by

Tangisan Jagoan Neon yang Tantang Guru Tak Bisa Hilangkan Kekhawatiran Orang Tuanya

-Pendidikan-258 views

Gresik, Radar Pagi – Kasus siswa kelas IX SMP PGRI Wringinanom bernama Arigo Aris yang yang menantang gurunya berkelahi karena dilarang merokok di dalam kelas akhirnya berakhir damai. Mediasi dilakukan di Mapolsek Wringinanom, Gresik. Jagoan Neon berbadan kerempeng ini pun menangis sambil bersujud mencium kaki gurunya.

Sang guru yang terkejut langsung mengangkat tubuh siswanya tersebut. “Sudah-sudah jangan bersujud. Saya maafkan,” katanya.

Aris kemudian membacakan surat pernyataan. Dia mengaku siap diproses hukum jika mengulangi perbuatan melawan guru. Aris yang dalam video berlagak sok jago ternyata seketika hilang kejantanannya ketika dikelilingi aparat kepolisian.

“Saya meminta maaf dan merasa bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi. Dengan penuh kesadaran saya membuat surat pernyataan bersama ini. Dan Demi Allah saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan ini,” ujar Aris didampingi orang tuanya, Slamet Arianto dan Anik. 

Polisi mengaku kasus ini diselesaikan secara damai atas permintaan Nurkhalim (30). Guru penyabar yang bernasib malang karena dikurangajari murid itulah yang meminta polisi untuk melakukan mediasi. Tujuannya agar Aris tak perlu dikenai proses hukum.

Mediasi tersebut juga dihadiri pihak dari Perlindungan Perempuan Anak Jatim, pegawai Kementerian Sosial, Yayasan PGRI

“Siang tadi kami kumpulkan semua pihak, dinas terkait, dan institusi terkait. Ada kepala sekolah dan yayasan, serta tokoh masyarakat menyaksikan proses mediasi tadi jam 14.00 siang. Alhamdulillah mereka sepakat berdamai dengan dibuat surat pernyataan bersama,” kata Kapolsek Wringinanom, AKP Supiyan,” Minggu (10/2/2019) kemarin.

 AKP Supiyan mengungkapkan Aris berani melakukan persekusi terhadap Nurkhalim karena pengaruh teman-temannya.

“Alasannya itu karena pengaruh ‘dikomporin’ temen-temannya. Alasannya itu saja,” kata Supiyan, Minggu (10/2).

Dia membenarkan Aris sedang merokok dalam kelas saat ditegur oleh gurunya tersebut.

“Merokok, bener di dalam kelas,” tegas dia.

Meski sudah berdamai, orang tua siswa Aris mengaku masih takut akan masa depan anaknya. Mereka takut anaknya akan diperlakukan berbeda di sekolah.

“Setelah proses perdamaian ini selesai, apakah anak saya masih bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya,” kata Slamet.

Sementara Nur Khalim mengaku tidak mau membalasa perlakuan kasar muridnya, meski saat dikurangajari dia sempat merasa emosi.

“Sebenarnya saya mulai marah merasa dilecehkan, tapi saya redam. Kalau saya memukul anak itu, perilaku itu sangat tidak terpuji dan bukan cara terbaik untuk mendidik,” ujarnya.

Nur Kalim diketahui sudah mengajar lima tahun di SMP PGRI. Guru bidang studi IPS ini hanya digaji Rp 450.000 setiap bulannya.

Untuk memenuhi kebutuhannya, Nur Kalis menambah penghasilan dengan mengajar di sebuah bimbingan belajar.

Banyak netizen menyayangkan keputusan damai ini. Mereka berharap di masa depan siswa kurang ajar seperti Aris bisa diberi sanksi lebih tegas berupa pemecatan atau bahkan tindakan pidana. Sebab, kasus serupa sudah terlalu sering terjadi.

Para pelajar berani berbuat kurang ajar karena merasa dilindungi oleh instansi yang bertugas melindungi anak. Mereka tahu tidak akan dituntut secara hukum karena masih di bawah umur. Seenaknya mereka berbuat onar dan tinggal minta maaf lalu masalah pun selesai.(gunawan)

 

 

 

News Feed