by

Dosen Berkoar ‘People Power dan Bunuh Polisi’ di Facebook, Begitu Keciduk Cuma Bisa Nunduk Minta Maaf

-Hukum-604 views

Bandung, Radar Pagi – Kontras benar antara ucapan dan sikap tubuh Solatun Dulah Sayuti. Di facebook, lelaki berperut buncit yang bekerja sebagai dosen ini sangat garang menulis ‘bunuh polisi’. Tapi begitu diciduk polisi, dia cuma bisa menunduk dan meminta maaf.

“Saya mempunyai kesalahan tidak cek dan ricek. Maafkan saya kalau ini menjadi kegaduhan kepada rakyat Indonesia semuanya, Demi Allah saya tidak ingin mencubit,” ujar Solatun di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jumat (10/5/2019).

Dengan wajah disembunyikan dalam balutan kain, nada bicara Solatun memperlihatkan kesan memelas. Dia hanya bisa menunduk saat mengucapkan pembelaan dirinya.

“Demi Allah, saya juga anak bangsa Indonesia dan saya guru, saya ayah, saya uwak dari keponakan saya, saya kakek dari cucu saya. Enggak mungkin saya membiarkan situasi dimana membenturkan nama polisi dengan rakyat dalam tanda kutip people power,” katanya.

Persoalan bermula ketika sang dosen mendengar informasi bahwa polisi sudah mempersiapkan sejumlah senjata untuk pengamanan pasca pemilu. Sebagai orang terpelajar yang bekerja sebagai akademisi, bukannya melakukan cek dan ricek, dia malah menulis di akun facebooknya pada 9 Mei 2019 kemarin.

Inti tulisannya adalah bila ada 1 saja rakyat yang ditembak mati polisi, maka gantinya 10 polisi harus dibunuh, termasuk keluarga mereka.

Adapun kalimat yang dia unggah adalah: ‘HARGA NYAWA RAKYAT Jika People Power tidak dapat dielak: 1 orang rakyat ditembak oleh polisi harus dibayar dengan 10 orang polisi dibunuh mati menggunakan pisau dapur, golok, linggis, kapak, kunci roda mobil, siraman tiner cat berapi dan keluarga mereka.’

Solatun pun mengaku bersalah lantaran tak mencari tahu terlebih dahulu informasi tersebut. Owalahh…Atun…Atun…. (dir/bbn/dtc/heri)

 

News Feed