by

Hari Lelucon April Mop, Mulai yang Lucu Hingga Kelam

-Historia-110 views

Jakarta, Radar Pagi – Selamat datang bulan April. Bulan ini punya arti khusus bagi sebagian masyarakat di berbagai belahan dunia, khususnya Amerika Serikat dan negara-negara di benua Eropa. Ya, apalagi kalau bukan April Mop (Amerika Serikat) atau April Fools’ Day (Inggris) yang jatuh setiap tanggal 1 April.

Di Amerika Serikat terutama di Amerika bagian Utara, dan banyak negara lain yang terpengaruh budaya Amerika, setiap tanggal 1 April, orang-orang akan berbohong atau membuat lelucon. Orang yang berbohong dan membuat lelucon ini pun tidak akan dianggap salah, karena dilakukan sebagai guyonan belaka dalam rangka April Mop.

Tujuan dari April Mop sendiri ialah untuk mempermalukan seseorang yang sekiranya mudah ditipu, meski tidak selalu begitu. Sebab tujuan utamanya memang sekadar untuk bercanda, jadi orang yang ditipu tentu tidak boleh marah.

Di daerah-daerah tertentu di Belgia, setiap Aril Mop, para pelajar (biasanya usia SD) akan berusaha untuk menipu guru untuk masuk ke dalam ruang kelas tertentu. Begitu si guru masuk, murid-murid ‘bengal’ itu pun akan mengunci gurunya di dalam kelas.

Mereka baru akan membiarkannya keluar jika sang guru setuju untuk memberi mereka cemilan atau permen manis.

Di beberapa negara, seperti Australia, Inggris, dan Afrika Selatan lelucon itu hanya boleh dilakukan sebelum siang hari. Namun di tempat lain seperti Kanada, Perancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari.

Sedemikian kuatnya pengaruh April Mop, sehingga banyak orang yang tidak mau percaya begitu saja dengan liputan berita yang terbit pada 1 April, sebab jaringan televisi dan surat kabar pun kerap membuat berita palsu (hoax) pada tanggal 1 April ini.

Televisi Belanda pernah menayangkan berita hoax tentang Menara Pisa yang runtuh. Hal ini mengejutkan banyak orang dan mengakibatkan banyak orang yang sedih menghubungi stasiun TV tersebut.

Sebaliknya ketika benar-benar terjadi gempa bumi dan tsunami dahsyat melanda Hawaii dan menewaskan 165 orang penduduk pada 1 April 1946, banyak orang tidak mau percaya dengan berita sungguhan tersebut.

Konon, jumlah korban tewas sebenarnya bisa ditekan seandainya para pejabat pemerintahan lekas memberi bantuan. Sayangnya, banyak pejabat yang saat itu mengira berita tersebut hanyalah hoax April Mop.

Meski dirayakan secara meluas di seluruh dunia, asal-usul April Mop sendiri masih belum jelas. Banyak yang mengira budaya ini berasal dari Inggris dan dibawa ke Amerika oleh kaum imigran. Tapi sejak zaman jadul masyakat Iran yang jelas-jelas bukan orang bule juga punya versi April Mop sendiri dan bahkan menjadi hari libur Persia yang disebut Sizdah Be-dar.

Di Inggris, sebutan April Fools Day berasal kata Fooles Holy Day atau Hari Suci Mop, ketika penulis biografi John Aubrey pertama kali menggunakan kata itu tahun pada 1686.

Pada 1 April 1698, banyak orang Inggris yang diminta berkumpul di menara London untuk menonton ritual memandikan singa. Ternyata acara tersebut tidak pernah ada.

Namun catatan paling awal bangsa Eropa mengenai apa pun yang berkaitan dengan April Mop berasal dari The Canterbury Tales yang ditulis   pada tahun 1392 oleh Geoffrey Chaucer dari Inggris.

Dalam buku itu, Geoffrey ada menyebut tanggal 32 Maret yang membuat semua pembaca buku itu kebingungan karena tidak pernah ada tanggal 32.

Saat itu, banyak orang akhirnya percaya bahwa Geoffrey sedang membuat lelucon, meski kemudian pada abad pertengahan muncul dugaan bahwa penulisan tanggal 32 itu semata-mata hanya karena salah cetak.

“32 Maret yang dianggap sebagai lelucon karena tidak ada 32 Maret, tetapi ada beberapa orang di abad pertengahan yang mengklaim itu salah cetak,” ujar Simon J. Bronner, seorang profesor Studi Amerika dan Cerita Rakyat di Penn State.

Sementara banyak ahli sejarah menduga bahwa April Mop awalnya untuk merayakan festival Yunani-Romawi yang disebut Hilaria, yang dirayakan tiap tanggal 25 Maret.

Festival itu untuk menghormati Cybele, seorang Bunda Dewa Yunani kuno, dan perayaannya termasuk parade, topeng dan lelucon untuk merayakan hari pertama setelah equinox vernal.

“Secara tradisional, vernal equinox dianggap sebagai awal tahun dalam kalender Julian,” ujar Simon J. Bronner.

Versi lain mengenai asal usul April Mop menyebutkan bahwa pada abad ke-16, kalender umat Kristiani beralih dari kalender Julian yang diperkenalkan oleh Julius Caesar, ke kalender Gregorian yang dinamai sesuai nama Paus Gregorius XIII.

Perubahan itu memindahkan Tahun Baru ke 1 Januari. Tapi banyak orang tidak tahu bahwa kelander sudah diganti, sehingga mereka yang masih menggunakan kalender Julian tertipu oleh tanggal yang baru. Dari sinilah kelucuan April Mop lantas bermula.

Seorang profesor dari Boston University, Joseph Boskin, punya versi sendiri tentang April Mop. Menurutnya, ide April Mop digagas oleh para pelawak Kerajaan Romawi pada masa pemerintahan Raja Constantin I di abad ketiga sampai keempat Sesudah Masehi.

Konon pada suatu ketika, para pelawak kerajaan ini mengajukan petisi kepada Raja untuk mengizinkan mereka menjadi raja hanya untuk sehari saja. Tak disangka, Raja menyetujui petisi ini dan mengangkat salah satu pelawaknya yang bernama Jeter untuk menjadi Raja Sehari pada tanggal 1 April. Setelah naik tahta, Raja Jeter kemudian menetapkan tanggal 1 April sebagai hari kemustahilan. Maka sejak itulah, menurut Profesor Boskin, orang mulai mengenal April Mop.

Ada Teori lain yang dimuat di Washington Post mengatakan bahwa tradisi ini dimulai pada zaman Romawi Kuno. Saat itu ada perayaan kepada Dewi Ceres, Dewi Panen. Konon putri sang Dewi diculik oleh Pluto, dewa dunia gaib. Ceres diceritakan mengikuti gema suara teriakan anaknya, hal yang mustahil, sebab gema sangat sulit dicari sumber asalnya. Sehingga Ceres dikatakan melaksanakan “a fools errand” atau tugas orang bodoh.

Versi lainnya mengenai April Mop sering dikaitkan dengan isu SARA. Disebutkan ketika Spanyol ratusan tahun dijajah oleh bangsa Islam, pasukan Kristen akhirnya bisa bangkit dan perlahan-lahan mampu mengusir penjajah dari negeri mereka.

Satu persatu daerah di Spanyol yang semula dikuasai pasukan Islam jatuh ke tangan pasukan Kristen. Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Mengetahui hal tersebut, pasukan Kristen membujuk penduduk muslim Granada untuk keluar dari rumah masing-masing. Mereka diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. Banyak orang percaya dengan bujukan tersebut. Ribuan orang kemudian berjalan menuju pelabuhan. Tapi pasukan Kristen segera membantai mereka.

Selanjutnya pasukan Kristen juga menggeledah setiap rumah untuk mencari orang-orang Moor yang masih bersembunyi di dalamnya. Pembantaian yang dilakukan pasukan Kristen saat itu tidak kenal ampun. Tua muda, laki-laki perempuan termasuk anak-anak tidak luput dari pembantaian.

Penipuan yang dilakukan pasukan Kristen ini, menurut sejarawan Islam adalah asal mula munculnya April Mop di kalangan penduduk Kristen Eropa, meski orang Eropa sendiri cuma bisa geleng-geleng kepala mendengarnya, karena dalam versi mereka, pembantaian tersebut tidak ada hubungannya dengan agama tertentu.

Sayangnya, kisah kelam tragedi Granada ini masih sering dimunculkan dalam berbagai tulisan di majalah maupun internet sebagai salah satu bentuk provokasi SARA bahwa orang-orang Kristen senang berperilaku sadis pada umat muslim. Faktanya, pembantaian tersebut tidak ada kaitannya dengan agama, namun murni pelampiasan kebencian sebuah bangsa yang telah dijajah selama ratusan tahun kepada bangsa yang menjajah negeri mereka.

Bahkan bila benar pasukan Kristen Spanyol sadis pun tentu tidak bisa digeneralisir bahwa semua orang Kristen pasti sadis. Sama halnya bila ISIS kerap berperilaku sadis, apakah semua muslim pasti kejam seperti ISIS?

Hal ini tidak ubahnya dengan yang terjadi di Indonesia. Pasca jatuhnya pemerintahan Hindia Belanda ke tangan Jepang, di berbagai daerah di Indonesia, banyak keluarga Belanda, baik dewasa maupun anak-anak, yang dibunuh secara sadis oleh kaum pribumi, bahkan ada keluarga Belanda yang dimasukkan ke dalam kurungan lalu dilempar hidup-hidup ke dalam kali.

Kekejaman penduduk pribumi Indonesia saat itu tidak ada kaitannya dengan agama, tetapi murni pelampiasan kebencian terhadap bangsa penjajahnya. Jadi, pembantaian Granada bukanlah asal mula April Mop, namun kejadian tersebut justru digoreng oleh sebagian orang untuk menjadi April Mop. (jar)

News Feed