by

Polisi Tangkap Caleg PKS yang Doyan Cabuli Anak Kandung, KPU Belum Putuskan Nasibnya

-Hukum-347 views

Jakarta, Radar Pagi – Polres Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), berhasil menangkap oknum caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), AH, yang diduga melakukan pencabulan terhadap anak kandungnya. Penangkapan dilakukan di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Minggu (17/3/2019) kemarin. Namun hingga Senin (18/3/2019), statusnya sebagai caleg belum bisa diputus oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ketua KPUD Kabupaten Pasaman Barat, Alharis mengatakan, pihaknya sudah menerima surat dari DPD PKS Kabupaten Pasaman Barat berkaitan dengan kondisi kadernya tersebut.

“Sudah ada suratnya. PKS berkirim surat kepada kita. Ada beberapa poin yang intinya meminta pencoretan nama AH sebagai Caleg,” jelas Alharis, Senin (18/3/2019).

Surat dari DPD PKS Pasaman Barat itu, kata Alharis, diterima KPU sejak Jumat (15/3/2019). Tapi KPU belum bisa mengambil keputusan.

“Kita belum mengambil keputusan. Kita diskusikan dulu dengan (KPUD) provinsi, setelah itu baru kita pleno-kan. Mudah-mudahan, minggu ini sudah ada keputusan,” katanya.

Menurut Alharis, kalaupun nanti dicoret, nama AH masih akan ada di kertas suara, karena tahapan penetapan Daftar Calon Tetap (DCT) sudah dilakukan sejak lama, sebelum munculnya kasus ini.

“Kita akan buat pengumuman di tiap TPS di Dapil Caleg bersangkutan, bahwa yang bersangkutan sudah tidak memenuhi syarat. Bahwa yang bersangkutan bukan lagi Caleg,” katanya.

Dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Anggota DPRD Kabupaten Pasaman Barat pada Pemilu 2019 ini, AH berada di nomor 4. Ia maju dari Dapil Pasaman Barat tiga.

Ketua DPD PKS Kabupaten Pasaman Barat Fajri Yustian pada Kamis (14/2/2019) silam mengatakan AH bukan caleg dari kader internal, melainkan eksternal.

“Beliau adalah tokoh masyarakat. Dikenal baik. Itu yang menyebabkan kita tertarik untuk membawanya sebagai caleg. Yang bersangkutan bukan kader internal, tapi eksternal,” kata Fajri.

Fajri membantah partainya tak selektif dalam memilih kader sebagai caleg. Dia mengatakan, berdasarkan rekam jejak, AH tak punya catatan buruk.

“Kami sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Sebab, kami sudah sangat selektif dalam perekrutan seluruh caleg. Sepengetahuan kami terlapor juga akhlaknya terkenal baik dan memiliki rekam jejak yg baik di masyarakat,” kata Fajri.

“Atas dasar itulah dan masukan dari berbagai pihak kami mengangkatnya sebagai caleg dari eksternal yang bukan kader PKS untuk mengisi kekosongan kursi di Dapil III,” ungkapnya.

Pasal KDRT

Selain mencabuli anaknya, Caleg AH Juga kerap melakukan penyiksaan terhadap anaknya sehingga polisi akan menerapkan pasal KDRT ke AH

“Kita juga (akan) menjeratnya dengan pasal tentang KDRT,” jelas Kapolres Pasaman Barat, AKBP Iman Pribadi Santoso kepada wartawan di Padang, Senin (18/3/2019).

Menurut Iman, kekerasan terjadi saat anak kandungnya yang menjadi korban, mengadu kepada neneknya.

“Korban mengadu kepada neneknya, karena sudah tidak tahan dengan perilaku ayahnya. Karena ketahuan mengadu, tersangka memukuli korban,” jelas Kapolres.

Selama 10 hari sejak dilaporkan ke polisi, AH sempat kabur ke Jakarta dan Depok Jawa Barat. Polisi sendiri sebenarnya telah melacak keberadaan AH di Jakarta pada Sabtu (16/3/2019) dan diketahui sedang berada di bus angkutan umum untuk menuju Kota Padang. Sesampai di wilayah Kota Solok, AH mengganti kendaraannya dengan mengunakan mobil travel.

“Sampai di Kota Solok turun dari bus dan ganti mobil dengan travel. Sepertinya dia mau mengelabui petugas. Sampai di Kecamatan Pauh tersangka pangkas rambut. Pakai tukar mobil dan pangkas rambut supaya tidak dikenali,” ujar Kepala Satuan Reskrim Polres Pasaman Barat, AKP Afrides Roema, Senin (18/3/2019).

Usai pangkas rambut, AH menunggu angkutan umum di pinggir jalan Kecamatan Pauh. Di sanalah Polisi menangkap AH tanpa perlawanan. Setelah ditangkap, tersangka langsung dibawa ke Polres Pasaman Barat. (rvk/asp/dtc/dbs/jar)

News Feed