by

Terdakwa Korupsi Mengamuk Saat Divonis 5 Tahun

-Jawa-3 views

 

Bandung, Radar Pagi – Nely Apriani, staf PT MCS langsung berteriak histeris dan tidak terima dengan putusan vonis 5 tahun yang dibacakan di Pengadilan Tipikor Bandung, di Jalan RE Martadinata, Rabu (9/1/2019) sore.

“Ini peradilan sesat, hakim dan jaksa tahu itu. Saya minta KPK turun tangan usut itu hakim dan jaksa,” kata Nelly, dilansir tribunnews.

Aksi berontak Nelly mengundang perhatian pengunjung pengadilan. Bahkan sidang kasus Kalapas Sukamiskin Wahid Husen dengan saksi Dirjen Pas Sri Puguh Budi Utami yang digelar di ruangan lain sempat terhenti karena teriakan Nelly terdengar sampai ke ruang tersebut.

Sebelumnya, Ketua Majelis Hakim Dahmiwirda menyatakan Nelly bersalah melakukan tindak pidana korupsi, dalam pemberian kredit dari Bank BTN pada PT MCS yang merugikan keuangan negara Rp 6,5 miliar.

Selain dipidana 5 tahun penjara, Nelly juga diganjar denda Rp 300 juta subsidair 3 bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 4,2 miliar. Jika tidak uang ganti rugi tidak dibayar, maka diganti dengan hukuman 1 tahun penjara.

Sebenarnya vonis 5 tahun ini lebih ringan dibanding tuntutan jaksa yakni tujuh tahun. Namun Nelly tetap tidak terima dengan putusan tersebut, sebab menurutnya dia tidak bertanggung jawab atas macetnya kredit karena ada pimpinan PT MCS yang seharusnya bertanggung jawab.

“Kasus yang dituduhkan ke saya merupakan rekayasa. Dari awal saya dipaksa untuk mengaku menerima suap agar bisa dihukum rendah. Saya ditawarkan hukuman setahun oleh jaksa. Tapi saya tidak mau, saya berharap keadilan,” katanya.

Penasihat hukum Nelly, Muhammad Rudi menilai kliennya seharusnya bebas. Pasalnya, kliennya tidak pernah menandatangani kontrak kredit antara PT MCS dan BTN Cikarang.

“Tapi ini malah dihukum berat. Betul-betul ini peradilan yang sesat. Bagaimana orang yang tidak ada kaitannya dihukum berat,” ujar Rudi.

Selama persidangan berlangsung, semua saksi mengatakan bahwa Nelly tidak pernah menandatangani perjanjian kredit.

“Justru direktur utamanya yang langsung berhubungan dan menandatangani akta kredit justru berkeliaran, bebas dari jeratan hukum,” kata dia.

“Peran klien kami hanya ngambil pencairan, tapi malah dituduh macam-macam. Klien saya ini cuma pegawai biasa, tapi justru malah dijadikan pelaku utama. Kami yakin di belakangnya ada masalah lebih besar. Banyak kredit macet di sana,” katanya.

Atas putusan ini, pihaknya akan mengajukan banding.

“Kami akan banding sampai kasasi,” ujar dia.

Terdakwa lainnya, Iriana Unteani selaku Kepala Cabang BTN Cikarang dan Budi Winata dari Bank BTN, juga divonis bersalah dan dipidana 5 tahun penjara. (tns/jar)

 

 

News Feed