by

Perguruan Silat Maen Tjingkrig Indonesia Setia Lestarikan Silat Betawi

-Sosok-135 views

Jakarta, Radar Pagi – Silat Cingkrik. Mungkin nama ini terdengar asing di telinga. Namun bagi penggemar beladiri, khususnya silat tradisional, Cingkrik adalah salah satu aliran silat tradisional asli tanah Betawi yang namanya melegenda sejak zaman penjajahan Belanda.

Silat Cingkrik dipercaya berasal dari daerah Rawa Belong, yang kini masuk wilayah Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Aliran ini diciptakan oleh Ki Maing sekitar tahun 1920-an. Konon terinspirasi dari gerakan monyet saat berkelahi yang begitu lincah dan banyak melakukan gerakan lompat.

Suatu hari ada seekor monyet berusaha merebut tongkat yang sedang dipegang Ki Maing. Meski sudah dipukul berkali-kali, namun monyet tersebut selalu berhasil menghindar bahkan menyerang balik dengan cepat.

Semasa mudanya Ki Maing belajar silat di daerah Banten, namun ada juga sumber menyebut daerah Meruya. Tetapi setelah memerhatikan tingkah laku monyet itu, Ki Maing terinspirasi untuk menciptakan jurus silatnya sendiri yang belakangan disebut Silat Cingkrik.

Kata “Cingkrik” berasal dari dialek Betawi “jingkrik” atau  “cingkrik”, yang artinya lincah, sehingga cocok dipakai untuk menggambarkan gerakan lincah sebuah jurus silat.

Ki Maing mempunyai tiga murid utama, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Dari ketiga murid inilah Silat Cingkrik kemudian menyebar dari Rawa Belong ke berbagai tempat lainnya.

Salah satu perguruan Silat Cingkrik yang namanya dikenal luas belakangan ini adalah Perguruan Silat Maen Tjingkrig Indonesia (PSMTI). Didirikan oleh Bang Lutfi (Lutfi Suwardi) pada 9 Agustus 2013. Meski umurnya baru seumur jagung, namun perguruan silat ini telah memiliki 27 cabang yang tersebar di wilayah Jakarta, Bekasi, Bogor dan Depok.

Ketika ditemui di kediamannya sekaligus pusat perguruan di Jl. Pangrango RT 002, RW 005, No. 18, Kampung Pajeleran, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Bang Lutfi yang dapat dihubungi di nomor 0859 2157 8960 ini menuturkan kegiatan sehari-harinya fokus pada upaya melestarikan keberadaan Silat Cingkrik lewat pelatihan silat kelas regular maupun privat dan menerima panggilan untuk atraksi palang pintu.

“Sehari-hari sih saya kerja cuma ngajar silat. Sering juga sama murid-murid isi acara palang pintu di pesta pernikahan. Sesekali kami juga tampil meragain jurus-jurus Cingkrik kalau pas ada undangan tampil di forum-forum silat,” katanya.

Bang Lutfi sendiri mulai mengenal silat pada tahun 1974, ketika diajari Silat Cimande oleh ayahnya. Tak puas hanya belajar Cimande, Bang Lutfi kemudian belajar Silat Margaluyu dari kakeknya sendiri. Sejak itu, beragam aliran silat di tanah air dia pelajari, mulai Silat Kwitang sampai Silat Syahbandar, termasuk beladiri Shorinji Kempo asal negeri Sakura yang sempat juga dia cicipi meski cuma sebentar.

17 tahun silam, tepatnya di tahun 2000, Bang Lutfi ibarat bertemu jodohnya saat pertama kali berlatih Silat Cingkrik yang sanad keilmuannya berasal dari jalur Ki Goning (murid Ki Ali, salah satu dari 3 murid utama Ki Maing). Ciri utama Cingkrik Goning adalah langkah, kuda-kuda dan gerakan tangan cenderung lebih melebar dibanding gaya cingkrik lain.

Setelah bertahun-tahun memperdalam Cingkrik Goning, Bang Lutfi kemudian mulai menjalani aktifitas sebagai pelatih silat, namun selama melatih silat inilah, dia menemukan banyak gerakan beladiri luar yang sulit diantisipasi oleh gerakan Silat Cingkrik.

“Beladiri luar itu perkembangannya pesat. Bukan cuma perkembangan jumlah murid, tapi teknik-tekniknya juga sering berubah sesuai perkembangan zaman. Di situ silat tradisional sering ketinggalan,” katanya.

Tak ingin Silat Cingkrik habis dilindas beladiri asing, Bang Lutfi pun tergerak untuk menutupi kekurangan tersebut dengan menambahkan teknik-teknik aliran silat lain ke dalam Silat Cingkrik yang dia ajarkan. Perguruan Silat Maen Tjingkrig Indonesia (PSMTI) yang dia dirikan, mengajarkan versi Silat Cingkrik hasil gabungan ini.

“Maen Tjingkrik itu 50 persen Silat Cingkrik Goning, 50 persen gerakan (silat) lain,” ujarnya.

Dalam silat Maen Tjingkrig, terdapat 12 jurus tangan kosong dengan masing-masing jurus memiliki 50 teknik gerakan. Selain itu ada juga jurus golok, gerakan klewangan untuk latihan reflek, dan beladiri praktis untuk self defense.

Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan oleh Bang Lutfi terlihat dalam jurus-jurus untuk mengatasi serangan senjata tajam maupun senjata api. Dia berharap modifikasi yang dilakukannya ini sekaligus dapat menjadikan murid-muridnya siap bila terpaksa menghadapi perkelahian nyata di jalanan.

“Apalagi zaman sekarang,  orang jahat di mana-mana dikit-dikit main pukul, main tusuk, bacok orang tembak orang seenaknya aja. Di Maen Tjingkrig kita belajar menghadapi serangan dari senjata yang berbeda-beda, di situasi perkelahian yang berbeda juga,” jelas Bang Lutfi.

Lutfi Suwardi (kiri) bersama salah seorang pelatih senior

Pada saat bersamaan, Bang Lutfi tidak ingin Maen Tjingkrig melulu menjadi perguruan silat tradisional yang identik dengan ketinggalan zaman dan kampungan. Itu sebabnya, dia juga membuka kelas regular di GOR Pemuda Rawamangun. Selain itu, dia mendorong sebagian muridnya yang masih berstatus pelajar untuk aktif membawa nama sekolah atau perguruan di berbagai ajang perlombaan silat.

“Awalnya nggak mudah bagi kita buat beradaptasi. Kita kan terbiasa dengan silat tradisional yang menggunakan segala macam teknik buat meraih kemenangan, tiba-tiba kita dihadapkan dengan peraturan pertandingan, misalnya nggak boleh mukul begini, nggak boleh nendang begitu, tapi lama-lama akhirnya biasa juga,” katanya.

Beberapa prestasi yang diraih Maen Tjingkrig di berbagai ajang kompetisi, antara lain kejuaraan IPSI pada tahun 2013 berhasil menyabet juara dua, di tahun 2014 masuk sepuluh besar kejuaraan silat yang diselenggaran oleh  FORMI, dan di tahun 2015 menyabet juara dua setelah dikalahkan oleh tim Malaysia dalam kejuaraan silat JKTC. Profil perguruan ini pun pernah beberapa kali diliput oleh televisi swasta. (eka)

 

 

News Feed