by

300 Mahasiswa Indonesia Kerja Paksa di Taiwan, Kemenaker Selidiki Keterlibatan Agen Tenaga Kerja

-Ekonomi-27 views

 

Jakarta, Radar Pagi – 300 mahasiswa Indonesia dipaksa bekerja sebagai buruh pengemasan lensa kontak di Taiwan. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) bersama sejumlah instansi terkait pun menindaklanjuti keterlibatan agen penyalur tenaga kerja domestik dalam kasus ini.

“Apakah ada keterlibatan agen dari Indonesia, itu yang sedang kami cek,” kata Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Cevest Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/1/2019).

Dia mengaku sudah mengecek langsung kebenaran kabar tersebut dari Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan.

Menurut Hanif, ada pihak yang sengaja memanfaatkan kerja sama antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) dan sejumlah Universitas di Taiwan dalam kemunculan kasus tersebut.

Hanif berpendapat kasus kerja paksa 300 mahasiswa Indonesia di Taiwan ini sebagai murni sebagai kasus penipuan.

“Kasus ini harus dipidanakan. Ada pihak tertentu yang sengaja manfaatkan kerja sama itu di luar prosedur. Yang terlibat harus ditindak,” katanya.

Saat ini Hanif mengaku akan berkoordinasi terlebih dahulu bersama instansi terkait untuk masalah pemulangan mahasiswa.

“Apakah mahasiswa yang menjadi korban ini akan dipulangkan atau tidak, akan ditelusuri dahulu,” katanya.

Sebelumnya media lokal Taiwan membritakan ada 300 mahasiswa Indonesia yang dipaksa kerja selama 40 jam sepekan di salah satu pabrik lensa kontak di negara itu. Akibat dari laporan ini, perekrutan dan pengiriman mahasiswa skema kuliah-magang ke Taiwan dihentikan sementara.

Sedikitnya, menurut laporan Taiwan News, ada enam universitas Taiwan yang mengirimkan mahasiswa asingnya, termasuk dari Indonesia, untuk bekerja di pabrik pengemasan lensa kontak tersebut.  Terbanyak berasal dari Universitas Hsing Wu.

Politikus Taiwan Ko Chih-en merasa prihatin dengan kejadian ini. Dari hasil penelusurannya diketahui para mahasiswa korban kerja paksa itu hanya dibolehkan mengikuti kelas perkuliahan dua hari dalam sepekan dan hanya satu hari libur.

“Sedangkan empat hari lainnya digunakan untuk bekerja di pabrik pengemasan dalam satu shift kerja selama 10 jam sehari,” katanya.

Dengan kata lain, mereka lebih banyak bekerja ketimbang menuntut ilmu. Praktek ini sebenarnya sudah terendus oleh pemerintah Taiwan. Kementerian Pendidikan di Taiwan bahkan sudah melarang program magang mahasiswa tahun pertama yang disalahgunakan itu. 

Presiden universitas yang mengirim mahasiswa kerja paksa ini juga telah dipanggil oleh Pemerintah Taiwan pada tahun lalu. Pihak universitas telah diingatkan untuk tidak melanggar hukum.Namun pihak kampus ternyata mengakalinya dengan membuat para mahasiswa bekerja dalam grup.

Mirisnya, para mahasiswa Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam ini tidak diberikan makanan yang layak. Mereka menerima makanan mengandung babi selama di pabrik.

“Meski kebanyakan dari para pelajar Indonesia adalah Muslim, yang mengagetkan mereka mendapat makanan yang mengandung babi,” kata Ko.Chih-en.

Dia meminta kepolisian setempat untuk mengusut tuntas kasus kerja paksa ini.(zal)

 

 

 

 

 

News Feed