by

DPRD Garut Sesalkan Warga Bawa Jenazah dengan Taksi Online Karena Ambulans Mahal

-Jawa-48 views

Garut, Radar Pagi – DPRD Garut menyesalkan kejadian warga masyarakat yang terpaksa menyewa taksi online untuk mengangkut jenazah karena tak sanggup membayar biaya ambulans.

“Permasalahan seperti ini seharusnya bisa diatasi. Kalau memang ambulans di RSUD dr. Slamet itu sedang beroperasi, kan bisa meminta bantuan pihak lain,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPRD Garut Yudha Puja Turnawan di gedung DPRD Garut, kepada wartawan, beberapa saat lalu.

Pemkab Garut sebenarnya memiliki layanan ‘Sijeruk’ atau Sistem Informasi Jejaring Rujukan. Dalam praktiknya, Sijerut memiliki tim respons cepat untuk menangani keluhan masyarakat. Salah satunya mengevakuasi jenazah ke rumah duka.

Yudha menyebut seharusnya RSUD dr. Slamet terintegrasi dengan Publicly Safety Center (PSC) yang dimiliki Pemkab Garut tersebut.

“Menurut saya RSU sepertinya tidak terintegrasi dengan PSC sehingga saat ada pasien yang membutuhkan ambulans untuk membawa jenazah tidak bisa dipenuhi. Akhirnya memakai jasa Grab,” katanya.

Yudha menambahkan, sebenarnya banyak ambulans tersedia di Garut. Contohnya ambulans milik puskesmas maupun pihak swasta yang digratiskan untuk masyarakat. Namun sayangnya tidak terintegrasi dengan rumah sakit.

Agar kejadian tersebut tak lagi terulang. Yudha menyarankan agar Pemkab Garut harus mengoptimalkan armada Public Safety Center yang ada. Sistem jemput bola di media sosial juga harus lebih dioptimalkan agar masyarakat tidak kebingungan untuk mengadu.

“Kalau konteks PSC bisa dengan 119 (menghubungi) saja, tinggal bagaimana terintegrasi dengan RSU agar RSU juga enggak diam saja. Kalau konteks lainnya memang harus ada akun sosial media, agar Pemkab bisa lebih responsif terhadap apa yang dikeluhkan warga Garut,” pungkas Yudha.

Bupati: Padahal Biaya Itu Gratis

Sebelumnya, Bupati Garut Rudy Gunawan mengaku heran dengan masyarakat yang membawa jenazah menggunakan taksi online. Sebab, ia memastikan layanan ambulans di rumah sakit pemerintah gratis.

“Saya enggak tau apa motifnya masyarakat bisa sewa Grab (taksi online) ketimbang ambulans. Padahal biaya itu gratis,” ujar Rudy kepada wartawan, Rabu (8/5/2019) kemarin.

Bukan hanya di rumah sakit pemerintah, ambulans milik Pemkot Bandung yang berada di Pendopo juga bisa digunakan oleh masyarakat secara cuma-cuma.

“Di Pendopo itu kan ada dua ambulans. Satu untuk yang sakit, satu untuk antar jenazah. Itu semuanya gratis,” katanya.

Rudy mengaku menyayangkan kejadian tersebut bisa terjadi. Rudy meminta pelayanan terhadap orang sakit oleh bawahannya ditingkatkan.

Penjelasan RSUD dr. Slamet Garut

Seperti biasa, tidak ada satupun rumah sakit di negeri ini yang merasa bersalah dan mau disalahkan. Maka Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet Garut pun angkat bicara soal masalah ini. Pihak rumah sakit menyebut kejadian itu karena miss komunikasi.

Plt Wakil Direktur Umum RSUD dr. Slamet Garut Eka Ariyanti mengatakan kejadian tersebut berlangsung pada Rabu (1/5/2019) pagi sekitar pukul 3.45 WIB. Seorang ibu berusia 69 tahun meninggal di RSUD dr. Slamet Garut.

Saat itu, kata Eka, pihak keluarga sempat berkoordinasi dengan petugas jaga menanyakan ketersediaan mobil ambulans dan tarif untuk mengantar ke wilayah Banjarwangi.

“Namun, pada saat itu, petugas ambulans sedang mengantar jenazah ke Bandung dan satu lagi sedang mengantar jenazah ke Cibiuk,” ujar Eka dalam keterangan, Rabu (8/5/2019).

Karena dua unit ambulans sedang dipakai, petugas jaga kemudian coba berkoordinasi dengan petugas ambulans terkait ongkos.

Dalam rilisnya, Eka menyebut, tarif ambulans ke wilayah Banjarwangi sekitar Rp 400 ribu. Pihak keluarga tidak bertanya lagi ke petugas saat tahu tarif ambulans seharga tersebut.

“Karena kedua petugas ambulans sedang keluar mengantar jenazah, maka oleh petugas IGD dikomunikasikan via telepon ke petugas ambulans sambil menunjukkan besaran biaya tarif mengantar jenazah ke daerah Banjarwangi yang terpampang di ruang administrasi ambulans,” katanya.

“Pihak keluarga tidak ada komunikasi lanjutan setelah melihat daftar tarifnya terpampang (Rp 400ribu). Keluarga hanya menyampaikan kepada petugas IGD ingin mendapatkan pengurangan. Karena petugas IGD dalam hal ini bukan kewenangannya, maka petugas IGD menyarankan untuk menunggu petugas ambulans,” Eka menambahkan.

“Dari kronologis tersebut dapat disimpulkan tidak ada komunikasi dan negosiasi yang lebih lanjut dari pihak keluarga baik ke petugas IGD maupun ke petugas ambulans. Keluarga lebih memilih angkutan Grab yang lebih murah, ” tutup Eka.

Sebelumnya diberitakan, seorang sopir taksi online bernama Yuny Angraeni (36) viral di media sosial lantaran mengantar jenazah. Aksinya banyak mendapat apresiasi dari warganet.

Jenazah tersebut dibawa oleh Yuni dari RSUD dr Slamet Garut. Pihak keluarga jenazah mengaku tak menggunakan ambulans karena mahal. Sementara dengan taksi online hanya Rp 230 ribu ditambah biaya lain, total Rp 400 ribu. (ern/tro/dtc/igo)

 

News Feed