by

Puisi-Puisi Muhammad Rain

-Puisi-50 views

 

Aku Dilahirkan untuk Ada

daun jatuh

lembaran waktu menguningi sepi

layu dan merungui apa saja

termasuk mata air

termasuk celah lubuk sungai

yang memuara ke dasar jiwa

 

bunga mekar

lentik bagai mata belia

dera hujan tak halau ia

sebagai pilihan yang direbuti kumbang

mencapai jiwa yang mekar

setelah diumbangi deru keluh badai

namun sebentar 

 

aku lahir untuk ada

bagi dunia

bagi jemari yang mengasuh jiwa

memerdekakan segala tanda

untuk kalian baca

 

kaulah mata

akulah kata

 

sebelum wangi wirid di kejauhan

memanggil Nisfu sa’ban

menenggelamkan rindu bagi Ramadhan 

 

akulah puasa bagimu

diam nestapa 

memerih kalbu tiada

seperti perahu

tamsilan Hamzah

bagai Mekkah

bagi Hamka

 

tetapi aku juga tiada

bagai Majnun

bagi Laila

 

aku terus ada

memakai surban

menaiki mimbar

dan sajak-sajak telah jadi ayat cinta. 

 

(Banda Aceh, 1 Mei 2018)

 

Bintang Terang

bila dalam gelap
gelap yang pengap
kutakut jadi apa
tersungkur buta

semua malam
malam yang kelam
ingin ketemukan bintang

di langit hati
hati rindukan cahaya
penerang gulita

agar cinta mekar
rindu mengakar
daun hunian jiwa

halimun datang
badai menghantam
wajah memurung taman

ada kamar di dalam jiwa
sepi berumah kata nada
lagu mencumbui udara

kalau engkau bintangku
terangilah relung bilikku
kalau engkau kasihku
dekapilah gigilku
bawa ke semesta
tanpa durjana.

 

(Aceh,  4 Maret 2018)

 

Kami Telah Tiba

kami telah tiba pada puncak kejayaan

daun-daun berterbangan 

terpinggirkan

menepi

memana

 

lantang pada puncak

sang orok pidato

: kami sudah puas

di puncak tak ada lagi 

siapapun

menyaksi

 

hanya ranting menyaksi

dua tupai berlomba sampai

ke ujung batuk mereka

 

orang-orang yang dituakan

lalu perlahan mestilah terlunta

turun tahta

ujar musang

 

dan musang 

dan tupai

saling sangsai

meributi

berita pagi ini

: 58 ruko di Utara

jadi abu

hanya akibat konslet akal

 

dan akal

dan listrik

saling memaki

dari media-media antekkan

terbaca juga

: gempa enam skala

ah itu biasa

bumi terbatuk

belum murka

 

dan wajah kamilah

paling sumringah

telah membawahi negeri pertiwi

menghindar bala yang lebih besar

dari alam, yakni fitnah.

 

(Aceh, 29 Januari 2018)

 

Karena Kini Begitu Asing

buah merah yang kita cari

kini telah jadi ungu

luntur

 

namun tetap saja

didapati rasa yang sama

yakni kehilangan

ketika tiada lagi didapat

yang diimpikan 

 

saat pagi menjelma rona

waktu meramu ranum manisnya

bercampur harum wangi harapan

 

seluruh kabut menjauh

ditiupi angin peristiwa

daun sangka menghijau

kini pun menguning

keruh dan lekang 

oleng oleh udara 

panas paling cahaya

 

gambar dalam goresan Rusli Juned

atau sketsa dari tumpahan Kopi Zul MS

tak jugakah bisa isyaratkan pada kita

terhadap yang paling lantas dan tegas

gariskah?

warnakah?

lebih abadi

 

irama Moritza

denting atau pukulan Apa Kaoy

atas gedumbangnya?

atau yang mana

paling memagma di dalam jiwa

 

adakah yang meledak dari suara Rafly

dari syair lirik Ayah Panton

jugakah tikaman Nazar Debus

atau siapakah lagi berharap ombak menepis 

sejarah yang dikuak Mapesa

daun-daun ikut luruh menyaksikan

sajak-sajak terus dibaca sepanjang tahun 2015

dalam Kota Puisi

di dalam hati

orang-orang Tanoh Seurambi.

 

Aceh, 27 Januari 2018

 

Duduk Menunggu

inilah kematian

bergambar mata elang

pada kamar waktu

duka seluruh akan jatuh

dari air langit yang tajam

menghiris tebing curam

 

kemudian ada lagi carakah

menghindar berpangkukan lengan?

 

dia yang menunggu unggun api

mati menjadikan malam 

kian kelam.

 

Banda Aceh, 1 Oktober 2016

 

Muhammad Rain adalah penulis sastra dan pengajar bahasa dan sastra Indonesia, sekaligus pegiat seni budaya. Peneliti sastra, penggerak baca puisi “Kota Puisi Aceh” bersama Thayeb Loh Angen. Kerap menjadi pembicara sastra di kalangan guru Bahasa dan Sastra Indonesia propinsi Aceh, juri sastra dan promotor berbagai aktivitas kesenian dan kesastraan Indonesia di wilayahnya.

Karya-karyanya berupa puisi dan beragam jenis tulisan lainnya tersiar dalam berbagai media, baik cetak maupun online. Selain itu karyanya juga terhimpun antologi bersama penyair Aceh, nasional, maupun internasional, antara lain Antologi Puisi Mbeling Indonesia; Suara-Suara Yang Terpinggirkan (2012), Antologi Puisi Empat Negara; Lentera Sastra (2013),  Antologi Puisi Pasie Karam (2016).

 

News Feed