Ngeri! Begini Kisah Asli KKB Bantai Pekerja di Nduga

 

Jakarta, Radar Pagi – Ngeri! Sepenggal kata itu cocok menggambarkan perasaan para korban pembantaian di Kabupaten Nduga pada Sabtu (1/12/2018) kemarin. Bila anda pernah melihat film-film dimana korban diarak dengan tangan terikat diiringi nyanyian, teriakan, serta tarian dari para pelaku penangkapannya, begitulah kira-kira yang terjadi pada kisah pembantaian di Papua ini.

Jimmy Aritonang, karyawan PT Istaka Karya, salah seorang korban selamat dari aksi penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang diduga dipimpin Egianus Kogoy, mengisahkan detik-detik terjadinya pembantaian.

Sebagaimana dituturkan Jimmy, Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi mengungkapkan pada hari terjadinya pembantaian, semua karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja karena pada 1 Desember itu merupakan Hari Kemerdekaan KKB. 

Kisah Jimmy sekaligus mengkoreksi berita-berita sebelumnya bahwa pembantaian berawal pada hari Minggu (2/12/2018). Para karyawan PT Istaka memang ditembaki pada hari Minggu, namun awal kejadian terjadi sehari sebelumnya, yaitu di hari Sabtu. Dengan demikian, KKB tidak langsung menembaki mereka seperti dugaan semula, melainkan sempat menahan para korban terlebih dulu.

“Pada tanggal 1 Desember 2018 seluruh karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja karena pada hari itu ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKSB (Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata) dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat,” kata Kolonel Inf Muhammad Aidi, Rabu (5/12/2018).

Setelah itu, KKSB tiba-tiba mendatangi tempat kemah atau kamp karyawan PT Istaka dan memaksa para pekerja keluar menuju Kali Karunggame. Saat berjalan keluar, para pekerja diikat tangannya dengan dikawal anggota KKSB yang memakai senjata.

“Sekitar pukul 15.00 WIT, kelompok KKSB mendatangi Kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan, yang berjumlah 25 orang, keluar. Selanjutnya digiring menuju Kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dikawal sekitar 50 orang KKSB bersenjata campuran standar militer,” tutur Aidi menyampaikan cerita Jimmy.

Pada Minggu (2/12/2018), semua pekerja diminta berbaris berjalan jongkok dengan tangan terikat menuju bukit puncak Kabo. Di tengah perjalanan, mereka ditembaki anggota KKSB yang menari-nari sambil berteriak dengan suara hutan khas pendalaman Papua. Namun ada beberapa karyawan yang pura-pura meninggal.

“Tidak lama kemudian, para anggota KKSB dengan kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua, mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat. Sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah,” jelas dia.

Sebelas karyawan yang pura-pura meninggal disebut meninggalkan lokasi setelah KKSB melanjutkan perjalanannya ke Puncak Kabo. Saat karyawan melarikan diri, ada anggota KKSB yang melihat dan langsung menembaki mereka, termasuk Jimmy. 

“Setelah itu, KKSB meninggalkan para korban dan melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo. Sebelas orang karyawan yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri. Namun malangnya aksi mereka terlihat oleh anggota KKSB sehingga mereka dikejar. Lima orang tertangkap dan digorok oleh KKSB (meninggal di tempat), 6 orang berhasil melarikan diri ke arah Mbua, 2 orang di antaranya belum ditemukan, sedangkan 4 orang (di antaranya saksi Jimmy Aritonang) selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua,” tutur dia.

Menurut Aidi, berdasarkan kesaksian Jimmy korban meninggal dunia ada 19 orang pekerja. “Menurut keterangan saudara JA (Jimmy Aritonang) jumlah korban yang dipastikan meninggal dunia dibantai oleh KKSB di lereng bukit puncak Kabo adalah 19 orang,” kata Aidi.

Aldi menambahkan, Satgas gabungan TNI-Polri sudah berhasil menguasai Mbua dan melaksanakan evakuasi korban. (dtc/jar)

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below