by

Habibie Bantah Ada Masalah dengan Keluarga Soeharto

-Historia-125 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Mantan Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie menegaskan dirinya tidak punya masalah dengan Soeharto maupun keluarganya, pasca mundurnya Soeharto dari jabatan presiden, 21 Mei 1998.

“Saya tidak ada masalah dengan Pak Harto dan seluruh keluarganya,” ujar Habibie usai menghadiri diskusi Refleksi 20 Tahun Kebangsaan, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Menurut Habibie, dia tidak pernah berniat ingin jadi presiden, cita-citanya bahkan hanya ingin jadi Guru Besar konstruksi pesawat terbang. Dirinya bahkan berencana pensiun sebagai menteri pada tahun 1997.

Setelah pemilu 1997, Habibie pernah meminta kepada Soeharto agar tak ditunjuk lagi menjadi menteri atau anggota kabinet.  Namun Soeharto tak mengiyakan atau menolak permintaan tersebut. “Nanti kita lihat perkembangannya,” kata Soeharto kala itu.

“Saya kira saya sudah bebas. Saya berencana ke Jerman, mau menulis buku, ternyata saya jadi wapres. Baru dua bulan menjabat, presiden lengser,” ujar Habibie.

Pada saat yang sama, Habibie juga memegang beragam jabatan lain, termasuk orang nomor satu di Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT). “Saya permisi (kepada Soeharto), sudah 20 tahun jadi menteri dan lima tahun jadi penasehat,” kata dia.

Meski mengaku tidak ada masalah dengan Soeharto, namun Habibie dan Soeharto memang tidak pernah bertemu  lagi pasca penyerahan jabatan presiden 21 Mei 2018. Dalam bukunya Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, Habibie juga mengakui tentang penolakan Soeharto ketika dia ingin bertemu sesaat setelah dilantik sebagai presiden RI.

“Saya pribadi tidak ada masalah dengan Pak Harto dan seluruh keluarganya karena kita orang berbudaya. Jadi, itu juga bukan ajaran agama apapun, mengajarkan bahwa kamu harus bunuh orang, lawan orang, dendam,” katanya.

Menurut Habibie dalam buku tersebut, sebelum Soeharto menyatakan mundur, dia dan Soeharto sempat berdiskusi untuk membentuk Kabinet Reformasi. Ketika itu sempat terjadi diskusi alot terkait nama-nama dalam Kabinet Reformasi.

Selain itu, kata Habibie, Soeharto juga tak menyinggung mengenai posisi Wakil Presiden setelah dirinya mundur, hingga Habibie memberanikan diri bertanya, “Pak Harto, posisi saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?” ucap Habibie.

“Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan melanjutkan tugas sebagai Presiden,” jawab Soeharto.

Habibie pun merasa suasana pembicaraan kala itu mulai tak mengenakkan.

Sebelum dilantik, Habibie mengunjungi Soeharto di kediamannya di Cendana. Namun, permintaan bertemu itu ditolak mentah-mentah.Saat ulang tahun Soeharto ke-77, tepatnya 8 Juni 1998, Habibie datang dengan membawa bunga dan kartu ucapan selamat, tapi lagi-lagi ditolak Soeharto.

Selain tidak bisa bertemu, Habibie juga kesusahan berbicara melalui telepon dengan penguasa 32 tahun Orde Baru itu. 

Habibie dan Ainun pernah hendak menengok Soeharto saat dirawat di RS Pusat Pertamina pada 15 Januari 2008. Dia langsung terbang ke Jakarta dari Jerman. Namun setiba di RS Pusat Pertamina, Habibie tetap ditolak.

Sementara saat Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008, Habibie memang tidak sempat melayat karena berada di Amerika Serikat.

Namun ada cerita lain di balik ‘penyerahan kekuasaan’ dari Soeharto ke Habibie. Dikabarkan Soeharto sebenarnya ragu bila Habibie bisa menggantikan posisi dirinya. Di mata Soeharto, Habibie saat itu belum terlalu ‘kuat’ untuk memimpin Indonesia. Mendengar keraguan Pak Harto ini, konon Habibie sangat tersinggung.

Pada Rabu malam, 20 Mei 1998, Habibie membawa surat pengunduran diri para anggota Kabinet Pembangunan VII. Hal ini bisa diartikan bahwa Habibie seperti halnya para menteri dalam kabinet tersebut, ‘meminta’ pengunduran diri Soeharto. Hubungan keduanya dikabarkan retak sejak saat itu. (mustika)

 

News Feed