by

Hotel Mumbai: Kisah Nyata Pengorbanan Staf Hotel Selamatkan Tamu dari Serangan Teroris

-Kabar Seni-2,078 views

Jakarta, Radar Pagi – Film Hotel Mumbai garapan sutradara asal Australia Anthony Maras menjadi film terbaru yang layak dinikmati. Dibintangi sejumlah artis kenamaan, seperti Dev Patel, Armie Hammer, Nazanin Boniadi, Tilda Cobham-Hervey, Anupam Kher, hingga Jason Isaacs, film bergenre action yang diangkat dari kisah nyata ini menampilkan kisah serangan teroris dari sudut pandang karyawan dan tamu wisatawan asing di hotel Taj Mahal Palace.

Di sepanjang film ini memperlihatkan para karyawan dan tamu terjebak di dalam hotel bersama teroris pada 26-29 November 2008 silam. Sedangkan pasukan keamanan hanya bisa berjaga dari luar hotel, menunggu bantuan dari pasukan khusus di Delhi yang berjarak ratusan kilometer dari Mumbay.

Penggambaran adegan ini dibuat sangat mirip dengan situasi yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Para karyawan dan tamu terpaksa berjuang sendirian di dalam hotel sebelum akhirnya pasukan anti-teroris bisa melumpuhkan para penyandera

Para pelaku penyerangan adalah 10 pria Pakistan yang terkait dengan kelompok teror Lashkar e-Tayyiba. 9 Pelaku akhirnya tewas dalam serangan itu, 1 selamat, yaitu Mohammed Ajmal Kasab. Namun dia pun dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada November 2012.

Meski jalan cerita dibuat semirip mungkin dengan kejadian aslinya, namun tetap ada karakter fiksi dalam film ini. Dev Patel berperan sebagai Arjun, seorang pelayan yang terperangkap di saat serangan teroris terjadi di hotel.

Arjun merupakan tokoh fiksi yang tidak ada dalam kejadian aslinya. Tetapi aksi yang dia lakukan seperti menyuruh tamu sembunyi di bawah meja dan mematikan lampu saat teroris masuk ke hotel dibuat berdasarkan kejadian sebenarnya yang dilakukan pelayan hotel asli.

Menurut Maras, karakter Arjun adalah gabungan dua karakter asli saat peristiwa itu terjadi, yakni seorang pelayan dan penjaga keamanan di hotel yang mengarahkan polisi ke ruangan CCTV untuk melacak keberadaan para teroris.

Selain Arjun, karakter fiksi lainnya adalah tiga wisatawan asing bernama Zahra dan David, serta Vasili seorang pebisnis asal Rusia. Ketiganya diciptakan demi kepentingan narasi film. Namun aksi yang dilakukan ketiganya dalam adegan film juga dibuat berdasarkan aksi nyata dari korban-korban yang bertahan selama serangan teroris terjadi.

Digambarkan dalam film, Zahra (Nazanin Boniadi) dan David (Armie Hammer) dipaksa untuk membuat pengorbanan demi mencari dan melindungi anak laki-laki mereka yang baru lahir bersama pengasuhnya Sally (Tilda Cobham-Hervey).

“Karakter tokoh asli dibuat menjadi fiksi untuk menghormati para korban yang selamat dari rasa traumatik akibat peristiwa berdarah itu,” ujar Maras.

Beberapa karakter asli yang dipertahankan Maras antara lain kepala koki hotel Taj Mahal Palace, Hermant Oberoi.

Maras mengaku tidak punya pilihan untuk membuat fiksi karakter koki Hermant Oberoi. Karena sosoknya sebagai koki sudah sangat terkenal di India dan kisah hidupnya saat bertahan selama serangan teroris terjadi terlanjur tersebar luas.

Salah satu tujuan dibuatnya film Hotel Mumbai adalah mengangkat kisah keberanian para karyawan dan pelayan hotel yang dengan heroik menyelamatkan tamu-tamu dari serangan teroris. Dari kesaksian para tamu hotel diketahui karyawan hotel Taj Mahal Palace adalah orang-orang yang sangat berdedikasi.

Banyak sekali aksi heroik mereka yang diceritakan para tamu hotel kepada media massa, salah satunya dimana para pelayan hotel menjadikan dirinya sebagai tameng hidup agar para tamu tidak tertembak.

Bahkan ada seorang pelayan hotel yang berhasil kabur ternyata memilih masuk kembali ke dalam hotel demi menemani para tamu yang masih tersandera.

Maras tidak habis pikir dengan loyalitas para staf di hotel tersebut yang rela mengorbankan nyawa demi tamu hotel. Hal inilah yang mendorong Maras membuat film Hotel Mumbai.

Penggambaran kalut, was-was, dan putus asa yang sangat nyata, membuat penonton ikut terbawa arus. Sejak awal hingga akhir film, penonton seakan diajak untuk tidak boleh tenang dan harus menyiapkan mental setiap waktu.

Setiap gerakan yang dibuat oleh kelompok teroris dan para tamu sungguh membuat hati tidak tenang, takut dengan apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Terlebih lagi dialog yang digunakan banyak diambil langsung dari hasil transkrip panggilan telepon antara para teroris. Membuat horor yang ditimbulkan para pelaku terasa semakin nyata.

Film hasil produksi bersama Australia-AS ini diputar perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) pada 7 September 2018 dan menerima standing ovation. Film ini berhasil meraup lebih dari US$3,1 juta pada akhir pekan kedua setelah membuka 924 teater pada 29 Maret di Amerika Serikat.

‘Hotel Mumbai’ produksi A Hamilton and Electric Pictures Production ini juga sempat ditarik dari bioskop di Selandia Baru karena tragedi penembakan terorisme di masjid di Kota Christchurch pada 15 Maret 2019 lalu, dan mulai tayang kembali pada 28 Maret. (ria)

 

News Feed