by

Dalami Kematian Korban Rusuh 22 Mei, DPR Akan Panggil Kapolri

-Hukum-133 views

Jakarta, Radar Pagi – Komisi III DPR akan mendalami sebab kematian korban kerusuhan 22 Mei. Dalam waktu dekat, Kapolri akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Rapat Komisi III dengan Kapolri itu direncanakan tanggal 19 Juni,” ujar Wakil Ketua Komisi III DPR RI Erma Suryani Ranik di kompleks DPR, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Menurut Erma, pihaknya memantau terus situasi pasca rusuh karena ada missing link soal korban. Polisi mengaku tidak pernah menggunakan peluru tajam, tapi faktanya didapatkan informasi bahwa yang tewas itu kena peluru tajam.

Komisi III, kata Erma, mendorong Polri untuk terbuka mengenai penyebab kematian korban kerusuhan 22 Mei.

“Kami akan perbandingkan antara informasi yang kami terima dengan keterangan dari pihak kepolisian,” katanya.

Mengenai kemungkinan pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF). Erma menegaskan pihaknya akan mendengarkan penjelasan Kapolri terlebih dulu pada rapat 19 Juni mendatang.

Di tempat terpisah, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) meminta pemerintah membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap dalang kerusuhan 22 Mei 2019.

“Perlu tim pencari fakta untuk menemukan aktor pelanggaran HAM yang berat, yang melibatkan aktor dari negara dan atau non negara,” ujar Wakil Koordinator KontraS Bidang Strategi dan Mobilisasi Feri Kusuma di kantor KontraS, Jl Kramat II, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2019).

KontraS menilai dalam penanganan kasus kerusuhan 22 Mei pihak kepolisian hanya memprioritaskan terhadap dugaan rencana pembunuhan 4 tokoh. KontraS menganggap penyelidikan terkait tewasnya 9 orang dan ratusan orang yang ditangkap sama pentingnya dengan dugaan rencana pembunuhan 4 tokoh.

KontraS menyoroti temuan polisi yang menyatakan bahwa 9 orang yang tewas semuanya diduga perusuh. Sebab keterangan pihak keluarga korban jika anggota keluarganya yang tewas itu pergi ke lokasi kerusuhan hanya karena penasaran.

“Dia hanya tau ada riuh ramainya situasi daerah dekat rumahnya, lalu dia penasaran tiba-tiba pulang tidak ada nyawa. Jadi belum bisa dipastikan apakah orang ini terlibat secara aktif ikut serta dalam aksi,” kata Staf Biro Penelitian, Pemantauan, dan Dokumentasi KontraS, Rivanlee Anandar.

Terkendala TKP yang Misterius

Di tempat terpisah, polisi mengaku ada hambatan dalam mengungkap tewasnya 9 orang saat kerusuhan 22 Mei 2019, yaitu masih misteriusnya tempat kejadian perkara (TKP) korban-korban tewas.

“Salah satu hambatan adalah secara keseluruhan belum diketahui TKP-nya ada di mana. Tidak secara keseluruhan kita mengetahui di mana TKP terjadinya hal yang menyebabkan meninggal dunia tersebut,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2019).

Assep menjelaskan, semua korban yang diduga perusuh ini langsung diantarkan ke rumah sakit, sehingga tidak diketahui dimana lokasi meninggalnya secara persis. Padahal, polisi perlu menelusuri di mana korban itu jatuh dan meninggal dunia.

“Ini menjadi penting sebagai titik awal penyelidikan kita, di mana kejadiannya, seperti apa peristiwanya, dan saksi-saksinya,” kata Asep.

Penentuan TKP, kata Asep, sangat penting karena dari situlah polisi mengembangkan penyelidikan, seperti mencari saksi mata serta mendalami apa yang didengar-dilihat-dialami saksi. Dari TKP pula, lanjut Asep, polisi dapat menganalisis tembakan yang membuat korban tewas. (safrizal)

 

 

News Feed