by

Brécourt Manor, Pertempuran Pertama Kompi E yang Melegenda

-Historia-104 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Pada 6 Juni 1944, pasukan sekutu memulai invasi besar-besaran di Normandia, Perancis, melalui jalur laut dan udara. Operasi militer yang punya nama resmi Operasi Overlord namun belakangan dikenal luas dengan sebutan D-Day ini memiliki arti sangat strategis karena menjadi pintu masuk bagi sekutu untuk mencapai Jerman melalui Perancis.

Invasi Normandia dimulai dengan pendaratan pasukan lintas udara (parasut)  dan  glider (pesawat ringan tanpa mesin) pada dini hari, kemudian disusul dengan serangan udara dan  artileri laut, serta pendaratan amfibi pada pagi harinya.

Sekitar 1.452.000 tentara sekutu dari Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara persemakmuran, Kanada, Perancis, Polandia, Belanda, Cekoslowakia, Norwegia, Belgia, dan Yunani, diterjunkan dalam operasi militer ini. Nantinya mereka harus menghadapi 380 ribu tentara Jerman.

Meski unggul dalam jumlah, bukan berarti pasukan sekutu dapat mudah melenggang masuk ke Perancis, sebab tentara Jerman menempati posisi strategis dengan persenjataan berat. Di Pantai Omaha yang dijaga Divisi Infanteri ke-352 Jerman misalnya, tempat pasukan sekutu mendarat, ribuan tentara Amerika tewas ditembaki senapan mesin di jam-jam pertama serangan. Sekutu baru berhasil menguasai pantai ini, setelah pasukan Jerman kabur karena kehabisan amunisi.

Serangan dari jalur udara juga menemui hambatan serius karena tentara Jerman menembaki pesawat-pesawat yang akan menerjukan pasukan parasut. Banyak di antara pasukan tersebut yang tewas, bahkan sebelum kaki mereka sempat menginjak tanah.

Pada saat pendaratan, para penerjun payung tersesat dan tidak dapat berkumpul dengan baik. Setelah 24 jam, hanya 2.500 dari 6.000 anggota Divisi Lintas Udara ke-101 yang dapat bergabung kembali dengan unitnya masing-masing. Pasukan sekutu yang tersebar dan tercampur dalam unit-unit kecil akhirnya bertempur di hari-hari pertama pendaratan dengan gaya gerilya. Mereka menyusuri jalan-jalan Normandia dan melakukan pertempuran sporadis dengan musuh yang ditemui di sepanjang jalan.

Salah satu unit tempur yang berpartisipasi dalam Invasi Normandia adalah Kompi E (Easy Company). Kompi E merupakan bagian dari Batalyon ke-2, Resimen 506 Pasukan Infanteri Parasut, Divisi Lintas Udara ke-101.

Divisi Lintas Udara ke-101 dan Divisi Lintas Udara ke-82 Amerika Serikat, bertugas merebut posisi-posisi kunci, mengamankan bagian samping barat pendaratan laut untuk melancarkan pergerakan pasukan yang masuk dari pantai. Sementara tugas mengamankan samping timur dibebankan kepada pasukan Divisi Lintas Udara ke-6 Britania Raya.

Khusus Kompi E, tugasnya adalah mengamankan Jalur 2 yang terhubung ke Pantai Utah. Namun karena tercerai berai, tugas tersebut relatif tidak dapat dijalankan dengan baik. Pada fajar hingga pagi hari pada tanggal 6 Juni 1944 itu, Letnan Satu Richard Winters mencoba untuk mengumpulkan pasukannya dari Kompi E yang tersebar akibat salah mendarat, Setelah berjam-jam, dia hanya bertemu dengan 13 anggota kompinya, ditambah 9 orang dari Kompi D (Dog Company), 1 orang dari Kompi A (Able Company),  dan 1 dari Kompi F (Fox Company).  

Saat berada di Le Grand-Chemin, Letnan Winters bertemu dengan Letnan Nixon dari bagian intelijen yang bercerita bahwa mereka menemukan empat buah meriam berkaliber 105 mm di sebuah lapangan terbuka yang berhadapan dengan sebuah rumah pertanian Perancis bernama Brecourt Manor.

Pasukan intel tidak dapat melihat jelas meriam itu karena tersembunyi di dalam pagar tanaman. Namun diketahui terdapat sebuah peleton infantri parasut yang terdiri dari sekitar 50-60 tentara yang mempertahankan posisi meriam-meriam yang diarahkan ke Pantai Utah tersebut. Perintah kepada Winters adalah untuk melumpuhkan pasukan meriam itu.

Sekitar pukul 08.30 pagi itu, Winters kemudian memerintahkan ke-13 anak buahnya dari Kompi E dan beberapa orang dari kompi lain, untuk menjatuhkan semua peralatan yang mereka bawa selain senjata, amunisi, dan granat. Hal itu dimaksudkan agar pasukan dapat bergerak cepat menuju lokasi.

Setelah sampai di lokasi meriam, Winters menempatkan senapan mesinnya (dilakukan oleh Prajurit John Plesha dan Prajurit Walter Hendrix) menghadap ke satu meriam, dan senapan mesinnya yang kedua (Prajurit Cleveland Petty dan Prajurit Joe Liebgott) menghadap ke meriam lainnya. Lalu di sepanjang pagar tanaman yang mengarah ke sasaran itu, Winters dengan perintah tiarap menyuruh untuk melakukan tembakan.

Winters kemudian memerintahkan Letnan Compton untuk membawa Sersan Guarnere dan Sersan Malarkey untuk melakukan manuver flank (memutar) ke arah kiri, merangkak dengan diam-diam melalui lapangan terbuka, mendekat sedekat mungkin dengan lokasi meriam pertama, lalu melemparkan granat ke dalam parit berisi meriam pertama.

Winters juga mengirim Sersan Carwood Lipton dan Prajurit Miron N. Ranney untuk keluar di sepanjang pagar tanaman itu, di sepanjang sekumpulan pohon kayu, dengan perintah menembaki sisi kanan posisi pasukan Jerman. Winters sendiri memimpin terobosan langsung di depan di sepanjang pagar tanaman bersama dengannya Prajurit Gerald Loraine, Prajurit Popeye Wynn dan Kopral Joe Toye. 

Serangan yang dilakukan Winters terdiri dari tiga arah, yaitu depan, kiri, dan kanan. Strateginya dengan memadukan senapan mesin sebagai perlindungan. Lalu pasukan yang berusaha merebut meriam harus melemparkan granat terlebih dulu, sebelum menembaki musuh dengan senapan yang mereka bawa.

Pertempuran di Brécourt Manor berlangsung sekitar 3 jam. Lamanya pertempuran disebabkan posisi pasukan Jerman terlindungi dengan baik dalam saluran parit yang mereka buat. Dalam pertempuran tersebut, 4 meriam Jerman berhasil dihancurkan dan 12 tentara Jerman yang masih hidup dijadikan tawanan. Selain itu, Winters menemukan sebuah tas berisi peta posisi meriam-meriam Jerman di seluruh Semenanjung Contentin, Normandia.

Pada pukul 11.30, Winters memerintahkan anak buahnya untuk mundur teratur. Pertama, Jerman telah mengirimkan pasukan bantuan ke Brécourt Manor. Kedua, dengan hancurnya meriam Jerman di sana, tak ada lagi gunanya mempertahankan tempat tersebut.

Dari pihak sekutu, 4 orang tewas dan 2 luka-luka. Korban tewas termasuk Sersan Mayor Andrew Hill yang sebenarnya tidak terlibat dalam serangan di Brécourt Manor. Hill, dari kesatuan markas besar Resimen Parasut Infanteri 506 sedang mencari-cari lokasi markasnya yang baru saja didirikan dalam bentuk tenda di Normandia. Ketika lewat di Brécourt Manor, dia melihat sepasukan Amerika sedang berperang dengan Jerman. Hill mengendap-endap mendekati posisi tentara Amerika, dan tiba-tiba mucul di belakang Sersan Carwood Lipton dan Prajurit Myron N. Ranney.

Hill bertanya kepada mereka, “Di mana markas besar Resimen?” Lipton langsung menjawabnya, “Di belakang sana!”  Entah bagaimana, di tengah hujan peluru, Hill menjadi lengah. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah yang ditunjukkan Lipton. Sebuah peluru tepat mengenai keningnya dan tembus keluar dari belakang telinga. Andrew Hill tewas seketika.

Meski serangan di Brécourt Manor tidak sepenuhnya dilakukan anggota Kompi E, karena tercampur dengan kompi-kompi lain dari Resimen 506 Divisi Lintas Udara ke-101, namun Kompi E yang mendapat nama harum dari peristiwa ini. Selain mereka mendominasi jumlah pasukan, kepemimpinan Letnan Satu Richard Winters dari Kompi E juga menuai pujian.

Taktik yang diterapkan Winters di Brécourt Manor baru pertama kali dilakukan dalam sejarah militer Amerika. Taktik tersebut kemudian dipelajari di Akademi Militer Amerika (West Point) dan hingga kini masih dijadikan pedoman bila ingin melumpuhkan pos-pos artileri musuh.

Atas aksinya di Brécourt Manor, Winters kemudian mendapatkan penghargaan Distinguished Service Cross, sebuah penghargaan tertinggi kedua setelah Medal of Honor. 

Komandan Resimen 506, Kolonel Robert Sink, sebenarnya merekomendasikan Winters untuk mendapatkan Medal of Honor, namun penghargaan tersebut terlanjur diberikan kepada Komandan Batalyon ke-3 Resimen 506, Letnan Kolonel Robert G. Cole. Saat itu, ada kebijakan dari militer Amerika bahwa penerima Medal of Honor dibatasi hanya 1 orang dari 1 divisi.

Ironisnya, Robert G. Cole sendiri tidak sempat menerima secara langsung penghargaan prestisius tersebut, karena perwira cemerlang itu keburu tewas dalam usia 29 tahun setelah ditembak sniper Jerman pada 19 September 1944 di Best, Belanda.(Cahyo/dari berbagai sumber)

 

News Feed