by

Ini Kritikan Terbaru Saurip Kadi Terhadap Prabowo dan Sandiaga Uno

-Politik-126 views

Kebumen, Radar Pagi –   Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi kembali memberi kritik tajam terhadap pernyataan Capres 02 Prabowo Subiyanto (PS) dalam debat capres terakhir Sabtu (13/4/2019) kemarin.

Menurut Saurip, Prabowo Subianto (PS) dan Sandiaga Uno (SU) seolah tidak tahu betapa buruknya kondisi Indonesia di bidang ekonomi, kesejahteraan, industri dan Keuangan pada awal pemerintahan Jokowi yang merupakan warisan pemerintahan terdahulu. Di mana Jokowi sendiri sudah mengatakan bahwa di awal pemerintahannya di mana-mana terdapat mafia.

Saurip Kadi mengatakan itu di sela-sela acara “Sholawat Merajut Kebhinekaan” di Kebumen, Jawa Tengah, Minggu (14//4/2019).

Menurut Saurip, PS dan SU seperti tidak sadar bahwa mereka adalah bagian dari 1% rakyat Indonesia yang menguasai aset nasional. Keduanya seolah tidak sadar menjadi bagian dari masalah yang terus membelit bangsa.

“Kerusakan moral birokrasi, tak terkecuali di jajaran TNI/Polri  tidak bisa lepas dari andil sebagian pemegang kapital papan atas yang melakukan praktek mafia dan korupsi berjamaah yang terjadi hampir di semua lini pemerintahan,” katanya.

Memang secara yuridis  formal, kata Saurip, mereka yang tergolong 1% penguasa aset nasional itu tidak salah. Tapi mereka harusnya menyadari bahwa kekayaan mereka sebagian berasal dari kesalahan tata kelola kekuasaan yang terjadi di pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Saurip menduga bahwa  PS mungkin mengira akan selesai begitu saja dengan pernyataan heroiknya bahwa “tidak hanya kekayaan, jiwa dan ragapun siap saya berikan untuk negara, bangsa dan rakyat Indonesia”.

Padahal, kata Saurip yang merupakan teman satu angkatan PS di Akabri ini, PS bersama  keluarga besarnya serta mantan mertuanya (Soeharto) adalah bagian utama dari masa lalu yang mengantar kondisi bangsa ini terus amburadul.

“Maka ekspresi keras yang ditampilkan tak lebih sebagai wujud dari besarnya keinginan (untuk menjadi presiden) yang tak terbendung, sehingga solusi yang ditawarkan juga otomatis keliru,” katanya.

Dia mencontohkan ketika PS dan SU membahas BUMN, keduanya pura-pura tidak tahu bahwa BUMN kita keropos karena di masa lalu BUMN dijadikan “Sapi Perahan” oleh penguasa dan elit partai. Dan itulah yang menjadi penyebab utama mengapa hingga saat ini BUMN terus morat marit, walaupun selama 4,5 tahun dengan berbagai upaya telah dicoba diselamatkan oleh Pemerintahan Jokowi.

“Nah, kenapa harus ditumpukan seolah itu semua menjadi kesalahan Jokowi? Lalu soal larinya uang Republik keluar negeri, bukankah itu peninggalan masa lalu?” tegasnya.

Saurip Kadi yang mantan Aster Kasad menjelaskan, bahwa seperti pada tiga debat Capres sebelumnya, pada debat ke-4 Sabtu malam kemarin, PS kembali menampakkan aslinya bahwa selama ini dirinya tidak pernah ‘menginjak tanah’, maksudnya tidak tahu realita kehidupan nyata tentang tata kelola kekuasaan yang sebenarnya, sehingga ketika ditanya soal resep pemerataan, PS keliru dalam merumuskan solusi.

Dengan bersumber dari data hasil studi Pemda DKI Jakarta bahwa 1 dari 3 anak sekolah di DKI Jakarta tidak makan pagi, dikira tidak makan pagi karena kemiskinan. Maka solusi pemerataan yang mereka rumuskan adalah memberi minum susu seperti yang pernah diterapkan di lingkungan ABRI (TNI-Polri) di era Jenderal TNI M Yusuf sebagai Pangab.

“PS dan SU dipastikan tidak tahu bahwa budaya sebagian penduduk DKI Jakarta, tidak lagi mau repot menyiapkan makan pagi, tapi membekali anak-anak mereka uang untuk jajan di kantin sekolah saat istirahat,” katanya.

“Maka mereka tidak ingin membuat rakyat mandiri, tapi rakyat diposisikan sebagai pihak yang harus disantuni, maka gaji pun mereka hibahkan kepada negara untuk disalurkan kepada rakyat yang tergolong sebagai kaum duafah,” sambungnya.

Saurip menilai sikap PS yang demikian itu sebagai blunder, dan menambah sempurna perbedaan antara dirinya dengan Jokowi selaku rivalnya. (Igo)

News Feed