknologi pembuatan parasut belum berkembang, sehingga banyak penerjun cedera, bahkan ada yang patah kaki saat mendarat.

Mampre pun langsung jatuh terbaring saat mendarat. Sialnya, seorang penerjun lain mendarat tepat di atas dadanya. Beruntung, berat badan penerjun itu ditambah puluhan kilogram berat perlengkapan yang dia bawa tidak sampai mematahkan tulang Mampre.

Pengalaman kedua, usai pendaratan yang keras itu, pasukan Amerika segera dihujani tembakan senjata mesin dari tentara Jerman. Mampre mundur sampai ke depan pintu sebuah rumah.

Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, dari balik pintu menjulur sebuah tangan wanita menawarinya buah ceri.  Mampre tidak melihat wajah wanita itu, hanya tangannya saja.

“Seorang wanita menawari saya buah ceri,” kata Mampre di hari tuanya dalam sebuah kesempatan. “Senapan mesin menyalak  di sepanjang jalan, dan dia menawari saya ceri. Bisa anda bayangkan? Rupanya hanya makanan itu yang dia punya.”

Pengalaman ketiga, ketika dia bertempur di Eindhoven, Belanda. Dalam pertempuran itu, Letnan Satu Bob Brewer tertembak dan langsung diam seperti orang mati. Al Mampre yang tidak tahu apakah sang letnan masih hidup atau tidak berusaha meraihnya.

Di tengah kebingungan karena gagal mengetahui kondisi Letnan Brewer, dia hanya bisa berkata, “Letnan, apa anda masih hidup? Sebab bila sudah mati, saya harus meninggalkan anda di sini.”

Ternyata Letnan Brewer menggumam, “Sialan, saya masih hidup”. Mampre pun berusaha menariknya ke tempat aman, namun upaya Mampre terhenti ketika sebuah peluru menghantam kakinya. Seorang warga Belanda kemudian menolong dan membawa mereka ke rumah sakit.

Kisah nyata Mampre dan Brewer tersebut diabadikan dalam serial “Band of Brothers” Episode ke-4 yang berjudul “Replacements”.

Tidak menunggu sampai lukanya benar-benar sembuh, Mampre bergabung kembali bersama Easy Company di Kota Mourmelon, Perancis, tepat sebelum unit elite itu dikirim ke Bastogne. Di sana nantinya Mampre akan terlibat dalam pertempuran legendaris yang dikenal sebagai Pertempuran Bulge (Battle of The Bulge), dimana ratusan penerjun payung Amerika yang kalah jumlah melawan ribuan tentara Jeman, harus mempertahankan garis depan di tengah musim salju yang buruk tanpa pakaian dingin dan kekurangan makanan serta amunisi.

Penderitaan pasukan semakin bertambah karena mereka tidak berani menyalakan api unggun meski suhu udara di malam hari bisa minus puluhan derajat, karena Jerman akan langsung menembaki mereka dengan mortir begitu tahu posisi mereka lewat cahaya api unggun.

Di Bastogne, Mampre yang ayahnya berasal dari Turki dan ibunya dari Persia (Iran) ini juga menjadi salah seorang saksi mata yang melihat Brigadir Jenderal Anthony C. McAuliffe menerima surat dari tentara Jerman. Isi surat tersebut, pasukan Amerika diminta untuk menyerah. Anthony kemudian menulis surat balasan kepada tentara Jerman. Isinya hanya satu kata: “Sinting!”. (maria)

News Feed